Sering Sakit Maag? Bisa Jadi Terinfeksi H. Pylori, Begini Dampaknya Bagi Lambung

Ilustrasi sakit maag
Ilustrasi sakit maag

Keluhan sakit maag yang kerap kambuh sering kali dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal, di balik gejala seperti nyeri ulu hati, mual, perut kembung, dan rasa tidak nyaman setelah makan, bisa tersembunyi infeksi bakteri Helicobacter pylori (H. pylori). 

Bakteri ini diketahui menginfeksi lebih dari setengah populasi dunia dengan tingkat prevalensi yang berbeda-beda di setiap wilayah.

H. pylori hidup dan berkoloni di mukosa lambung serta memproduksi enzim urease yang memungkinkan bakteri bertahan dalam lingkungan asam. 

Infeksi yang berlangsung lama dapat memicu berbagai gangguan, mulai dari dispepsia, gastritis, ulkus lambung, hingga komplikasi serius seperti limfoma MALT dan kanker lambung. 

Bahkan, H. pylori telah diklasifikasikan sebagai bakteri karsinogenik kelas I oleh International Agency for Research on Cancer.

Secara global, kanker lambung didiagnosis pada sekitar satu juta orang setiap tahun, dengan angka kematian mencapai 700.000 kasus. Gejalanya yang tidak spesifik pada tahap awal membuat banyak kasus terdeteksi dalam stadium lanjut. 

Pasien dengan infeksi H. pylori diketahui memiliki risiko kanker lambung sekitar 3% lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak terinfeksi. Hal ini menegaskan pentingnya deteksi dini, terutama bagi individu yang sering mengalami gangguan lambung berulang.

“Diagnosis infeksi H.pylori dapat dilakukan dengan pemeriksaan non-invasif yaitu Urea Breath Test (UBT), atau pemeriksaan invasif yaitu prosedur endoskopi dan biopsi lambung. Urea breath test (UBT) menjadi pilihan utama dari berbagai pemeriksaan non-invasif untuk mendeteksi infeksi H.pylori dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. Selain berfungsi untuk mendeteksi ada atau tidaknya infeksi H.pylori pada pasien dengan keluhan lambung, UBT juga berperan dalam mengevaluasi keberhasilan terapi eradikasi atau terjadinya kekambuhan infeksi H.pylori," jelas dr. David Reinhard Sumantri Samosir, SpPD-KGEH.

“Penelitian terbaru menunjukkan bahwa infeksi bakteri H. pylori dapat meningkatkan risiko terbentuknya polip di usus besar, termasuk jenis polip tertentu yang bisa menjadi awal kanker lambung. Deteksi dan pengobatan dini sangat penting karena bisa membantu mencegah polip usus besar pada orang dewasa," sambungnya.

Selain UBT, pemeriksaan endoskopi juga menjadi metode penting untuk mengevaluasi kondisi saluran cerna secara langsung. Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat mencegah perkembangan lesi prakanker menjadi keganasan. 

Oleh karena itu, masyarakat yang mengalami keluhan maag berkepanjangan dianjurkan untuk tidak mengabaikan gejala dan segera berkonsultasi dengan dokter guna mendapatkan pemeriksaan yang sesuai.

“Pemeriksaan endoskopi di Siloam Hospitals TB Simatupang tersedia dengan lengkap, seperti untuk saluran cerna atas (gastroskopi) dan bawah (kolonoskopi), serta prosedur khusus seperti kapsul endoskopi (tanpa bius/selang) dan nasal endoskopi”, tambah dr David.

Kesadaran akan bahaya infeksi H. pylori menjadi langkah awal dalam mencegah komplikasi serius. Dengan pemeriksaan yang tepat dan terapi eradikasi yang optimal, risiko kerusakan lambung hingga kanker dapat ditekan secara signifikan.