Mencari Relasi hingga Jodoh Lewat AI dan Astrologi

Ilustrasi pegang HP dengan pasangan
Ilustrasi pegang HP dengan pasangan

Di tengah kehidupan urban yang serba cepat, membangun relasi baru sering kali terasa tidak mudah. Banyak orang hadir di berbagai acara sosial, namun tetap kesulitan menemukan koneksi yang benar-benar terasa “klik”. Fenomena ini memunculkan pertanyaan, apakah teknologi bisa membantu mempertemukan orang yang lebih relevan satu sama lain?

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya digunakan di bidang bisnis atau industri kreatif, tetapi juga mulai merambah ranah sosial. AI dinilai mampu mengolah data dalam jumlah besar dan menemukan pola, termasuk pola kecocokan antarindividu. Di sisi lain, astrologi, baik Barat (zodiak) maupun Tiongkok, telah lama dipercaya sebagian orang sebagai alat untuk memahami karakter dan potensi hubungan.

Konsep inilah yang kemudian dihadirkan dalam acara bertajuk Cosmic Affair yang digagas oleh AICO, komunitas AI terbesar di Indonesia dengan lebih dari 20.000 anggota. Acara ini menjadi eksperimen sosial yang memadukan algoritma AI dengan sistem zodiak dan BaZi Tiongkok untuk membantu peserta menemukan relasi baru secara lebih terarah.

“Jadi sebenarnya banyak orang kan yang percaya sama astrologi ya, baik itu barat atau China ataupun mungkin kayak ilmu-ilmu astrologi apapun gitu, buat nyari jodoh atau pilihan hidup mereka mau kemana akhirnya. Jadi kita pikir kenapa nggak kita bikin konsep party, ratusan orang datang ke satu tempat, tapi cara mereka dicocokin ngobrolnya sama siapa, hangout sama siapa, itu ditentuin sama astrologi dan AI. AI yang ngebantu supaya mereka ngerti astrologinya apa, ngertinya kenapa cocok sama orang ini,” ujar Co-Founder AICO, Reynaldi Francois di kawasan SCBD, Jakarta Selatan pada 15 Februari 2026. 

Eksperimen sosial perpaduan AI dan astrologi

Eksperimen sosial perpaduan AI dan astrologi

Sebanyak 120 peserta dari beragam latar belakang hadir dalam acara tersebut. Mereka cukup memasukkan tanggal lahir dan jam lahir (jika tahu dan ingat) melalui ponsel masing-masing. Sistem kemudian menganalisis profil astrologi menggunakan kombinasi zodiak Barat dan BaZi, lalu mencocokkannya dengan peserta lain di ruangan yang sama.

Reynaldi menyebut ide ini sebagai eksperimen sosial yang sudah lama ada dalam benak mereka. “Jadi itu semacam social experiment yang kita punya di kepala kita dan kita pikir yaudah kita coba bikin aja, mumpung kita punya komunitas AI-nya, kita punya tools AI-nya, yaudah kita coba aja siapa tau beneran bikin satu momen di mana ratusan orang ini bisa punya koneksi-koneksi yang beneran bener-bener connect secara nyata sih.”

Menariknya, sesi perkenalan tidak hanya berfokus pada relasi romantis. Ada format pertemanan kelompok, partner bisnis, hingga konsep opposite attract. Saat hitung mundur di layar ponsel berakhir, identitas pasangan atau grup yang cocok langsung muncul lengkap dengan alasan kecocokan versi analisis AI.

Co-Founder AICO lainnya, Tommy Teja, menegaskan bahwa seluruh data peserta hanya digunakan selama acara berlangsung. Setelah selesai, data akan dihapus untuk menjaga privasi. 

“Dan di aplikasinya, dan di sesi pendaftaran juga kita udah bilang, kalau setelah acara kelar, semua data bakal dihapus juga,” katanya menambahkan. 

Tommy juga menyebut bahwa ini adalah langkah awal eksplorasi konsep event berbasis AI. “Ini baru acara perdana kita, dimana kita bikin party menggunakan astrologi dan AI, jadi kita nggak sabar juga untuk lihat antusiasme orang-orang gimana,” tandasnya.