Tanggal 1 Maret Memperingati Hari Apa? Ini Momen Penting Nasional dan Internasional serta Sejarahnya

Serangan Umum 1 Maret 1949, Tanggal 1 Maret Memperingati Hari Apa? Ini Momen Penting Nasional dan Internasional serta Sejarahnya

 Tanggal 1 Maret 2026 jatuh pada hari Minggu. Di Indonesia, tanggal ini memiliki makna historis dan institusional yang kuat karena diperingati sebagai Hari Penegakan Kedaulatan Negara.

Selain itu, 1 Maret juga berkaitan dengan momentum lain di tingkat nasional maupun internasional.

Berikut penjelasan lengkap mengenai berbagai peringatan yang jatuh pada 1 Maret 2026.

Mengapa 1 Maret Diperingati sebagai Hari Penegakan Kedaulatan Negara?

Tanggal 1 Maret 2026 diperingati sebagai Hari Penegakan Kedaulatan Negara. Penetapan ini didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 2 Tahun 2022 tentang Hari Penegakan Kedaulatan Negara yang ditandatangani oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo dan disahkan pada 24 Februari 2022.

Tujuan penetapan hari ini adalah untuk menanamkan kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa.

Momentum ini diharapkan mampu memperkuat kepribadian dan harga diri bangsa yang pantang menyerah, patriotik, rela berkorban, berjiwa nasional, serta berwawasan kebangsaan. Selain itu, peringatan ini juga dimaksudkan untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional.

Pemilihan tanggal 1 Maret merujuk pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 yang digagas Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Serangan tersebut diperintahkan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman serta disetujui dan digerakkan oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Aksi tersebut mendapat dukungan dari Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, serta laskar-laskar perjuangan rakyat.

Pada 1 Maret 1949, terjadi perlawanan Tentara Negara Indonesia terhadap tentara Belanda di ibu kota Indonesia saat itu, Yogyakarta.

Peristiwa ini menjadi simbol bahwa Indonesia masih memiliki kekuatan dan kedaulatan di tengah agresi militer Belanda.

Serangan Umum 1 Maret 1949, Tanggal 1 Maret Memperingati Hari Apa? Ini Momen Penting Nasional dan Internasional serta Sejarahnya

Monumen Serangan Umum 1 Maret di pelataran Benteng Vredeburg Yogyakarta.

Apa Makna Hari Kehakiman Nasional yang Juga Diperingati?

Selain Hari Penegakan Kedaulatan Negara, tanggal 1 Maret juga diperingati sebagai Hari Kehakiman Nasional.

Penetapan ini mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2012 tentang Hak Keuangan dan Fasilitas Hakim.

Momentum ini bertujuan mengingatkan pentingnya proses peradilan yang sehat dengan didampingi hakim yang menjunjung tinggi keadilan.

Hal tersebut sejalan dengan Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung RI dan Ketua Komisi Yudisial RI Nomor 047/KMA/SKB/IV/2009 dan 02/SKB/P.KY/IV/2009 tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim.

Dalam regulasi tersebut ditegaskan bahwa pengadilan merupakan pilar utama dalam penegakan hukum dan keadilan serta proses pembangunan peradaban bangsa.

Hakim yang dimaksud meliputi seluruh profesi hakim pada badan peradilan di bawah Mahkamah Agung, baik di lingkungan peradilan umum, agama, militer, maupun tata usaha negara.

Pada 2025, KY mengusulkan sanksi kepada 124 hakim yang terbukti melanggar Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH).

Sanksi tersebut terdiri dari 82 sanksi ringan, 30 sanksi sedang, dan 12 sanksi berat. Pelanggaran mencakup perilaku tidak profesional, etik transaksional, hingga perselingkuhan

Data tersebut menunjukkan bahwa sistem peradilan masih menghadapi tantangan, khususnya dalam menjaga integritas aparat penegak hukum.

Oleh karena itu, peringatan Hari Kehakiman Nasional diharapkan menjadi refleksi bagi para hakim agar senantiasa berlaku adil tanpa pandang bulu.

Bagaimana Sejarah Hari Doa Sedunia?

Di tingkat global, 1 Maret juga berkaitan dengan Hari Doa Sedunia. Mengutip National Today, peringatan ini berawal pada 1887 ketika para wanita Presbiterian menyerukan adanya hari doa untuk misi rumah tangga yang kemudian diikuti oleh wanita Metodis.

Pada 1897, perwakilan perempuan dari enam denominasi membentuk sebuah komite dan memulai hari doa bersama. Mereka secara bergiliran mengorganisasi kebaktian umum lintas denominasi.

Pada 1908, para perempuan tersebut mendirikan Council of Women for Home Missions yang bertanggung jawab atas rehabilitasi imigran dan berbagai persoalan sosial, sekaligus mempersiapkan hari doa bersama.

Selanjutnya, pada 1912, Dewan Misi Luar Negeri Perempuan memutuskan perlunya hari doa terpadu untuk misi luar negeri yang dilaksanakan di berbagai belahan dunia.

Hari Doa Sedunia kemudian berkembang menjadi gerakan oikumenis global yang melibatkan berbagai negara dan denominasi, dengan semangat solidaritas, kepedulian sosial, serta doa lintas budaya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang