Makanan Populer di Kalangan Masyarakat Ini Ternyata Berpotensi Sebabkan Kematian Dini

Ilustrasi Makan
Ilustrasi Makan

Makanan yang banyak mengandung pengawet, seperti makanan siap saji dan keripik, sudah lama dianggap berisiko bagi kesehatan. Banyak penelitian menunjukkan hubungan antara makanan ini dengan berbagai penyakit. Para ahli bahkan menyarankan agar makanan ultra-proses (UPF), yaitu makanan yang bahan buatannya lebih banyak daripada bahan alami, dikurangi dalam pola makan sehari-hari.

Dalam penelitian besar terbaru, ilmuwan Italia menemukan bahwa orang yang sering mengonsumsi UPF berisiko meninggal lebih dini dibanding mereka yang paling sedikit mengonsumsinya. Para peneliti belum bisa memastikan secara pasti penyebabnya, tapi diduga beberapa zat pengawet dan bahan buatan dalam UPF bisa mengganggu kesehatan usus. Gangguan ini mungkin memengaruhi sistem kekebalan tubuh dalam melawan penyakit.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Proses pengolahan industri makanan bisa mengganggu metabolisme, merusak mikrobiota usus, dan memicu peradangan. Jadi, meskipun kalori dan kandungan nutrisinya mirip dengan makanan alami, dampak makanan ultra-proses terhadap tubuh bisa lebih berbahaya,” kata peneliti epidemiologi di IRCCS Mediterranean Neurological Institute, Dr. Marialaura Bonaccio dikutip dari laman The Sun, Jumat 6 Februari 2026.

Ia menambahkan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peradangan yang meningkat dan detak jantung istirahat yang lebih tinggi bisa menjadi salah satu alasan mengapa konsumsi UPF yang lebih banyak terkait dengan risiko kematian lebih tinggi.

”Temuan ini juga membantu menjelaskan bagaimana proses pengolahan makanan dapat memengaruhi kesehatan, terutama bagi penyintas kanker,” kata dia.

Sebagai informasi, penelitian ini melibatkan 24.325 orang berusia 35 tahun ke atas, termasuk 802 penyintas kanker yang mengisi kuesioner tentang pola makan mereka. Para peneliti menghitung konsumsi UPF berdasarkan berat makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari, serta jumlah kalorinya. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok sesuai seberapa banyak mereka mengonsumsi UPF. Faktor lain seperti merokok, indeks massa tubuh, olahraga, dan jenis kanker juga diperhitungkan.

Selama hampir 15 tahun, tercatat 281 kematian di antara 802 penyintas kanker. Mereka yang berada di sepertiga atas konsumsi UPF memiliki risiko kematian 48 persen lebih tinggi dari semua penyebab dan 59 persen lebih tinggi akibat kanker dibanding mereka yang berada di sepertiga bawah.

Beberapa kelompok UPF, seperti minuman manis, pemanis buatan, daging olahan, camilan asin, dan makanan gurih, juga dianalisis. Hasilnya menunjukkan bahwa beberapa jenis UPF lebih berisiko, sementara yang lain tidak terlalu berpengaruh.

“Yang penting bukan hanya satu jenis makanan, tetapi jumlah konsumsi UPF secara keseluruhan. Kurangi makanan ultra-proses dan perbanyak makanan segar, minimal diproses, atau masakan rumahan. Cara mudahnya: periksa label. Makanan dengan lebih dari lima bahan, atau bahkan satu bahan tambahan, kemungkinan termasuk UPF,” Dr. Bonaccio menekankan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

UPF mencakup makanan yang dibuat dengan pewarna, pemanis, dan pengawet untuk memperpanjang umur simpan, seperti makanan siap saji, es krim, dan saus tomat. Makanan ini populer, tapi hampir tidak memberi nilai gizi. Makanan ultra-proses berbeda dari makanan olahan biasa, yang hanya diproses untuk memperpanjang umur simpan atau meningkatkan rasa, seperti daging asap, keju, dan roti segar.