Pengolahan Sampah Jadi Sumber Energi Disorot Dunia, Indonesia Sudah Sampai Mana?
Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Setiap hari, volume sampah terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan urbanisasi.
Kini, pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia mencanangkan upaya pengolahan sampah jadi energi sebagai solusi strategis jangka panjang. Proyek ini dikenal sebagai Waste to Energy (WtE), yakni program untuk mengubah sampah menjadi energi yang berguna seperti listrik, panas, atau bahan bakar.
Secara sederhana, Waste to Energy adalah serangkaian teknologi untuk mengolah limbah yang biasanya tertimbun di tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi energi terbarukan. Teknologi ini bisa berupa insinerasi (pembakaran), gasifikasi, ataupun anaerobic digestion (fermentasi tanpa oksigen) yang menghasilkan biogas.
Dengan pendekatan ini, sampah tidak lagi sekadar dibuang, tetapi dimanfaatkan sebagai sumber daya energi. Proyek seperti ini juga didorong tren global yang melihat sampah sebagai sumber energi bersih dan bagian dari strategi circular economy.
Sejumlah negara maju seperti Swedia, Jepang, Jerman, Singapura, China, dan Belanda sudah mengadopsi WtE guna menopang kebutuhan energi sekaligus mengurangi beban TPA. Swedia memimpin dengan lebih dari 99 persen sampah domestik diolah kembali, di mana 50 persen sampah rumah tangga dikonversi menjadi energi panas dan listrik.
Perkembangan Proyek Waste to Energi di Indonesia
Proyek WTE yang dijalankan oleh Danantara memasuki fase paling krusial menjelang pengumuman pemenang lelang tahap pertama pada bulan Februari 2026. Dari total 24 peserta, hanya empat yang akan ditetapkan sebagai pemenang sebelum proyek memasuki tahap groundbreaking pada Maret 2026 dan berlanjut ke fase ekspansi hingga pertengahan tahun.
Proyek WTE Danantara menetapkan standar teknis dan finansial yang tidak ringan. Peserta wajib memiliki pengalaman mengoperasikan fasilitas WTE dengan kapasitas minimal 1.000 ton per hari serta memiliki rekam jejak operasional dan pemeliharaan (O&M) yang teruji.
Dari sisi finansial, perusahaan harus memiliki aset besar, struktur ekuitas kuat, dan rasio utang yang sehat. Kriteria ini secara alami menyaring peserta menjadi kelompok pemain besar dengan kapasitas dan pengalaman industri yang matang.
Dalam proyek berskala besar, periode menjelang pengumuman pemenang sering kali menjadi fase dengan ekspektasi tinggi dan sensitivitas pasar yang meningkat. Spekulasi, positioning lebih awal, hingga pergerakan volume transaksi menjadi bagian dari dinamika tersebut.
Ada tiga perusahaan besar yang digadang-gadang akan memenankan tender proyek WTE ini. Perseroan itu antara lain PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), dan PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI).
Analis Pasar, Thomas William, menyebut adanya kemungkinan 'kejutan' dalam penentuan pemenang proyek tersebut. Penyataan ini seiring timeline yang semakin dekat dan perhatian pasar mulai meningkat dan spekulasi pun berkembang terkait pemenang proyek WTE.

“Selama ini yang dirumorkan kan OASA, TOBA, MHKI. Tapi yang saya dengar justru bisa saja bukan nama-nama itu. Ada kemungkinan yang dapat malah DAAZ. Ini masih rumor ya, belum ada konfirmasi resmi. Kita lihat saja nanti benar atau tidak,” kata Thomas dikutip dari YouTube Ajaib CuanTalks Podcast.
DAAZ merupakan kode emiten PT Daaz Bara Lestari Tbk. Sebelumnya, DAAZ tidak masuk ke dalam radar perhatian yang akan memenangkan proyek WTE ini.
Pernyataan dari analis yang akrab disapa Towilss sontak mendongkrak volume transaksi pada saham DAAZ. Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat pernyataan resmi mengenai keterlibatan atau posisi emiten tersebut dalam struktur konsorsium tahap pertama.
Namun penting dicatat, rumor tetaplah rumor. Hasil akhir akan ditentukan oleh pengumuman resmi serta nilai kontrak, skema pembiayaan, dan struktur proyek yang disepakati.
Di luar dinamika pasar jangka pendek, proyek WTE Danantara memiliki dampak yang lebih luas terhadap pengelolaan sampah, ketahanan energi domestik, dan arah investasi pada sektor transisi energi. Jika berjalan sesuai rencana, proyek ini berpotensi menjadi bagian dari perubahan struktural dalam ekosistem energi dan lingkungan Indonesia.