Top 42+ Desa di Grobogan Terdampak Banjir, Ribuan Hektare Sawah Terancam Gagal Panen

Jawa Tengah, Grobogan, gagal panen, 42 Desa di Grobogan Terdampak Banjir, Ribuan Hektare Sawah Terancam Gagal Panen

Banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, berdampak luas terhadap permukiman dan sektor pertanian. 

Sebanyak 42 desa di 10 kecamatan terdampak dan sekitar 9.000 kepala keluarga (KK) terimbas banjir yang terjadi sejak Senin (16/2/2026).

Selain merendam rumah warga, banjir juga menggenangi lahan pertanian. Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah mencatat lahan pertanian seluas 1.842 hektare di Grobogan terendam banjir. 

Data tersebut masih bersifat sementara dan akan diverifikasi lebih lanjut di lapangan.

1.842 hektare sawah terendam, berpotensi gagal panen

Kepala Distanak Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan pihaknya akan mengecek langsung tingkat kerusakan tanaman untuk memastikan apakah terjadi gagal panen atau puso.

"Petugas pengendali organisme pengganggu tanaman atau POPT nanti cek di lapangan bahwa ini puso apa tidak. Karena kalau dalam kondisi terendam kan agak sulit untuk mendeteksi," kata Frans dalam keterangan tertulis, dikutip dari , Selasa (17/2/2026).

Ia menyebut, bila hasil pengecekan menyatakan terjadi gagal panen, laporan akan diteruskan kepada PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) sebagai penanggung jawab program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

"Nah, jadi setelah itu kemudian dia bersama teman-teman lapangan melaporkan kondisi itu ke Jasindo, sebagai penanggung jawab asuransi usaha tani padi," lanjutnya.

Petani diminta segera ajukan klaim AUTP

Sesuai mekanisme, waktu pengajuan klaim paling lambat satu pekan sejak kejadian. 

Para petani terdampak diminta segera melaporkan kondisi lahannya.

"Paling tidak seketika kejadian sudah difoto, lapor dulu secara SMS, WA, dan sebagainya. Kemudian baru petugas turun untuk mengecek lapangan kebenarannya," jelasnya.

Frans mengakui belum semua petani terdaftar dalam program AUTP. 

Karena itu, pihaknya mengimbau petani di daerah rawan bencana agar segera mendaftarkan lahannya melalui penyuluh pertanian.

"Kita dorong masyarakat dengan kondisi daerah-daerah yang mungkin berpotensi untuk terjadinya bencana itu, untuk mendaftarkan diri. Karena kalau tidak itu kan tidak ter-cover," ujarnya.

Pemprov Jateng berharap perlindungan asuransi dapat menjaga stabilitas produksi pertanian di tengah bencana. 

Tahun lalu, Jawa Tengah sempat mengalami gagal panen seluas 35.000 hektare, namun kondisi tersebut disebut tidak terlalu berpengaruh terhadap produksi padi secara keseluruhan.

Secara nasional, Jateng tetap berada di peringkat ketiga sebagai penyumbang produksi padi terbesar pada 2025 dengan total produksi sekitar 9,3 juta ton gabah kering giling. 

Pemerintah provinsi optimistis capaian tersebut dapat ditingkatkan pada 2026.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang