Jepang Punya Stok BBM 254 Hari, Indonesia 25 Hari, Ini Penjelasan Bahlil
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menanggapi perbandingan ketahanan bahan bakar minyak (BBM) antara Indonesia dan Jepang yang menjadi sorotan publik.
Indonesia saat ini memiliki kapasitas penyimpanan BBM yang mampu bertahan sekitar 25–26 hari sebelum ditambah menjadi 90 hari.
Di sisi lain, Jepang yang wilayahnya lebih kecil dari Indonesia disebut memiliki cadangan energi hingga 254 hari.
Isu tersebut mengemuka setelah Amerika Serikat-Israel menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Serangan tersebut mendorong Iran mengambil langkah tegas dengan menutup Selat Hormuz yang berkibat pada terganggunya pasokan minyak dunia.
Menurut Bahlil, perbedaan tersebut bukan terletak pada kemampuan impor semata, melainkan pada keterbatasan fasilitas penyimpanan atau storage di dalam negeri.
“Sekarang, kalau kita impor sebanyak itu (Jepang), kita mau taruh (BBM) di mana? Itu permasalahan kita,” ucapnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa (3/3/2026).
Pemerintah Akan Bangun Storage Baru
Bahlil menjelaskan, kapasitas penyimpanan energi nasional saat ini memang belum memadai untuk menampung cadangan dalam jangka panjang.
Karena itu, pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas storage hingga mampu menopang kebutuhan selama 90 hari atau tiga bulan sesuai standar internasional.
Studi kelayakan pembangunan fasilitas tersebut tengah dilakukan. Pemerintah menargetkan proyek mulai dibangun pada 2026 dengan lokasi yang direncanakan di Sumatera.
Meski demikian, Bahlil memastikan stok energi nasional dalam kondisi aman. Ia menyebut cadangan minyak mentah (crude), BBM, dan LPG berada di atas ambang batas minimum ketahanan nasional yang ditetapkan selama 23 hari.
“Jadi, menyangkut dengan persiapan hari raya Idul Fitri, bulan puasa, Alhamdulillah saya menyampaikan bahwa stok BBM, crude, LPG, itu semua rata-rata di atas standar minimum nasional,” ucap Bahlil.
Stok Batu Bara dan Penataan Produksi
Selain BBM, Bahlil juga menegaskan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT PLN (Persero) dalam kondisi aman hingga April 2026.
“Untuk kebutuhan PLN, saya memastikan bahwa sampai dengan bulan Maret, April, no issue (tidak ada masalah),” ujar Bahlil dikutip dari Antara, Selasa.
Ia menyampaikan pemerintah terus memantau kebutuhan batu bara PLN, menyusul penyesuaian kuota produksi nasional tahun 2026.
Kuota produksi batu bara ditetapkan sekitar 600 juta ton, lebih rendah dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai 790 juta ton.
Penyesuaian tersebut dilakukan melalui pembatasan kuota dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) masing-masing perusahaan.
Menurut Bahlil, kebijakan itu merupakan strategi untuk mencari keseimbangan antara pasokan dan permintaan batu bara sehingga terjadi koreksi harga.
“Jangan kita mengobral murah barang-barang kita. Kaitannya dengan itu, kami melakukan penataan terhadap RKAB dengan memprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan nasional, termasuk PLN,” kata Bahlil.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang