Identitas Bisa Dicuri Lewat AI, Pakar Sebut Penipuan Lewat Deepfake Sudah Tak Terkendali
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang seharusnya mendorong efisiensi justru membuka babak baru kejahatan digital. Jika dulu penipuan online identik dengan pesan spam atau telepon mencurigakan, kini wajah, suara, bahkan identitas seseorang bisa dipalsukan dengan sangat meyakinkan.
Fenomena ini bukan lagi kasus sporadis, melainkan disebut sudah terjadi secara masif dan terorganisir.
Sebuah analisis dari pakar AI mengungkap bahwa penipuan berbasis deepfake kini berlangsung dalam skala industri. Teknologi untuk membuat konten palsu yang ditargetkan ke individu tertentu tidak lagi mahal atau sulit diakses.
Justru sebaliknya, alat-alat tersebut dinilai semakin murah, mudah digunakan, dan bisa diproduksi dalam jumlah besar. Laporan dari AI Incident Database mencatat lebih dari selusin contoh terbaru “penyamaran demi keuntungan” atau impersonation for profit.
Kasusnya beragam, mulai dari video deepfake jurnalis Swedia, presiden Siprus, hingga dokter palsu yang mempromosikan produk krim kulit. Bahkan, ada video deepfake perdana menteri Australia Barat yang digunakan untuk mengiklankan skema investasi.
Tren ini menunjukkan penipu memanfaatkan AI yang tersedia luas untuk menjalankan aksi yang semakin tertarget. Tahun lalu, seorang pejabat keuangan di perusahaan multinasional Singapura mentransfer hampir 500.000 dolar AS kepada penipu setelah mengikuti panggilan video yang ia yakini berasal dari pimpinan perusahaan. Di Inggris, konsumen diperkirakan kehilangan £9,4 miliar akibat penipuan dalam sembilan bulan hingga November 2025.
“Kemampuan teknologi sekarang sudah sampai pada titik di mana konten palsu bisa diproduksi oleh hampir siapa saja,” kata Simon Mylius, peneliti MIT yang terlibat dalam proyek terkait AI Incident Database, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Minggu, 8 Februari 2026.
Ia menghitung bahwa penipuan, scam, dan manipulasi yang ditargetkan menjadi porsi terbesar insiden yang dilaporkan ke database tersebut dalam 11 dari 12 bulan terakhir. “Teknologi ini menjadi sangat mudah diakses sampai-sampai tidak ada lagi hambatan untuk masuk,”
Pandangan serupa disampaikan Fred Heiding, peneliti Harvard yang mempelajari penipuan berbasis AI. “Skalanya sedang berubah,” ujarnya. “Biayanya menjadi sangat murah, hampir semua orang sekarang bisa menggunakannya. Model AI berkembang sangat baik dan kecepatannya jauh melampaui perkiraan banyak ahli,” ujarnya.
Contoh nyata dialami Jason Rebholz, CEO perusahaan keamanan AI Evoke. Ia mengaku hampir merekrut kandidat kerja yang ternyata menggunakan video deepfake saat wawancara daring. “Latar belakang videonya terlihat sangat palsu,” katanya. “Tampilannya benar-benar terasa tidak alami, dan sistemnya kesulitan memproses bagian tepi tubuh orang tersebut. Seperti ada bagian tubuh yang muncul dan hilang. Wajahnya juga terlihat sangat lembut di bagian tepi.”
Setelah mengirim rekaman wawancara ke perusahaan pendeteksi deepfake, ia diberi tahu bahwa gambar video kandidat tersebut dihasilkan AI. “Kalau perusahaan kecil seperti kami saja jadi target, berarti semua orang juga sedang jadi target,” kata Rebholz.
Heiding memperingatkan dampak ke depan bisa lebih serius. Teknologi kloning suara sudah sangat meyakinkan, sementara video deepfake terus berkembang. Menurutnya, risiko terbesarnya adalah runtuhnya kepercayaan pada sistem digital.
“Ini akan jadi titik sakit terbesar, yaitu hilangnya kepercayaan terhadap institusi digital, bahkan terhadap institusi dan materi secara umum,” ujarnya.