Anindya Bakrie Tekankan Pembinaan Atlet di Rakernas Akuatik 2026, Fokus Student Athlete hingga Diaspora

Pembukaan Rakernas oleh Ketua Umum Akuatik Indonesia, Anindya Bakrie
Pembukaan Rakernas oleh Ketua Umum Akuatik Indonesia, Anindya Bakrie

 Ketua Umum Akuatik Indonesia Anindya Novyan Bakrie menegaskan pentingnya penguatan pembinaan atlet nasional dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Akuatik Indonesia 2026 yang digelar di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, Sabtu 28 Februari 2026.

Menurut Anindya, pembinaan akuatik Indonesia kini diarahkan pada model yang lebih modern dan kompetitif, mulai dari program student athlete di luar negeri hingga integrasi atlet diaspora ke dalam sistem pelatnas nasional.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Program student athlete ini jalan. Masniari Wolf ada di Jerman dan Jason juga di luar negeri. Ini menjadi modal kita untuk SEA Games berikutnya dan Asian Games,” kata Anindya.

Rakernas yang diikuti sekitar 60 peserta dari 30 provinsi ini menjadi forum evaluasi pembinaan sekaligus penyusunan strategi prestasi menghadapi persaingan kawasan yang semakin ketat.

Anindya mengingatkan bahwa negara pesaing di Asia Tenggara seperti Vietnam dan Singapura telah lebih dahulu mengembangkan sistem pembinaan berbasis sport science dan dukungan pelatihan modern.

“Kita melihat saingan seperti Vietnam dan Singapura sangat tangguh. Kita harus mendesain program yang tidak kalah, bukan hanya atlet, tapi pelatih, sport science, hingga nutrisi,” ujarnya.

Selain program luar negeri, Akuatik Indonesia juga mengembangkan jalur pembinaan diaspora, yakni atlet keturunan Indonesia yang berlatih di luar negeri dan diproyeksikan memperkuat tim nasional.

Anindya menilai kombinasi student athlete, regenerasi atlet muda, dan diaspora menjadi fondasi penting untuk meningkatkan daya saing akuatik Indonesia di level Asia.

“Tadi banyak atlet yang berlatih di luar negeri menghasilkan prestasi cukup baik di SEA Games. Ini menjadi modal untuk SEA Games berikutnya dan juga Asian Games,” ujarnya.

Dari sisi prestasi jangka panjang, ia menegaskan pembinaan yang diperkuat saat ini diarahkan untuk meningkatkan capaian Indonesia di multievent, termasuk Asian Games dan Olimpiade. Menurut Anindya, Asian Games 2026 menjadi momentum penting karena Indonesia sudah sekitar 26 tahun tidak meraih medali di cabang renang, sehingga ajang tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk kembali naik podium.

Ia menambahkan, target realistis awal yang dibidik adalah membawa pulang medali pada Asian Games 2026.

“Kita berharap bisa mendapatkan medali, minimal perunggu, di Asian Games 2026,” harap Ketum PB Akuatik Indonesia.

Sementara itu, Kementerian Pemuda dan Olahraga menilai model student athlete yang dikembangkan Akuatik Indonesia merupakan langkah tepat dalam pelatnas jangka panjang karena memberikan lingkungan kompetisi yang lebih kuat bagi atlet.

KONI Pusat juga menilai pembinaan akuatik nasional perlu terus diperkuat mengingat prestasi renang Indonesia di Asian Games terakhir terjadi pada 1990 dan persaingan kawasan kini didominasi negara tetangga.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Adapun Komite Olimpiade Indonesia menekankan pentingnya perencanaan strategis jangka panjang agar pembinaan akuatik mampu menjawab tuntutan multievent internasional yang semakin kompetitif.

Rakernas Akuatik Indonesia 2026 membahas laporan program 2025 dan rencana kerja 2026, termasuk pembinaan prestasi, sport science, organisasi, dan kemitraan sebagai dasar peningkatan prestasi menuju Asian Games dan Olimpiade.