Google Hapus Informasi AI Kesehatan, Pakar: AI Bukan Dokter Digital

Google, Google Hapus Informasi AI Kesehatan, Pakar: AI Bukan Dokter Digital, Pakar: peran manusia mutlak dibutuhkan, AI bukan sumber kebenaran absolut, Bahaya percaya AI tanpa pengawasan , AI hanya alat bantu, bukan pengganti dokter

Baru-baru ini, muncul kabar bahwa Google menghapus sejumlah informasi berbasis kecerdasan buatan (AI) terkait kesehatan. 

Dilansir dari Antara Senin (12/1/2026), Google membatasi fitur AI Overviews untuk beberapa pencarian kesehatan setelah laporan The Guardian menemukan jawaban AI bisa menyesatkan.

Salah satunya, ringkasan soal rentang normal tes darah hati yang tidak memperhitungkan usia atau jenis kelamin, sehingga berisiko membuat orang salah memahami kondisi kesehatannya.

Setelah temuan itu, ringkasan AI untuk sejumlah pertanyaan kesehatan tidak lagi ditampilkan.

Dari pihak Google sendiri menyebut, perusahaan terus memperbaiki sistem AI-nya

Lantas, bagaimana tanggapan pakar mengenai penghapusan informasi kesehatan berbasis AI?

Pakar: peran manusia mutlak dibutuhkan

Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menilai kebijakan Google tersebut menegaskan bahwa AI tidak bisa dijadikan rujukan kesehatan tanpa pengawasan tenaga medis. 

Menurutnya, sektor kesehatan merupakan domain berisiko tinggi sehingga pemanfaatan AI harus ditempatkan dalam kerangka keselamatan pasien.

"Penting sekali dipahami bahwa kesehatan itu high risk domain. Jadi setiap pemanfaatan AI itu harus ditempatkan dalam kerangka keselamatan pasien atau patient safety dan etika medik," kata Dicky Budiman, saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (13/1/2026). 

Langkah Google membatasi informasi kesehatan berbasis AI menyoroti kembali batas pemanfaatan teknologi ini di bidang medis.

Dicky menilai langkah tersebut menunjukkan bahwa AI tidak selalu dapat dijadikan rujukan tanpa pengawasan manusia. 

Ia menegaskan, isu kesehatan tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada algoritma.

"Menyikapi penghapusan informasi AI dalam konteks kesehatan untuk beberapa jenis penyakit ya oleh Google, sebetulnya langkah ini menunjukkan AI sekali lagi tidak selalu benar. Validasi ilmiah dan pengawasan manusia itu mutlak diperlukan," ujarnya.

Menurut Dicky, penghapusan informasi AI oleh Google justru memperkuat prinsip bahwa teknologi harus berada dalam ekosistem layanan kesehatan formal.

AI bukan sumber kebenaran absolut

Dicky menegaskan AI tidak dapat diperlakukan sebagai sumber kebenaran absolut dalam konteks kesehatan. 

Menurutnya, algoritma memiliki keterbatasan dalam membaca konteks klinis individual pasien. 

Dalam hal menerjemahkan konteks klinis, tenaga kesehatan belum bisa digantikan oleh teknologi AI sekalipun.

"Isu kesehatan, masalah kesehatan, tidak boleh diserahkan sepenuhnya pada algoritma," katanya.

Dicky menambahkan, informasi kesehatan selalu bersifat kontekstual dan memerlukan penilaian profesional. 

Karena itu, konsultasi dengan tenaga medis tetap menjadi standar utama dalam pengambilan keputusan klinis.

"AI itu tidak memiliki clinical judgement, tidak punya empati, dan tidak juga punya tanggung jawab etik dan hukum," ujar Dicky.

Bahaya percaya AI tanpa pengawasan 

Lebih lanjut, Dicky mengingatkan adanya risiko jika masyarakat terlalu percaya pada AI tanpa pengawasan tenaga kesehatan. 

Salah satu risiko utama adalah automation bias, ketika pengguna menerima rekomendasi AI tanpa verifikasi.

Ia juga menyoroti risiko false reassurance, yakni kondisi ketika AI memberikan rasa aman palsu yang dapat menunda penanganan medis serius.

"Ada potensi bahaya terutama karena risiko informasi yang keliru, over confidence bias pada pengguna, dan keterbatasan AI dalam membaca konteks klinis individual," jelasnya.

Menurut Dicky, penggunaan AI untuk diagnosis mandiri dan terapi tanpa supervisi profesional dapat berdampak fatal jika tidak dikendalikan dengan baik.

AI hanya alat bantu, bukan pengganti dokter

Dicky menegaskan bahwa AI di sektor kesehatan seharusnya diposisikan sebagai augmentative intelligence, bukan sebagai otoritas medis yang berdiri sendiri.

"AI itu hanya mendukung, bukan menggantikan pengambilan keputusan klinis,” katanya.

Sosok yang mendapat gelar PhD bidang Global Health Security itu menyebut AI dapat dimanfaatkan untuk edukasi kesehatan awal, skrining, dan triase risiko. 

Namun, keputusan klinis tetap harus berada di tangan dokter yang memiliki tanggung jawab profesional dan hukum.

"Jadi, ini (AI) kan asisten cerdas, bukan dokter digital," ujar Dicky.

Menurutnya, masa depan layanan kesehatan bukanlah pertarungan antara AI dan dokter, melainkan kolaborasi keduanya.

"Masa depan kesehatan itu bukan AI versus dokter, tapi dokter plus AI untuk keselamatan dan keadilan kesehatan masyarakat," terangnya. 

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang