Kurang Gerak hingga Makan Berlebih Jadi Penyebab Obesitas

Kurang Gerak hingga Makan Berlebih Jadi Penyebab Obesitas, Ketidakseimbangan Energi Jadi Faktor Utama, Karbohidrat Berlebih Juga Bisa Picu Obesitas, Pola Makan Berlebih Tanpa Disadari, Kurang Aktivitas Fisik Perparah Risiko, Pentingnya Pola Makan Seimbang

Obesitas tidak hanya disebabkan oleh konsumsi makanan berlemak, tetapi juga berkaitan dengan keseimbangan antara asupan dan pengeluaran energi dalam tubuh.

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, prinsip dasar obesitas sebenarnya sederhana, yaitu ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan yang digunakan tubuh.

“Prinsipnya obesitas itu paling gampang, antara masuk dan keluar (tidak seimbang),” ujarnya saat ditemui dalam acara Media Briefing “Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas” di Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026).

Ketidakseimbangan Energi Jadi Faktor Utama

Menurut Nadia, obesitas terjadi ketika asupan kalori yang masuk ke tubuh lebih besar dibandingkan energi yang dikeluarkan.

Kelebihan energi tersebut kemudian disimpan dalam bentuk lemak sehingga berat badan meningkat. Kondisi ini makin berisiko terjadi jika seseorang memiliki gaya hidup sedentari atau kurang aktivitas fisik.

“Kalau kita tidak banyak bergerak, sementara asupan tinggi, itu yang bikin berat badan naik,” jelasnya.

Karbohidrat Berlebih Juga Bisa Picu Obesitas

Ia menegaskan bahwa obesitas tidak hanya disebabkan oleh konsumsi lemak berlebih.

Asupan karbohidrat yang tinggi juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan.

“Kalau karbonya lebih banyak, pasti diolah jadi gula. Itu juga bisa menyebabkan obesitas,” ujarnya.

Dalam tubuh, karbohidrat yang berlebih akan diubah menjadi glukosa. Jika tidak digunakan sebagai energi, glukosa tersebut dapat disimpan sebagai lemak.

Hal inilah yang membuat konsumsi karbohidrat berlebihan tetap berisiko, meskipun tidak berasal dari makanan berlemak.

Pola Makan Berlebih Tanpa Disadari

Selain itu, Nadia juga mencontohkan kebiasaan makan sehari-hari yang sering kali tidak disadari dapat memicu obesitas.

Misalnya, mengonsumsi makanan tinggi kalori seperti burger yang bisa mencapai ribuan kalori dalam sekali makan.

“Kalau makan burger kalorinya bisa sampai 2.000. Harusnya itu sudah cukup untuk satu hari,” katanya.

Namun, dalam praktiknya, banyak orang tetap mengonsumsi makanan lain setelahnya, seperti kentang, nasi, atau camilan sehingga total asupan kalori menjadi berlebih.

Kondisi ini juga diperparah dengan kebiasaan makan berulang sepanjang hari tanpa memperhatikan kebutuhan energi tubuh.

Kurang Aktivitas Fisik Perparah Risiko

Selain pola makan, kurangnya aktivitas fisik juga menjadi faktor penting yang memicu obesitas.

Gaya hidup modern yang banyak dihabiskan dengan duduk, seperti bekerja di kantor, membuat tubuh tidak membakar kalori secara optimal.

“Kalau kita cuma diam di kantor, tidak ada aktivitas, itu yang bikin kelebihan berat badan,” ujar Nadia.

Akibatnya, energi yang masuk tidak seimbang dengan energi yang keluar sehingga terjadi penumpukan lemak dalam tubuh.

Pentingnya Pola Makan Seimbang

Untuk mencegah obesitas, Nadia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara asupan dan pengeluaran energi.

Selain itu, komposisi makanan juga perlu diperhatikan, termasuk porsi protein, karbohidrat, dan lemak.

Ia menyebutkan bahwa protein, terutama dari sumber nabati, cenderung memiliki kontribusi lebih kecil terhadap pembentukan lemak dibandingkan zat gizi lainnya.

“Prinsipnya tetap balance antara yang masuk dan yang keluar,” ujarnya.

Dengan mengatur pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik, risiko obesitas dapat ditekan meskipun seseorang tetap mengonsumsi berbagai jenis makanan dalam kesehariannya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang