Kasus Kanker Anak Melonjak, Padahal Kuncinya di Nutrisi yang Tepat

Ilustrasi anak sakit.
Ilustrasi anak sakit.

 Peringatan Hari Kanker Anak Sedunia kembali menjadi momentum untuk menyoroti tantangan besar dalam penanganan kanker pada anak. Data dari Indonesian Pediatric Cancer Registry mencatat, sepanjang 2021–2022 terjadi lonjakan kasus baru kanker anak hingga 3.834 kasus. Angka ini mengingatkan bahwa kanker bukan hanya ancaman bagi orang dewasa, tetapi juga bagi anak-anak.

Medical General Manager PT Kalbe Farma Tbk, dr. Dedyanto Henky Saputra, M.Gizi, AIFO-K, menjelaskan bahwa penyebab kanker pada anak berbeda dengan orang dewasa. Lalu, apa penyebabnya? Scroll untuk mengetahui jawabannya, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kanker yang dialami oleh anak terjadi bukan karena apa yang mereka makan tidak sehat, walau ini bisa menjadi pencetus kanker ketika mereka dewasa, tapi penyebab utama kanker pada anak adalah perubahan genetik atau mutasi pada DNA. Kedua, bisa juga karena polutan yang dapat menjadi penyebabnya. Ketiga, pertumbuhan sel-sel abnormal yang tidak mampu dimatikan oleh tubuh, dan dapat dikatakan bahwa nutrisi merupakan terapi pondasi keberhasilan suatu terapi kanker pada anak usia dini,” ujar dr. Dedyanto, dalam keterangannya, dikutip Rabu 18 Februari 2026. 

Menurutnya, dalam konteks kanker anak, nutrisi bukan sekadar soal makan cukup. Asupan gizi yang tepat menjadi fondasi penting agar tubuh mampu menghadapi efek samping terapi seperti kemoterapi, sekaligus mempercepat proses pemulihan.

Masalahnya, banyak anak yang menjalani terapi kanker mengalami gangguan makan. Mual, muntah, hingga sariawan kerap membuat nafsu makan menurun drastis. Jika kondisi ini tidak ditangani, anak berisiko mengalami malnutrisi.

“Malnutrisi adalah gejala awal dimulainya kondisi anoreksia, yang artinya hilangnya nafsu makan. Jika kebutuhan nutrisi tubuh yang tidak tercukupi tidak ditangani, kondisi yang tadinya malnutrisi dalam stadium ringan akan berubah menjadi kondisi yang berat, yaitu cachexia,” jelas dr. Dedyanto.

Cachexia tidak hanya ditandai dengan penurunan berat badan, tetapi juga hilangnya massa otot secara progresif yang disertai gangguan metabolik. Dalam tahap lanjut, kondisi ini dapat berkembang menjadi sarcopenia, yakni penurunan massa dan kekuatan otot yang semakin memperburuk daya tahan tubuh anak.

Karena itu, deteksi dini risiko malnutrisi menjadi bagian penting dalam tata laksana kanker anak. Pendampingan tidak hanya melibatkan dokter, tetapi juga ahli gizi yang berperan menyusun strategi pemenuhan nutrisi sesuai kondisi klinis masing-masing pasien.

Strategi yang dianjurkan biasanya berupa pemberian makanan dalam porsi kecil namun padat gizi. Namun dalam beberapa kasus, kebutuhan energi dan protein sulit terpenuhi hanya dari makanan biasa, terutama saat efek samping terapi sedang berat.

Brand Owner Nutrican, Yulius Denis Chrismaaji, mengatakan bahwa tantangan inilah yang mendorong pengembangan produk nutrisi khusus bagi pasien kanker anak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Umumnya, kebutuhan nutrisi anak tidak terpenuhi bukan karena kemauan anak, tetapi karena anak memang kesulitan makan selama menjalani terapi. Misalnya muncul sariawan, mual, atau muntah yang membuat anak tidak nyaman untuk makan,” ujarnya.

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa suplemen bukanlah pengganti terapi utama kanker. Nutrisi tetap menjadi bagian dari pendekatan komprehensif yang meliputi pengobatan medis, dukungan psikologis, serta keterlibatan keluarga.