Kisah Kapal Induk Thailand Berakhir Jadi Obyek Wisata: Boros, Tanpa Pesawat Tempur
Thailand pernah mencatat sejarah sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki kapal induk layaknya negara-negara besar di dunia.
Kapal tersebut diberi nama HTMS Chakri Naruebet dan dioperasikan oleh Royal Thai Navy.
Kehadiran kapal induk ini sempat meningkatkan citra kekuatan militer Thailand di kawasan.
Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Tingginya biaya operasional membuat kapal induk Thailand jarang digunakan untuk operasi militer dan akhirnya lebih sering difungsikan sebagai sarana latihan serta obyek wisata.
Awal Mula Thailand Membeli Kapal Induk
Gagasan pembelian kapal induk bermula dari bencana topan Gay yang melanda Thailand pada 1989.
Bencana tersebut menewaskan ratusan orang dan berdampak pada lebih dari 154.000 penduduk.
Saat operasi tanggap darurat berlangsung, Angkatan Laut Thailand mengalami kesulitan melakukan penyelamatan karena tidak memiliki kapal yang mampu beroperasi dalam kondisi gelombang besar di Teluk Thailand.
Dilansir dari Kompas.id, Rabu (12/2/2025), bencana tersebut mendorong pemerintah menyusun rencana pengadaan kapal induk.
Pembangunan HTMS Chakri Naruebet dimulai pada 1992 dengan investasi sekitar 285 juta dollar AS.
Desainnya mengacu pada kapal induk Angkatan Laut Spanyol, Principe de Asturias, dan dibangun di galangan kapal Bazán, Spanyol.
Setelah proses pembangunan selama lima tahun, kapal tersebut resmi diserahkan kepada Royal Thai Navy pada 1997.
Nama Chakri Naruebet memiliki arti Demi Kedaulatan Dinasti Chakri.
Spesifikasi HTMS Chakri Naruebet
HTMS Chakri Naruebet memiliki panjang 182,6 meter dengan lebar 22,5 meter dan bobot sekitar 11.485 ton.
Kapal ini mampu menampung 62 perwira, 393 pelaut, 146 awak udara, serta 675 personel marinir.
Sistem penggeraknya menggunakan kombinasi dua turbin gas GE LM2500 dan mesin diesel Bazán-MTU 16V1163 TB83.
Kapal ini juga dilengkapi jangkauan operasi hingga 10.000 mil laut atau sekitar 19.000 kilometer dengan kecepatan jelajah 12 knot.
Dibandingkan kapal induk lain di dunia, ukuran HTMS Chakri Naruebet tergolong kecil.
Kapal induk kelas Nimitz milik Angkatan Laut Amerika Serikat, misalnya, memiliki panjang sekitar 333 meter dengan bobot mencapai 100.000 ton serta mampu membawa 90 pesawat tempur.
Ukuran kapal induk Thailand juga masih lebih kecil dibandingkan kapal induk Charles de Gaulle milik Angkatan Laut Perancis yang memiliki panjang 261,5 meter, lebar 64,36 meter, dan berat 42.000 ton.
Operasional yang Tidak Mudah
HTMS Chakri Naruebet sebenarnya dirancang untuk mengoperasikan pesawat Sea Harrier “Matador” V/STOL dan helikopter S-70 Seahawk.
Kapal ini dapat membawa enam pesawat AV-8S Matador ditambah empat hingga enam helikopter Seahawk.
Thailand sempat membeli sembilan unit pesawat Matador, termasuk pesawat latih.
Sayangnya, keterbatasan suku cadang dan mahalnya biaya perawatan membuat seluruh pesawat tersebut dipensiunkan pada 2006.
Krisis ekonomi Asia yang terjadi pada akhir 1990-an turut memengaruhi kemampuan operasional kapal ini.
Fungsi kapal induk Thailand akhirnya menjadi terbatas. Meski pernah digunakan dalam sejumlah misi kemanusiaan, seperti bantuan saat gempa Samudera Hindia 2004 serta banjir di Thailand pada 2010 dan 2011, kapal ini lebih sering bersandar di pelabuhan.
Biaya operasional menjadi kendala utama. Untuk mengoperasikan kapal saja dibutuhkan sekitar 2 juta baht Thailand, sedangkan latihan selama tiga hari dapat menghabiskan sekitar 1 juta baht.
Kondisi ini membuat penggunaannya dibatasi hanya untuk latihan dan misi bantuan kemanusiaan.
Akhirnya, kapal tersebut lebih banyak ditempatkan di Pangkalan Angkatan Laut Sattahip dan dibuka untuk kunjungan publik sebagai obyek wisata.
Kapal Induk Tanpa Pesawat Tempur
Sementara itu, The Diplomat pada Senin (8/12/2025), menyebutkan bahwa HTMS Chakri Naruebet dilengkapi landasan lompatan atau ski-jump yang dirancang untuk mendukung pesawat lepas landas dan mendarat vertikal maupun jarak pendek, serta berbagai jenis helikopter.
Namun, setelah pesawat AV-8S Matador terakhir dinonaktifkan pada 2006 akibat keterbatasan suku cadang, kapal ini praktis berfungsi sebagai kapal induk helikopter.
Selain faktor teknis dan biaya, kondisi keamanan kawasan yang relatif stabil setelah Perang Dingin juga memengaruhi peran kapal tersebut.
Tanpa kebutuhan operasi jarak jauh, seperti angkatan laut perairan biru, kepemilikan kapal induk ini kerap dipandang lebih sebagai simbol prestise dibanding kebutuhan operasional militer.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang