Generasi Sandwich di Antara Tanggungan keluarga dan Tabungan Menikah

generasi sandwich, Generasi Sandwich di Antara Tanggungan keluarga dan Tabungan Menikah

Menikah bagi generasi muda kini bukan sekadar soal kesiapan emosional, tetapi juga kemampuan finansial yang tidak sedikit. Terutama bagi mereka yang berada di posisi sandwich generation, yaitu kelompok yang harus membiayai kebutuhan orangtua sekaligus menyiapkan masa depan sendiri.

Mungkinkah generasi sandwich tetap menabung untuk pernikahan tanpa mengabaikan tanggung jawab keluarga?

Konsultan keuangan keluarga, Dea Arvina Ermacasnia menilai, posisi sandwich generation memang tidak mudah, tetapi bukan berarti mustahil menyiapkan tabungan pernikahan.

“Mungkin banget (punya tabungan), tapi perlu strategi dan kejujuran. Yang penting ada komunikasi dan batasan yang kita anut,” jelas Dea saat dihubungi Kompas.com, Rabu (4/2/2026).

Menurut Dea, kesalahan yang sering terjadi adalah memikul seluruh beban keluarga seorang diri.

Padahal, kondisi finansial tiap orang memiliki batas yang perlu dijaga agar tidak berujung kelelahan emosional maupun konflik rumah tangga di kemudian hari.

“Tim sandwich generation harus punya batas finansial yang jelas, jangan memikul semua beban sendirian, sharing dengan yang lainnya jika ada saudara,” ujarnya.

Ia menekankan, kesiapan menikah bagi sandwich generation bukan soal kesempurnaan kondisi, melainkan kesiapan untuk berproses secara bertahap dan sadar peran.

Transparansi sejak awal dengan pasangan

Senada dengan Dea, perencana keuangan profesional Rista Zwestika Reni menegaskan, keterbukaan adalah fondasi utama bagi sandwich generation yang ingin menikah.

“Sandwich generation itu transparan sejak awal ke pasangan. Buat batasan, misalnya berapa yang bisa dibantu, berapa yang tidak,” kata Rista.

generasi sandwich, Generasi Sandwich di Antara Tanggungan keluarga dan Tabungan Menikah

Menurutnya, kejujuran soal tanggungan keluarga justru membantu pasangan membangun ekspektasi yang realistis sejak awal pernikahan.

Tanpa transparansi, beban finansial bisa berubah menjadi sumber konflik yang sulit diselesaikan.

Rista juga mengingatkan, berbakti kepada orangtua tidak berarti mengorbankan masa depan keluarga baru yang sedang dibangun.

“Jangan mengorbankan masa depan keluarga baru demi menutup semua lubang. Ingat, kamu anak berbakti, tapi bukan ATM berjalan,” tegasnya.

Menentukan batas agar tidak lelah berkepanjangan

Baik Dea maupun Rista sepakat bahwa batasan finansial bukan bentuk egoisme, melainkan langkah menjaga keberlangsungan rumah tangga.

Menurut Dea, pasangan harus memiliki visi yang sama sejak awal agar tidak saling menyalahkan ketika menghadapi keterbatasan.

“Yang paling penting, pasangan harus satu visi sejak awal. Bersyukur dan diniatkan ibadah karena berarti kita diizinkan bersedekah ke keluarga terdekat terlebih dahulu,” ungkap Dea.

Ia menambahkan, membangun keluarga tidak harus dilakukan dengan serba ideal. Proses yang dijalani bersama justru menjadi fondasi yang lebih kuat dibanding memaksakan kondisi.

“Keluarga bisa dibangun pelan-pelan, tidak harus sempurna. Yang penting berproses tanpa saling menyalahkan,” lanjutnya.

Sementara itu, Rista mengingatkan penting bagi sandwich generation agar tidak terjebak pada pengorbanan yang melelahkan.

“Menolong keluarga itu mulia, tapi menghancurkan rumah tangga sendiri bukan pengorbanan, itu kelelahan,” pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang