Menikmati Pecel Madiun 99, Sate Ponorogo, dan Bakmi Solo dalam Satu Perjalanan
Ponorogo (7/2/2026) di pagi berkabut sebelum matahari meninggi, sejauh dua ratus kilometer lebih, dalam waktu hampir tiga jam, terasa istimewa.
Mengapa? Tidak lain karena merupakan perjalanan reunian jebolan Fakultas Sastra UGM. Di samping sudah terbayang pecel Madiun dan Bakso Martini Ponorogo.
Saya beserta istri, Restu, dan Nunung, ingin menyambangi Martini, teman kuliah yang menetap di Ponorogo. Sudah sepuluh tahunan lebih kami tidak bertemu.
Untuk memberi surprise ke Martini (generasi penerus Bakso Martini), sengaja tidak memberitahu rencana keberangkatan ke Ponorogo.
Pagi berkabut/Foto: Hermard
Sepanjang perjalanan di atas jalan tol Prambanan-Madiun terdengar obrolan menarik emak-emak di kursi deretan tengah.Dari soal guru yang dilaporkan ke polisi, anak SD usia sepuluh tahun di NTT bunuh diri, ontran-ontran BPJS, pensiunan seumur hidup anggota DPR/MPR- meskipun mereka hanya menjabat beberapa tahun, keracunan MBG, kasus jambret yang nyaris menjadikan Hogi Minaya sebagai terdakwa, beban pajak rakyat, dan program gentengisasi.
"Dulu hukuman dari guru merupakan bentuk tanggung jawab murid atas kesalahan yang diperbuat. Jadi bukan persoalan- apalagi dijadikan sesuatu yang berlebihan- kalau disetrap di depan kelas, jari diketok pakai penggaris, lari mengelilingi lapangan, atau dilempar kapur tulis oleh guru, itu hal biasa. Sekarang hukuman yang diberikan guru bisa menjadi persoalan berat, jadi viral," komentar Nunung, pensiunan Kemenlu.
Ia juga menyayangkan penghapusan mata pelajaran PKK dan pendidikan budi pekerti. Di luar negeri, pelajaran sejenis itu terus dipertahankan dan para siswa menerapkannya dalam pergaulan di sekolah.
Sementara Restu, peneliti BRIN, rerasan soal hubungan dengan orang tua dan pembagian tugas dalam keluarga.
"Saat kanak-kanak, kita sangat hormat kepada orang tua. Dimarahi sedikit saja, sudah merasa bersalah, tidak berani melawan. Beda dengan generasi sekarang keinginannya harus terpenuhi. Bahkan, ada yang bertindak sadis terhadap orang tua. Di samping itu, dijadwalkan pembagian tugas menyapu rumah, halaman, mencuci piring, baju, mengepel, membantu memasak," papar Restu.
Dengan pembagian tugas itu, masing-masing anak sudah dibiasakan bertanggung jawab sedari kecil. Sekarang, orang tua jarang memberi pekerjaan rumah. Anak-anak lebih difokuskan menyelesaikan tugas sekolah. Akibatnya, anak-anak setelah dewasa tidak peduli terhadap persoalan rumah.
Memasuki kota Madiun
Tidak terasa, mobil yang dikemudikan Mas Danang, perlahan memasuki wilayah Madiun."Kita cari sarapan dulu Mas," ujar Ibu Negara kepada Mas Danang.
"Injih Bu. Pecel SBY dan Sri Sultan?" jawab Mas Danang dengan nada bertanya.
Penanda pecel legendaris/Foto: Hermard
Waktu masih menunjukkan pukul delapan lebih, kami berhenti di depan Depot Nasi Pecel 99 di Jalan HOS Cokroaminoto. Sudah ada beberapa pelanggan menikmati sarapan pagi. Di dinding terdapat foto SBY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Pramono Anung, Dahlan Iskan, Retno Marsudi, dan beberapa artis top ibukota.Kebersamaan dalam sepincuk pecel/Foto: Hermard
Depot ini dirintis Karyono dan sang istri, Heri Murti sejak tahun 1987. Penyajian pecel dari dulu sampai sekarang sangat khas dengan wadah pincuk daun pisang.
Nikmat mana lagi yang bisa didustakan?/Foto: Hermard
Satu pincuk nasi pecel berisi sayuran kecambah, kacang panjang, bayam, daun pepaya, mlanding (petai cina), kemangi, lempeng uli, serundeng plus nasi. Bisa ditambah lauk pauk: telur ceplok, paru, limpa, perkedel, babat, tahu-tempe bacem, empal, usus, atau telur asin.Dalam tradisi Jawa, pincuk melambangkan kesederhanaan, keramahan, dan kebersamaan; sekaligus hubungan manusia dengan alam. Daun pisang merupakan simbolisasi kesuburan dan kemakmuran alam. Oleh karena itu, pincuk menjadi perlambang rasa syukur dan penghargaan terhadap alam dan kehidupan.
Dipincuk/Foto: Ari Setyo Rini
Makna filosofis pincuk merupakan kesadaran diri yang luas dan terbuka, seperti mangkok, dapat menampung apa pun. Pincuk sekaligus melambangkan kesederhanaan dan keramahan."Pedasnya nampol. Mlanding dan serundengnya menambah sensasi rasa yang membedakannya dengan pecel Yogya," komentar Ibu Negara.
Jika ingin menikmati hidangan bukan pecel, tersedia rawon, lodeh, garang asem, mangut lele/nila, dan lainnya.
"Sayangnya tingkat kepedesaan pecelnya hanya satu level, tidak bisa pesan yang pedasnya sedang. Sehingga kurang cocok untuk anak-anak," komentar Nunung pelan.
Para pemburu pecel/Foto: Hermard
Jam sembilan lebih, warung kian ramai. Di pojok kanan luar sudah ada mbak-mbak menyanyikan lagu diiringi keyboard seorang lelaki di sebelahnya.Kami meninggalkan Depot Pecel 99, menuju arah Ponorogo. Meskipun perut sudah kenyang, tapi tetap terbayang hangatnya bakso campur atau mie bakso Ponorogo yang begitu legendaris. Perjalanan masih ditempuh sekitar satu jam lagi.
Menjelajah kota reog/Foto: Hermard
Kerinduan terhadap bakso, menyebabkan kami langsung menuju Jalan Muria, mencari depot Bakso Martini, sesuai alamat yang diberikan Martini. Ternyata nasib tidak berpihak, di bangunan depot ada tulisan: tanah dan bangunan ini dijual.Pupuslah harapan merasakan lezatnya bakso yang pernah saya rasakan tahun 1990-an. Kalau tidak salah Bakso Martini saat itu berada di Jalan Jenderal Sudirman. Ada bakso goreng, bakso otot, dan bakso halus.
Bakso Martini Muria (2023)/Foto: Sheeqa Two
Kami pun langsung menuju kawasan stadion Batoro Katong, Nologaten, tempat Martini tinggal bersama keluarga."Tadi Mas Herry mampir ke Muria?" tanya Pak Kasdiono (85) setelah kami duduk di ruang tamu.
Lalu pendiri Bakso Martini itu bercerita kalau warung baksonya yang telah dirintis sejak tahun 1990-an terpaksa tutup setelah beberapa kali pindah lokasi.
"Aku sampek heran, gak ana arek-arek sing gelem neruske usaha bakso. Padahal apa-apa wis cemepak, gari mlaku- saya heran, tidak ada anak-anak yang mau meneruskan usaha bakso. Padahal semua tinggal jalan," jelas Pak Kasdiono dengan nada penyesalan.
Di samping meracik bakso, Pak Kasdiono mengajarkan kepada anak-anaknya bagaimana membuat bakso menjadi bulat sempurna. Ia selalu menampel tangan anak-anak atau karyawannya yang tidak bisa membuat bakso bulat sempurna menggunakan telapak tangan dan sendok.
Meskipun gagal menikmati Bakso Martini, kekecewaan terobati karena saat makan siang disuguhi sate Pak Inul Ponorogo, dipesan secara khusus. Sate Pak Inul dikenal sebagai kuliner malam karena warung di Jalan Menur Sultan Agung, Nologaten, baru buka pukul setengah lima sore.
"Potongan sate ayamnya besar-besar. Tekstur bumbunya halus. Gurih manis dan pedasnya pas," ujar Ibu Negara Omah Ampiran.
Sebesek sate legendaris/Foto: Hermard
Pulangnya kami memilih jalur Ponorogo-Magetan-Sarangan-Tawamangu-Solo-Yogyakarta. Jalur cukup menantang, berliku, naik turun, dengan pemandangan alam memukau.Memasuki wilayah Karanganyar, azan magrib terdengar samar-samar. Hujan terus turun tak beraturan dari Sarangan sampai akan memasuki Solo.
"Hujan-hujan seperti ini enaknya kita cari bakmi Jawa hangat di Solo," pinta Restu.
Menikmati bakmi Jawa di deras hujan/Foto: Hermard
Pilihan jatuh ke Pondok Bakmi Sederhana di Jalan Slamet Riyadi. Salah satu bakmi Jawa legendaris kota Solo. Meskipun hujan, ternyata penuh pelanggan, untungnya kami masih kebagian satu meja.
Demi memuaskan pelanggan/Foto: Hermard
Memasaknya satu per satu pakai anglo arang. Pantas saja para pelanggan rela antre karena porsinya jumbo, isian berupa potongan ayam kampung, ampela hati, dan telur orak-arik, begitu melimpah. Ada dua dan empat wajan yang digunakan bergantian.
Serba berlimpah/Foto: Hermard
"Gurih kuah kaldunya kaya rasa. Mungkin karena memakai ayam kampung. Puas, sesuai harapan," ujar Restu.Hujan masih mengguyur lebat. Kami tinggalkan Solo menuju Yogya lewat jalan Tol. Dari radio dalam mobil terdengar suara Dedi Kempot...
Ning stasiun balapan/Kuto Solo sing dadi kenangan/Kowe karo aku/Naliko ngeterke lungamu
Ning stasiun balapan/Rasane koyo wong kelangan/Kowe ninggal aku/Ra kroso netes eluh ning pipiku...(*)
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menyambangi Pecel 99, Menikmati Hujan Stasiun Balapan"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang