Impor Mobil dari India Jadi Sorotan DPR, Ratusan Unit Tiba di Pelabuhan Jakarta

Jakarta, India, PT Agrinas Pangan Nusantara, Impor Mobil dari India Jadi Sorotan DPR, Ratusan Unit Tiba di Pelabuhan Jakarta

Impor kendaraan niaga berupa mobil pikap dan truk dari India oleh PT Agrinas Pangan Nusantara menjadi perhatian DPR, yang telah meminta agar kegiatan ini dihentikan.

Meskipun permintaan penundaan telah disampaikan, sejumlah mobil tersebut sudah tiba di Indonesia melalui Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta Utara.

foto yang diterima menunjukkan deretan mobil berwarna putih yang tertata rapi di area terbuka pelabuhan pada malam hari.

Kendaraan pikap asal India ini menunjukkan bodi yang bersih dan seragam, dengan sorotan lampu dari tiang penerangan pelabuhan yang memancarkan cahaya terang, menyoroti kondisi cat mobil yang masih mengilap.

Gril depan dan lampu utama yang seragam menunjukkan bahwa unit-unit ini berasal dari model dan merek yang sama.

Kehadiran mobil-mobil ini di pelabuhan menandakan bahwa mereka baru tiba atau sedang menunggu untuk didistribusikan lebih lanjut.

Bingung masalah parkir

PT Agrinas Pangan Nusantara diketahui mengimpor total 105.000 kendaraan niaga senilai Rp 24,66 triliun dari India.

Rencana kontrak mencakup pengadaan dari dua produsen otomotif India. Di mana Mahindra menyuplai 35.000 unit Scorpio Pickup, sedangkan Tata Motors menyuplai 70.000 unit, yang terdiri dari 35.000 Yodha Pickup dan 35.000 Ultra T.7 Light Truck.

Kendaraan yang telah tiba di Indonesia sementara ini akan disimpan di Kodim, menunggu kesiapan dari koperasi untuk distribusi lebih lanjut.

Diperkirakan, hingga akhir bulan ini akan ada tambahan 1.000 unit yang tiba.

Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota mengungkapkan belum merencanakan lokasi penyimpanan untuk mobil-mobil tersebut, yang akan tiba secara bertahap untuk mendukung operasional Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.

"Saya belum memikirkan mengenai tempat penyimpanan untuk jumlah yang besar ini, tetapi saya pasti akan mendiskusikannya dengan diler yang sudah menandatangani kontrak dengan kami," ujarnya dalam konferensi pers di Yodya Tower, Jakarta.

Joao menambahkan bahwa ia percaya keputusan yang diambil adalah demi kepentingan rakyat.

"Saya yakin ini adalah langkah baik, dan biasanya hal-hal baik akan berujung baik, itu keyakinan saya," tuturnya.

Ia juga menyebutkan bahwa sudah ada ratusan unit kendaraan yang tiba, tetapi ia enggan berbicara lebih lanjut mengenai lokasi penyimpanan mobil-mobil tersebut.

"Ah terserah, mau diapain. Saya tetap berpikir positif untuk Indonesia. Saya akan mengikuti semua perintah negara," tambahnya.

Diminta menunggu Prabowo

Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menyampaikan bahwa pihaknya telah meminta pemerintah untuk menunda rencana impor 105.000 unit kendaraan operasional asal India untuk program Kopdes Merah Putih.

"Kami sudah meminta agar rencana impor ini ditunda, mengingat presiden saat ini berada di luar negeri," kata Dasco di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Ia menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto akan mendiskusikan lebih lanjut tentang rencana ini setelah kembali dari kunjungan luar negeri.

Dasco menekankan pentingnya untuk memastikan kesiapan industri otomotif dalam negeri dalam memenuhi kebutuhan kendaraan untuk Kopdes Merah Putih.

"Setelah presiden kembali, beliau akan membahas rincian impor ini dan meminta pendapat mengenai kesiapan perusahaan lokal untuk memenuhi permintaan tersebut," pungkasnya.

India harus bangun pabrik di Indonesia

Dilansir dari , Rabu (25/2/2026),  Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Saleh Husin menegaskan, produsen kendaraan komersial India harus membangun pabrik di Indonesia jika serius dengan program Kopdes Merah Putih.

"Jika produsen India serius, sebaiknya membangun pabrik di Indonesia sebagaimana dilakukan Toyota, Suzuki, Honda, Daihatsu, Mitsubishi, Hino, Hyundai, DFSK hingga BYD dan VinFast. Pemerintah perlu menempatkan semua pelaku usaha pada level playing field yang sama," katanya.

Dengan pembangunan pabrik kendaraan India di Indonesia, tentunya akan menciptakan persaingan yang seimbang.

Menurut Saleh, impor mobil dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) oleh PT Agrinas Pangan Nusantara, dapat mematikan industri otomotif dalam negeri.

Dampak buruk lainnya adalah impor itu tidak akan menggerakkan ekonomi dan bertentangan dengan program industrialisasi yang sedang didorong pemerintah.

"Target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo bisa tidak tercapai jika industri nasional tidak bertumbuh," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang