Angka Kematian Kanker di Jakarta Naik 33 Persen, Pasien Rawat Jalan Tembus 625 Ribu
Jumlah pasien kanker di Jakarta masih menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Data Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mencatat kunjungan pasien kanker pada layanan rawat jalan mencapai 625.022 kasus sepanjang 2025. Angka tersebut menempatkan kanker sebagai penyakit dengan jumlah kunjungan rawat jalan tertinggi ke-6 di Jakarta.
Sementara itu, pada layanan rawat inap tercatat sebanyak 109.749 kunjungan pasien kanker, menjadikannya peringkat ke-4 tertinggi di antara penyakit lainnya. Tidak hanya itu, angka kematian akibat kanker di Jakarta juga meningkat hingga 33 persen, dari 5.729 kasus pada 2024 menjadi 7.675 kasus pada 2025. Scroll untuk informasi selengkapnya, yuk!
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dr. Ratna Sari, MKM, mengatakan tingginya angka tersebut menunjukkan penanganan kanker masih menjadi tantangan besar di ibu kota.
“DKI Jakarta memiliki 109 rumah sakit, belum lagi 44 Puskesmas Utama dan ratusan klinik. Namun, ternyata penyakit kanker juga belum dapat diatasi sepenuhnya. Oleh karena itu, kita tidak hanya mengupayakan aspek kuratif, tetapi juga promotif dan preventif untuk penyakit-penyakit seperti kanker,” ujar Ratna dalam The 6th Siloam Oncology Summit 2026 di Jakarta, Sabtu 24 Mei 2026.

Meningkatnya jumlah pasien kanker membuat pendekatan penanganan yang lebih personal dan terintegrasi dinilai semakin penting. Hal ini menjadi salah satu fokus pembahasan dalam The 6th Siloam Oncology Summit 2026 yang digelar MRCCC Siloam Semanggi pada 22–24 Mei 2026.
Chief Executive Officer Siloam International Hospitals, Caroline Riady, mengatakan penanganan kanker saat ini memasuki era baru yang lebih presisi dan berpusat pada kebutuhan masing-masing pasien.
“United by Unique adalah sesuatu yang menarik dan sangat bermakna karena dalam onkologi, tidak ada dua pasien yang sama. Setiap perjalanan kanker bersifat unik, setiap biologi tumor berbeda, dan setiap pasien memiliki harapan, ketakutan, kondisi, serta kemungkinannya masing-masing,” ujar Caroline.
Menurutnya, kemajuan penanganan kanker tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan lintas institusi.
“Tidak ada dokter, institusi, bahkan negara yang dapat menyelesaikan kanker sendirian,” lanjutnya.
Dalam kesempatan yang sama, Executive Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Edy Gunawan, MARS, menyoroti perkembangan terapi kanker modern yang kini semakin mengarah pada precision oncology atau terapi berbasis karakteristik biologis masing-masing pasien.
“Perkembangan terapi kanker modern tidak hanya berfokus pada peningkatan survival pasien, tetapi juga kualitas hidup melalui pendekatan terapi yang lebih personal dan minim efek samping,” kata Edy.
Kemajuan terapi kanker juga dibarengi perkembangan diagnosis berbasis genomik. Pengujian biomarker dan mutasi genetik kini menjadi bagian penting dalam menentukan terapi yang paling tepat, terutama pada kasus kanker stadium lanjut.
Profesor dari The University of Texas MD Anderson Cancer Center, Banu Arun, menjelaskan terapi kanker payudara berkembang sangat pesat dalam tiga dekade terakhir.
“Dalam tiga dekade terakhir, terapi yang lebih presisi untuk kanker payudara berkembang sangat pesat. Diawali pada tahun 1990-an dengan ditemukannya terapi target pertama, yaitu trastuzumab untuk pasien kanker payudara dengan reseptor HER2 positif, hingga saat ini terapi target terus berkembang pesat untuk berbagai jenis kanker payudara,” jelasnya.
Selain terapi yang semakin personal, Prof. Banu juga menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin atau multidisciplinary team (MDT) dalam penanganan kanker. Pendekatan ini melibatkan kolaborasi berbagai dokter spesialis dan tenaga kesehatan untuk menyusun terapi yang komprehensif bagi pasien.
Menurutnya, pendekatan multidisiplin yang diterapkan MD Anderson Cancer Center selama lebih dari 30 tahun terbukti meningkatkan kualitas hidup pasien dan meningkatkan angka kesintasan hingga 20 persen dibandingkan data nasional.
“Saya kira semua pihak harus memiliki keberanian untuk mulai melakukan pendekatan multidisiplin dalam penanganan kanker. Ada dua hal yang dapat dilakukan. Pertama, memahami konsepnya terlebih dahulu, bahwa MDT ini berfokus utama pada pasien, bukan dokter,” pungkas Prof. Banu Arun.
Dengan tingginya angka kasus kanker di Jakarta, para tenaga kesehatan menilai penguatan deteksi dini, terapi terintegrasi, serta kolaborasi multidisiplin menjadi langkah penting untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan sekaligus kualitas hidup pasien kanker di Indonesia.