Anindya Bakrie Pede Program MBG di 2026 Dongkrak Ekonomi 3,5 Persen, Begini Hitungannya

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie meyakini, pelaksanaan program MBG di tahun 2026 dengan target 82 juta penerima dan 30 ribu SPPG, akan berkontribusi pada perekonomian nasional hingga 3,5 persen.

Dia menjelaskan, apabila dihitung dari total jumlah tenaga kerja yang mencapai sekitar 50 orang dalam satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG, maka akan ada tenaga kerja baru sekitar 1,5 juta orang di 30 ribu SPPG yang akan dibangun di tahun 2026 ini.

"Kalau 30 ribu SPPG atau dapur MBG, yang di satu SPPG-nya ini bisa menghasilkan 50 (orang) tenaga kerja baru, artinya jumlahnya itu akan ada 1,5 juta (orang tenaga kerja baru)," kata Anindya di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Rabu, 14 Januari 2026.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie

Anindya mengatakan, sebagaimana perhitungan yang sebelumnya telah disampaikan oleh Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, bahwa setiap 400 ribu tenaga kerja baru akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi 1 persen, maka jumlah 1,5 juta orang tenaga kerja baru itu akan berkontribusi 3,5 persen bagi pertumbuhan ekonomi.

"Inilah yang disebut kemarin oleh Pak Menko bisa membantu, yang kalau berdasarkan hitungannya, setiap 400 ribu (orang tenaga kerja baru) sama dengan 1 persen. Maka kalau 1,5 juta orang sama dengan 3,5 persen," kata Anindya.

"Jadi apa yang diniatkan Presiden Prabowo untuk mencapai (pertumbuhan ekonomi) 8 persen, ini (MBG) memang salah satu kendaraannya," ujarnya.

Hal itu belum ditambah dengan tersedianya 82 juta paket MBG di tiap sekolah setiap harinya, yang dipastikan juga akan mendongkrak perekonomian dengan kebutuhan bahan pangan untuk tiap paket MBG tersebut.

Sehingga dipastikan bahwa setiap harinya akan ada kebutuhan akan bahan makanan seperti telur, daging ayam, sayur-sayuran, hingga buah-buahan, yang harus diproduksi guna mencukupi kebutuhan paket-paket MBG tersebut.

"Kalau ada 82 juta (paket) makanan setiap hari di sekolah, yang dibutuhkan banyak sekali. Paling tidak 82 juta telur, 82 juta paha ayam, belum lagi sayur-mayur dan buah-buahan," kata Anindya.

"Sehingga (dari semua kebutuhan bahan makanan itu) bisa terjadi hilirisasi, dari yang selama ini identik dengan pertambangan, maka kini hilirisasi agrikultur juga akan terjadi," ujarnya.

Meskipun, Anindya mengakui bahwa pola menu MBG tentunya akan berbeda-beda di setiap wilayah yang melaksanakannya. Misalnya seperti di wilayah Indonesia Timur yang mungkin akan lebih fokus ke ikan, atau di wilayah lain yang akan fokus ke daging ayam sebagai menu MBG-nya.

"Sehingga masing-masing provinsi, kabupaten, kota, desa, bisa mempunyai industrialisasi sendiri-sendiri dari (hilirisasi) agrikultur ini," ujarnya.