Exco PSSI Jawab Tudingan Gelombang Pemain Diaspora ke Indonesia Demi Piala AFF

Arya Sinulingga, Super League 2025-2026, PSSI, Piala AFF, ASEAN Championship, Exco PSSI Jawab Tudingan Gelombang Pemain Diaspora ke Indonesia Demi Piala AFF

Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, merespons rumor yang menyatakan gelombang kedatangan pemain diaspora ke Indonesia demi Piala AFF atau ASEAN Championship 2026.

Menurut Arya Sinulingga, hal tersebut merupakan sebuah teori konspirasi.

Kompetisi Super League 2025-2026 memang menyambut banyak pemain diaspora Timnas Indonesia yang sebelumnya merumput di kompetisi Asia dan Eropa.

Tercatat, hingga ditutupnya bursa transfer paruh musim, sudah ada 10 pemain diaspora yang bergabung ke klub Indonesia.

Mereka adalah Jordi Amat, Thom Haye, Eliano Reijnders, Jens Raven, Rafael Struick, Shayne Pattynama, Dion Markx, Ivar Jenner, Mauro Zijlstra, dan Cyrus Margono.

Situasi tersebut memunculkan sebuah dugaan di mana ini merupakan proyek PSSI.

Tujuannya agar para pemain tersebut bisa memperkuat Timnas Indonesia di Piala AFF atau ASEAN Championship 2026 yang akan bergulir mulai Juli hingga Agustus mendatang, demi mengukir sejarah meraih gelar untuk pertama kalinya.

Respons PSSI

Menurut Arya, asumsi tersebut tidaklah masuk akal. Sebab, perpindahan pemain adalah kegiatan yang melibatkan sejumlah kesepakatan di dalamnya.

Sehingga, tidak mungkin PSSI memberikan perintah kepada klub untuk memaksakan transfer seorang pemain.

"Kita ini terlalu banyak teori konspirasi ya. Karena namanya pemain, transfer, itu menyangkut uang. Menyangkut duit. Yang bayar pemain siapa? Apakah PSSI atau klub?" ujar Arya kepada awak media ketika ditemui di GBK Arena, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Arya Sinulingga, Super League 2025-2026, PSSI, Piala AFF, ASEAN Championship, Exco PSSI Jawab Tudingan Gelombang Pemain Diaspora ke Indonesia Demi Piala AFF

Mauro Zijlstra resmi diumumkan sebagai pemain Persija Jakarta, Rabu (4/2/2026).

"Kalau klub, berarti urusannya apa nih? Urusan duit. Tawar menawar. Yang bayar klub. PSSI enggak ada ikut-ikutan bayar di situ. Jadi, lucu kalau dibilang bahwa skenario PSSI untuk AFF," ungkap dia.

Arya menegaskan, kepindahan para pemain diaspora ke klub Indonesia pasti terjadi setelah melalui proses negosiasi yang disetujui antara klub dengan sang pemain.

Sesuai dengan Kebutuhan Klub, Bukan Paksaan

Ia mengutarakan klub-klub mendatangkan pemain sesuai dengan kebutuhan, bukan paksaan.

"Memangnya pemain mau dibayar murah? Pemain pasti punya tawaran segini. Klub punya uang enggak? Kalau enggak cocok, ya enggak jadi. Kalau cocok bayarannya, ya jadi," kata Arya.

"Jadi, itu mekanisme pasar saja. Jadi, teori-teori konspirasi silakan, tapi tolong yang cerdas. Kalau tidak cerdas, nanti malu juga pengamatnya," tutur dia.

Agenda Piala AFF atau ASEAN Championship ini memang bukan termasuk kalender resmi FIFA.

Sehingga, kerap terjadi tarik-menarik antara klub dengan federasi ketika turnamen antarnegara ASEAN ini berlangsung.

Sepanjang sejarah, Indonesia belum sekali pun merasakan juara di turnamen ini. Pencapaian terbaiknya hanya enam kali finis sebagai runner up.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang