Peta Kekuatan Senjata Iran, Seberapa Bahaya dan Mematikannya Melawan AS dan Israel?
Setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada Sabtu hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei beserta beberapa pejabat senior, Teheran langsung bergerak cepat untuk merespons.
Iran menyatakan balasannya dengan menargetkan lokasi militer Israel dan yang terkait AS di seluruh kawasan, termasuk di negara-negara Teluk yang menampung pasukan AS.
Aksi saling serangan ini menimbulkan pertanyaan utama bagi ibu kota regional dan pasar global Apakah ini akan tetap menjadi siklus serangan balasan, ataukah akan berkembang menjadi lebih panjang yang dipengaruhi oleh jangkauan serangan Iran, pasukan sekutu, dan tekanan pada jalur pelayaran serta infrastruktur energi?
Mari kita bahas satu per satu terkait kekuatan perang Iran kali ini seperti melansir laman Al Jazeerah, Selasa 3 Maret 2026.
Mengapa Kali Ini Berbeda
Berbeda dengan perang 12 hari yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran pada Juni 2025 lalu, serangan kali ini yang menyebabkan terbunuhnya Khamenei tampaknya membuat Teheran yakin bahwa konflik ini adalah pertarungan untuk kelangsungan Republik Islam itu sendiri.
Dalam narasi Teheran, balasan yang tertunda atau terlalu terbatas bisa dilihat sebagai kelemahan dan menjadi undangan bagi serangan lebih lanjut.
Pada Minggu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa membalas kematian Khamenei dan pejabat senior lainnya adalah kewajiban dan hak sah negara.
Tapi bagaimana sebenarnya Iran melakukan balas dendam ini?
Strategi Rudal Iran: Arsenal, Jangkauan, dan Taktik
Kekuatan rudal Iran menjadi pusat cara negara itu bertempur dan memberi sinyal. Analis pertahanan menyebutnya sebagai yang terbesar dan paling beragam di Timur Tengah, mencakup rudal balistik dan jelajah, dan dirancang agar Teheran bisa menjangkau target tanpa perlu angkatan udara modern.
Pejabat Iran menekankan program rudal sebagai tulang punggung pencegahan, karena angkatan udara mereka mengandalkan pesawat tua. Pemerintah Barat menilai rudal Iran memicu ketidakstabilan regional dan bisa mendukung kemampuan nuklir di masa depan klaim yang dibantah Teheran.
Rudal balistik jarak terjauh Iran bisa menjangkau 2.000 km hingga 2.500 km, cukup untuk mencapai Israel, pangkalan terkait AS di Teluk, dan sebagian besar kawasan sekitar. Namun, bertentangan dengan klaim Trump dan beberapa pihak di lingkarannya, rudal ini tidak bisa mencapai wilayah AS.
Rudal Jarak Pendek: Serangan Cepat
Rudal balistik jarak pendek sekitar 150-800 km dirancang untuk target militer dekat dan serangan cepat regional.
Sistem inti meliputi varian Fateh, Zolfaghar, Qiam-1, serta rudal Shahab-1/2 yang lebih tua. Jangkauan pendek bisa menjadi keuntungan dalam krisis. Rudal ini bisa diluncurkan secara bertubi-tubi, memperpendek waktu peringatan dan mempersulit lawan melakukan serangan pendahuluan.
Iran diketahui pernah menggunakan taktik ini pada Januari 2020, menembakkan rudal balistik ke pangkalan udara Ain al-Assad di Irak setelah AS membunuh Jenderal Qassem Soleimani. Serangan itu merusak infrastruktur dan melukai lebih dari 100 personel AS dengan cedera otak traumatis, menunjukkan bahwa Iran bisa memberi dampak besar tanpa perlu menyaingi kekuatan udara AS.
Rudal Jarak Menengah: Mengubah Peta
Jika rudal jarak pendek adalah jawaban cepat Iran, rudal balistik jarak menengah dengan jarak tempuh sekitar 1.500-2.000 km adalah yang membuat balasan menjadi masalah regional. Sistem seperti Shahab-3, Emad, Ghadr-1, varian Khorramshahr, dan Sejjil memungkinkan Iran menyerang lebih jauh, bersama desain baru seperti Kheibar Shekan dan Haj Qassem.
Sejjil menonjol karena menggunakan bahan bakar padat, membuatnya lebih cepat siap diluncurkan dibanding rudal berbahan bakar cair, keuntungan penting jika Iran mengantisipasi serangan dan membutuhkan opsi yang bertahan dan responsif.
Dengan kombinasi rudal ini, Israel dan pangkalan terkait AS di Qatar, Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab berada dalam jangkauan, memperluas daftar target Iran dan meningkatkan risiko di kawasan.
Rudal Jelajah dan Drone: Masalah Terbang Rendah
Rudal jelajah terbang rendah, sering menempel pada kontur tanah, dan lebih sulit dideteksi terutama bila diluncurkan bersama drone atau salvo balistik yang membebani pertahanan udara.
Iran diperkirakan memiliki rudal jelajah serang darat dan anti-kapal, seperti Soumar, Ya-Ali, varian Quds, Hoveyzeh, Paveh, dan Ra’ad. Soumar bisa menjangkau hingga 2.500 km.
Drone menambah tekanan lain. Lebih lambat dari rudal, tetapi lebih murah dan mudah diluncurkan dalam jumlah banyak, drone serang satu arah bisa digunakan berulang kali untuk melemahkan pertahanan udara dan membuat bandara, pelabuhan, dan lokasi energi tetap siaga berjam-jam. Taktik saturasi ini kemungkinan akan semakin terlihat jika konfrontasi memanas.
‘Kota Rudal’ Bawah Tanah: Bertahan dari Serangan Pertama
Jumlah rudal penting, tetapi dalam konflik berkepanjangan, pertanyaan utama adalah seberapa lama Iran bisa tetap menembakkan rudal setelah menerima serangan.
Teheran telah menghabiskan bertahun-tahun memperkuat program rudalnya dengan terowongan penyimpanan bawah tanah, pangkalan tersembunyi, dan lokasi peluncuran terlindungi di seluruh negara. Jaringan ini membuat kemampuan Iran untuk meluncurkan rudal sulit dipatahkan dengan cepat, dan memaksa lawan mengasumsikan sebagian kemampuan tetap bertahan meski terkena serangan besar pertama.
Bagi perencana militer, kemampuan bertahan ini berarti setiap keputusan menyerang infrastruktur rudal Iran membawa risiko pertukaran serangan yang panjang, bukan kampanye singkat dan menentukan.
Selat Hormuz: Gangguan Tanpa Blokade Resmi
Taktik pencegahan Iran tidak terbatas pada target darat. Teluk dan Selat Hormuz, yang menjadi jalur perdagangan minyak dan gas dunia, memberi Teheran jalur cepat untuk mengguncang pasar global.
Iran bisa mengancam kapal militer dan kapal dagang dengan rudal anti-kapal, ranjau laut, drone, dan kapal serang cepat. Mereka juga memamerkan sistem ’hipersonik’, seperti seri Fattah, yang diklaim sangat cepat dan lincah, meski bukti independen tentang operasionalnya masih terbatas.
Blokade resmi tidak diperlukan untuk mempengaruhi pasar. Peringatan radio yang dikaitkan dengan tanker IRGC di luar selat dan meningkatnya asuransi risiko perang sudah memengaruhi pergerakan kapal dan biaya pengiriman. IRGC juga mengaku menyerang tiga tanker minyak yang terkait AS dan Inggris dekat Selat Hormuz.
Grup pelayaran kontainer Denmark, Maersk, mengatakan pada Minggu bahwa mereka menangguhkan semua kapal yang melewati Selat Hormuz.