Ada Konflik, Turis Timur Tengah di Bali Menginap Lebih Lama di Hotel Mewah

Ada Konflik, Turis Timur Tengah di Bali Menginap Lebih Lama di Hotel Mewah

Konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran menyebabkan ribuan penerbangan dibatalkan, termasuk rute dari Timur Tengah ke Bali dan sebaliknya.

turis dari negara Timur Tengah, meliputi Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), tidak bisa bepergian ke Bali untuk sementara waktu, demikian pula turis Timur Tengah yang sedang berada di Bali, tidak bisa kembali ke negaranya.

Kondisi ini membuat turis Timur Tengah di Bali harus menginap tinggal lebih lama (overstay) di Bali, seperti disampaikan Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Agung Rai Suryawijaya (ARS), kepada Kompas.com, Rabu (4/3/2026).

"Konflik Iran dengan Israel juga melibatkan Amerika, berdampak ke UEA. Tentu kita sangat prihatin ya, kejadiannya membuat hal ini meluas dan menyebabkan banyaknya stranded," ucap ARS.

"Kalau dia harusnya berangkat kemarin, tapi karena stranded, akhirnya ya overstay. Beberapa ada yang overstay," sambungnya.

Dari keseluruhan jumlah turis asing di Bali, sekitar tujuh persen di antaranya merupakan turis asal negara-negara Timur Tengah.

Meski jumlahnya tidak banyak, menurut ARS, kualitas turis asal Timur Tengah tergolong baik.

Mereka biasanya tinggal di hotel mewah Bali berbintang empat hingga lima, selama satu pekan dengan pengeluaran yang tidak sedikit.

"Mereka juga juga tentu orang yang well behave (berperilaku baik) dan orang-orang yang punya (kaya raya) yang ke sini ya," ungkap ARS.

Biaya overstay Rp 0 di Bali

ARS menilai bahwa kejadian ini termasuk force majeure sehingga kondisi tamu yang menetap di Bali, menjadi tanggung jawab maskapai penerbangan masing-masing.

Turis Eropa maupun Timur Tengah yang terdampak konflik diimbau berkontak langsung dengan maskapai penerbangan, untuk menentukan jadwal keberangkatan terbaru, sekaligus kompensasi hotel.

Jovan, seorang warga negara Serbia pengguna maskapai Emirates, mengaku tetap tenang meski penerbangannya tertunda.

"Mereka menunda penerbangan dan menempatkan penumpang di hotel. Jadi mereka berharap kita bisa terbang besok (kemarin), tapi saya rasa itu tidak mungkin. Jadi mereka mungkin akan memperpanjang situasi ini hari demi hari sampai kita bisa terbang lagi," ujar Jovan, Senin (2/3/2026), seperti dikutip .

Jovan memilih untuk memperpanjang masa liburannya di Bali sambil menunggu jadwal kepastian. Ia juga mengapresiasi pihak maskapai yang memberikan kompensasi menginap di hotel.

Pemerintah Indonesia pun turut mengambil bagian dalam peristiwa ini. Terhitung sejak 1 Maret 2026, Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi menerbitkan Surat Direktur Jenderal Imigrasi Nomor IMI-GR.01.01-133 yang menerapkan tarif biaya Rp 0 (nol rupiah).

Bebas biaya overstay itu ditujukan bagi orang asing yang mengalami overstay akibat kondisi tersebut, dengan melampirkan surat keterangan (declaration) dari maskapai maupun otoritas bandara terkait.

"Biasanya kalau overstay per hari bisa kena denda Rp 1 juta. Nah, saat ini dikasih free selama melaporkan diri bahwa masih stranded di Bandara Internasional Ngurah Rai Bali," jelas dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang