Bahlil Sebut Impor Minyak dari AS Sudah Dimulai, Imbas Konflik Timur Tengah

impor minyak, Bahlil Sebut Impor Minyak dari AS Sudah Dimulai, Imbas Konflik Timur Tengah

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa Indonesia mulai melakukan impor minyak mentah dari Amerika Serikat (AS). 

Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya pengalihan sumber impor minyak yang sebelumnya banyak berasal dari kawasan Timur Tengah.

Langkah ini juga menjadi salah satu respons pemerintah terhadap dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk konflik antara Amerika Serikat–Israel dengan Iran.

“Sekarang sudah mulai berjalan. Bertahap, ya, bertahap,” ujar Bahlil ketika ditemui selepas acara buka bersama di Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis (5/3/2026).

Proses Impor Minyak Tidak Bisa Sekaligus

Menurut Bahlil, proses pengalihan impor minyak tidak dapat dilakukan secara sekaligus. 

Hal itu disebabkan oleh keterbatasan kapasitas fasilitas penyimpanan atau storage minyak mentah yang dimiliki Indonesia saat ini.

Oleh sebab itu, pemerintah mendorong percepatan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

“Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden (Prabowo Subianto) dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera dibangun. Supaya apa? Kita ini kan butuh survival,” ucap Bahlil.

Pemerintah Akan Tambah Kapasitas Penyimpanan Minyak

Pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas cadangan minyak nasional. Saat ini, kemampuan penyimpanan minyak Indonesia hanya cukup untuk sekitar 25 hingga 26 hari. 

Ke depan, kapasitas tersebut direncanakan ditingkatkan hingga mencapai 90 hari atau sekitar tiga bulan sesuai standar internasional.

Untuk merealisasikan rencana tersebut, pemerintah telah mendapatkan calon investor yang akan terlibat dalam pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah di Indonesia.

“Investasinya sudah ada, investornya sudah ada,” ucap Bahlil.

Bahlil menjelaskan bahwa investasi pembangunan storage tersebut akan berasal dari kombinasi investor dalam negeri dan luar negeri. 

Meski demikian, investor asing yang terlibat bukan berasal dari Amerika Serikat.

“Investasinya dicampur dari dalam negeri dan dari luar, tetapi bukan AS. Yang membangun (storage) swasta,” ujar Bahlil dikutip dari Antara, Rabu.

Fasilitas penyimpanan minyak mentah itu direncanakan dibangun di wilayah Sumatera. 

Saat ini proyek tersebut masih dalam tahap studi kelayakan atau feasibility study sebelum memasuki tahap konstruksi.

Pemerintah menargetkan pembangunan storage tersebut dapat dimulai pada tahun ini sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang