AS Akhirnya Akui Kekuatan 'Nuklir' Baru Iran

Ilustrasi militer AS blokade Selat Hormuz.
Ilustrasi militer AS blokade Selat Hormuz.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Sebagai informasi, Teheran telah mengajukan tawaran baru kepada Washington DC, yang mencakup rencana untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, sambil menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Jika yang mereka maksud dengan membuka Selat Hormuz, ya sudah, buka saja. Tapi syaratnya harus berkoordinasi dan mendapat izin mereka. Kalau tidak, mereka akan meledakkannya (kapal yang lewat). Saya jadinya skeptis dengan tawaran terbaru itu," kata dia, seperti dikutip dari situs Russia Today, Rabu, 29 April 2026.

Rubio berpendapat bahwa kendali de facto Iran atas Selat Hormuz akan menciptakan preseden berbahaya. Ia mengibaratkan Selat Hormuz setara dengan senjata nuklir ekonomi untuk menguasai dunia.

“Ini bukan Terusan Suez, bukan juga Terusan Panama. Ini adalah perairan internasional. Dan jika itu dinormalisasi, bukan hanya akan menciptakan preseden di Timur Tengah tapi seluruh dunia,” tegas Rubio.

Bukan itu saja. Ia juga menolak anggapan bahwa Iran memiliki tokoh moderat sejati di antara kepemimpinannya, dan secara meyakinkan mengatakan bahwa 'mereka semua garis keras'.

“Tidak ada keraguan dalam pikiran saya bahwa suatu saat di masa depan jika rezim ulama radikal ini tetap berkuasa di Iran, mereka akan memutuskan bahwa mereka menginginkan senjata nuklir,” kelakar Rubio.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebagai informasi, Washington DC mengonfirmasi bahwa Presiden Donald Trump telah meninjau tawaran Iran. Beberapa orang yang diberi informasi tentang diskusi tersebut mengatakan kepada New York Times bahwa presiden tidak puas, dan seorang pejabat AS menyarankan bahwa menerima tawaran itu dapat tampak seperti menolak kemenangan Trump, mengingat penegasannya yang berulang kali bahwa program nuklir Iran harus dibongkar.

Teheran menyatakan bahwa mereka tidak berupaya memperoleh senjata nuklir dan menolak tuntutan AS untuk menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya tinggi dan membubarkan program nuklirnya.