Alasan Ekspor Mobil dari Indonesia Sulit Tembus Negara Maju

 Ekspor mobil secara utuh atau Completely Built Up (CBU) dari Indonesia mencatatkan hasil positif di 2025. Angkanya berhasil tembus 518.212 unit.

Dari total ekspor, Toyota masih memimpin dengan jumlah 175.446 unit disusul Daihatsu 124.848 unit, kemudian Mitsubishi 105.079 unit.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyorot angka ekspor mobil dari Indonesia terus mengalami peningkatan seiring berjalannya waktu.

Meskipun begitu, pihak Gaikindo mengungkapkan jenis mobil yang diekspor bisa dibilang cukup terbatas.

Ekspor Suzuki

“Di Indonesia yang banyak diproduksi oleh pabrikan tersebut adalah mobil-mobil dengan harga Rp 300 jutaan ke bawah, bentuknya Multi Purpose Vehicle (MPV) 7-seater,” kata Jongkie Sugiarto, Ketua I Gaikindo di sela IIMS 2026 beberapa waktu lalu.

Akibatnya, Jongkie menyebut hanya mobil jenis MPV 7-seater banyak diekspor ke pasar global.

Jumlah negara sasaran ekspor Indonesia cukup banyak, tetapi belum mampu menembus negara maju.

“Betul 93 negara sudah kita masuki, tetapi rata-rata negara berkembang yang kira-kira sama dengan Indonesia. Jadi agak sulit menembus pasar misalnya Amerika, Eropa dengan produk kita di sini,” kata Jongkie.

Negara berkembang tujuan ekspor Indonesia berada di kawasan seperti Timur Tengah dan Asia Tenggara.

Tujuan ekspor Indonesia baru akan bisa berkembang, apabila ada peningkatan pendapatan per kapita dan daya beli masyarakat. Ini berimbas pada jenis kendaraan pilihan konsumen.

“Supaya permintaan orang membeli mobil itu jangan yang Rp 300 juta saja, tetapi Rp 1 miliar. Kalau pendapatan per kapitanya sudah Rp 10 juta, dia bisa membeli mobil Rp 800 juta, Rp 900 juta,” kata Jongkie.

Ketika deretan mobil-mobil di segmen tersebut memiliki banyak peminat di pasar domestik, peluangnya untuk diekspor akan semakin besar.

Sehingga pada akhirnya jenis mobil diekspor dari Indonesia akan semakin variatif, tidak terbatas di model dengan rentang harga Rp 300 jutaan.

Bergantung pada Keputusan Prinsipal

Jongkie menekankan, keputusan terkait model yang akan diekspor juga bergantung pada prinsipal dan kondisi ekonomi global.

Ekspor Toyota Indonesia

“Itu kita tidak bisa berikan (proyeksi ekspor 2026). Karena para prinsipal pun tidak bisa memberitahukan saya,” tegas Jongkie.

Di sisi lain, apabila negara tujuan ekspor tengah mengalami situasi seperti perang, tentunya performa ekspor mobil ikut terhambat.

Gaikindo sendiri, menurut Jongkie tidak memiliki target tertentu soal ekspor mobil CBU di 2026. Karena ada banyak faktor yang tidak dapat diprediksi dan dapat mempengaruhi kinerja ekspor.