Saat Gaji Tak Lagi untuk Diri Sendiri, Cerita Dian dan Realitas Generasi Sandwich

Saat Gaji Tak Lagi untuk Diri Sendiri, Cerita Dian dan Realitas Generasi Sandwich, Bukan keputusan sepihak, Gaya hidup turut berubah, Saat mimpi harus ditunda, Kuat menghadapi tekanan mental, Bertahan lewat dukungan emosional dan hobi membaca

Bagi Dian (30), Agustus 2025 bukan sekadar pergantian bulan. Dari situlah hidupnya pelan-pelan berubah, ketika ayahnya mendapat diagnosa stroke dan tak lagi bisa bekerja.

Sang ibu berhenti bekerja untuk merawat, adik kehilangan uang saku, dan Dian, karyawan di Surakarta pun mulai memikul peran baru sebagai tumpuan utama keluarga.

Dian mendadak berada di posisi yang kerap disebut sebagai generasi sandwich, kelompok usia produktif yang tengah menopang kebutuhan keluarga sekaligus dirinya sendiri.

"Awalnya cukup shock. Sebelumnya kan enggak pernah ada di posisi ini, ya. Tiba-tiba semuanya berubah," ujarnya bercerita dengan Kompas.com, Jumat (6/2/2026).

Bukan keputusan sepihak

Dian mengaku, keputusan soal siapa yang akan bekerja sebenarnya diambil lewat diskusi keluarga.

"Sebenarnya bukan keputusan sepihak, kita udah ada diskusi. Dengan kesadaranku, ibu aja yang merawat bapak di rumah, dan aku yang bekerja," kata Dian.

Meski begitu, sejak saat itu seluruh kebutuhan keluarga, dari uang bulanan, biaya pengobatan, hingga kebutuhan adik, berpindah ke tangannya.

Setiap menerima gaji, Dian langsung memisahkan uang untuk rumah di awal bulan.

Dian yang kini menerima gaji Rp 2,5 juta per bulan, mengalokasikan Rp 1 juta untuk kebutuhan rumah, sementara sisanya digunakan untuk mencukupi biaya hidup di perantauan.

Nominal tersebut rutin ia transfer, sebelum mengatur sisa gaji untuk kebutuhan pribadinya.

Gaya hidup turut berubah

Di tengah kondisi tersebut, Dian juga dihadapkan dengan tanggungan lain: adanya utang keluarga akibat situasi darurat kesehatan.

Meski sempat muncul perasaan berat, Dian memilih menanggungnya.

"Sebenarnya nominalnya tidak begitu banyak, tetapi untuk aku yang tipikal tidak suka berhutang aku memutuskan untuk ikut menyelesaikan kewajiban itu," ujar Dian.

Utang tersebut akhirnya berhasil dilunasi dalam beberapa bulan, tetapi tanggungan rutin tetap berjalan.

Perubahan finansial itu membuat gaya hidup Dian ikut bergeser.

Aktivitas sederhana seperti nongkrong di kafe atau jalan ke pusat perbelanjaan kini harus dipertimbangkan matang.

Dian yang sebelumnya aktif pergi ke gym, kini terpaksa menghentikannya.

Ia lebih memilih ruang publik gratis, atau memanfaatkan promo saat ingin sekadar ngopi.

apa mikir," ungkap Dian sambil tertawa kecil.

Saat mimpi harus ditunda

Namun, beban terbesar bagi Dian bukan semata soal uang.

Ia mengaku paling terpukul ketika menyadari mimpi dan rencana hidupnya harus ditunda.

Sebagai pribadi yang terbiasa menyusun target tahunan, Dian sempat menyiapkan rencana besar untuk tahun 2025.

Semua rencana itu berubah ketika prioritas keuangan bergeser.

Alokasi yang semula disiapkan untuk pengembangan diri dan mimpi pribadi harus dialihkan demi kebutuhan keluarga.

"Rasanya sedih banget," kata Dian. Ia harus berdamai dengan kenyataan bahwa ambisi pribadi tak lagi bisa menjadi yang utama.

Kuat menghadapi tekanan mental

Perubahan hidup mendadak tersebut berdampak besar pada kondisi mental Dian.

Ia menyebut pertengahan tahun sebagai fase paling berat yang pernah ia jalani.

Ada rasa kehilangan arah, cemas terhadap masa depan, dan perasaan terjebak dalam keadaan yang tak ia bayangkan sebelumnya.

Dian tak pernah membayangkan harus menjadi tulang punggung keluarga di usia yang relatif muda.

Namun keadaan memaksanya beradaptasi, meski tidak mudah.

Saat Gaji Tak Lagi untuk Diri Sendiri, Cerita Dian dan Realitas Generasi Sandwich, Bukan keputusan sepihak, Gaya hidup turut berubah, Saat mimpi harus ditunda, Kuat menghadapi tekanan mental, Bertahan lewat dukungan emosional dan hobi membaca

Saat sang ayah jatuh sakit membuat Dian (30) mendadak jadi tulang punggung keluarga. Ini kisahnya sebagai generasi sandwich.

Bertahan lewat dukungan emosional dan hobi membaca

Di tengah tekanan itu, dukungan teman menjadi penopang penting.

Dian bersyukur memiliki lingkar pertemanan yang mau mendengarkan dan menemani saat pikirannya terasa penuh.

"Aku tetap main sama teman-teman, kalo aku lagi over thinking biasanya aku tetap jalan-jalan sama mereka," kata Dian.

Selain itu, ia memilih melakukan hal-hal sederhana yang ia sukai, seperti membaca buku, untuk menjaga kewarasan.

"Baca buku jadi salah satu caraku kabur sejenak dari pikiran-pikiran yang rumit," ungkapnya.

Secara finansial, Dian mengakui kondisinya belum stabil.

Tabungan nyaris tak tersisa, bahkan di beberapa bulan pemasukan terasa habis untuk memenuhi kewajiban.

Untuk sementara, berhemat menjadi strategi utama yang bisa ia lakukan.

Selain itu, ia juga tengah mencoba mencari pekerjaan tambahan untuk menambah pemasukan.

Pelajaran dari realitas generasi sandwich

Dari pengalaman tersebut, Dian menarik satu pelajaran penting, hidup bisa berubah kapan saja.

Karena itu, ia berpesan kepada generasi muda yang baru mulai bekerja agar tidak menunda perencanaan keuangan.

Dana darurat, kebiasaan mencatat pengeluaran, dan investasi sejak dini menjadi hal yang kini ia pandang krusial.

Kini, Dian tak lagi memasang target besar. Fokusnya lebih sederhana, keluarga sehat, kebutuhan tercukupi, dan dirinya tetap kuat secara mental.

Mimpinya bukan berarti hilang, hanya disimpan sementara.

Bagi Dian, menjadi generasi sandwich bukan soal pilihan.

Ini adalah realitas yang datang tanpa aba-aba, dan bertahan di dalamnya sudah menjadi sebuah pencapaian.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang