Ratusan KK Terdampak Banjir, Kades Tempapan Hulu Sambas Usulkan Solusi Jangka Panjang
Peristiwa banjir mendorong Kepala Desa Tempapan Hulu, Asmanto, meminta perhatian serius dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Sebelumnya, banjir melanda Desa Tempapan Hulu, Kecamatan Galing, Kabupaten Sambas, pada awal Januari 2026.
Peristiwa ini bukan kali pertama terjadi dan telah menjadi persoalan berulang yang dihadapi warga setiap musim hujan.
Melihat kondisi tersebut, Asmanto menilai penanganan sementara tidak cukup dan diperlukan solusi jangka panjang agar banjir tidak terus berulang.
Lantas, bagaimana usulan Asmanto terkait kondisi rawan banjir di desanya?
Banjir awal tahun merendam Dua Dusun
Banjir terjadi sejak 2 hingga 5 Januari 2026 dan merendam dua dusun, yakni Dusun Dadau dan Dusun Semanas.
Curah hujan tinggi menyebabkan air sungai meluap dan menggenangi permukiman warga selama beberapa hari.
Asmanto menyebut wilayah Tempapan Hulu memang tergolong rawan banjir.
Saat hujan lebat turun, air kerap meluap dan masuk ke rumah warga, sehingga aktivitas sehari-hari terganggu.
"Permohonan kami dari masyarakat Desa Tempapan Hulu khususnya melalui Kepala Desa, untuk mengurangi banjir perlu adanya normalisasi sungai," kata Asmanto, dikutip dari Tribun Pontianak, Selasa (13/1/2026).
Menurutnya, normalisasi sungai menjadi langkah penting agar banjir yang terjadi tidak berlangsung lama dan dampaknya dapat ditekan.
"Sehingga walaupun terjadi banjir, tapi tidak lama. Ini penting untuk mengurangi dampak yang dirasakan masyarakat," sambungnya.
Ratusan KK menjadi korban banjir
Dampak banjir awal Januari tersebut terbilang cukup luas. Asmanto mencatat sedikitnya 346 Kepala Keluarga terdampak, dengan jumlah warga mencapai sekitar 1.300 jiwa.
Sejumlah rumah warga tergenang air sejak awal hingga pertengahan Januari.
Genangan tersebut membuat sebagian aktivitas masyarakat terhambat, termasuk kegiatan ekonomi dan mobilitas warga.
"Terdampak banjir kurang lebih 346 KK dan jumlah jiwanya sekitar 1.300-an. Itu yang tergenang dari tanggal 1 sampai 6 Januari," papar Asmanto.
Kades dorong solusi permanen
Saat ini, kondisi banjir di Desa Tempapan Hulu telah berangsur surut.
Aktivitas masyarakat mulai kembali berjalan normal dan perekonomian warga perlahan membaik.
Asmanto juga menyampaikan apresiasi kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sambas yang telah meninjau langsung kondisi desa pascabanjir.
"Sekarang sudah surut. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada BNPB pusat dan BPBD Sambas yang telah berkunjung ke Desa Tempapan Hulu," ucapnya.
Untuk penanganan ke depan, Asmanto berharap normalisasi sungai dapat segera direalisasikan sebagai solusi permanen.
Ia menilai langkah tersebut penting agar banjir tidak lagi menjadi ancaman rutin bagi masyarakat Desa Tempapan Hulu, khususnya di Dusun Dadau dan Dusun Semanas.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunPontianak.co.id dengan judul "1.300 Jiwa Terdampak Banjir! Kades Tempapan Hulu, Asmanto Minta Solusi Normalisasi Sungai".
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang