Teknologi Tumbuh Makin Cepat, Tata Kelola Menentukan Arah Dampaknya

Ilustrasi Teknologi digital.
Ilustrasi Teknologi digital.

Perkembangan kecerdasan buatan, sistem digital, dan teknologi mobilitas cerdas kini semakin memengaruhi cara masyarakat berinteraksi, bekerja, dan mengambil keputusan. Namun, kemajuan tersebut juga memunculkan tantangan baru, terutama terkait tata kelola teknologi, transparansi algoritma, serta dampaknya terhadap kesenjangan sosial. 

Tanpa kerangka kebijakan dan pengawasan yang jelas, teknologi berpotensi berkembang lebih cepat daripada kemampuan masyarakat dan pemerintah dalam mengelolanya secara bertanggung jawab.

Isu mengenai hubungan antara teknologi, kebijakan publik, dan praktik industri inilah yang menjadi fokus pembahasan dalam sebuah forum ilmiah internasional yang digelar oleh Binus Kampus Anggrek, ICOBAR-SMART 2026 Joint Conference. 

Forum ini membahas bagaimana hasil riset akademik dapat menjadi dasar pengambilan keputusan berbasis bukti, sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi agar tidak hanya menguntungkan sektor industri, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kehidupan sosial, ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat.

Wakil Rektor Penelitian & Alih Teknologi Binus, Juneman Abraham

Wakil Rektor Penelitian & Alih Teknologi Binus, Juneman Abraham

Wakil Rektor bidang Penelitian dan Alih Teknologi BINUS, Juneman Abraham menjelaskan bahwa tujuan utama forum ilmiah ini adalah mendiseminasikan temuan riset agar dapat menjadi dasar kebijakan dan praktik industri yang lebih akurat. 

“Jadi tujuan konferensi ini memang untuk mendiseminasikan berbagai temuan-temuan hasil riset di lapangan dari para akademisi,” kata Juneman di Jakarta pada Kamis, 5 Februari 2026.

Tema besar yang diangkat menyoroti pertemuan antara teknologi, tata kelola, dan inovasi bisnis. Menurut Juneman, teknologi tidak boleh berjalan tanpa arah. Ia menekankan pentingnya memastikan bahwa perkembangan AI dan teknologi digital benar-benar kembali kepada masyarakat.

“Jangan sampai teknologi itu kemudian hanya menjadi mainan industri elit begitu ya,” tegasnya. 

Salah satu contoh konkret yang disampaikan adalah pemanfaatan teknologi untuk kelompok rentan. 

“Khususnya untuk kaum-kaum yang lansia ya, lanjut usia itu bisa dibantu dengan teknologi bagaimana kesehatannya itu bisa dimonitor day by day melalui satu teknologi digital,” ujarnya. 

Ia menilai pendekatan semacam ini dapat mencegah risiko sosial yang kerap luput dari perhatian, seperti lansia yang hidup sendirian tanpa pemantauan.

Kolaborasi internasional juga menjadi sorotan penting. Kerja sama dengan Korean Institute of Information Technology membuka akses pada perspektif teknologi mutakhir, terutama di bidang kendaraan listrik dan sistem digital cerdas. 

“Sebagai kita tahu Korea salah satu yang terdepan dalam mengembangkan kendaraan listrik,” kata Juneman, seraya berharap kolaborasi riset lintas negara bisa menghasilkan solusi yang relevan dengan konteks Indonesia.

Namun, di balik optimisme tersebut, tantangan besar tetap ada, terutama soal AI yang bertanggung jawab. Juneman menyinggung risiko algoritma yang tidak transparan. 

“Algoritma AI tidak boleh menjadi suatu black box atau kotak hitam yang kemudian bisa mengambil keputusan dengan dirinya sendiri,” ujarnya. 

Karena itu, konsep explainable AI dan responsible AI dinilai krusial agar teknologi tidak memperlebar kesenjangan sosial. Ia juga menekankan bahwa AI seharusnya mampu menjangkau sektor akar rumput. 

“Mulai dari kalangan petani, nelayan, yang di desa-desa, yang di pelosok,” katanya. Dengan dukungan AI dan blockchain, proses bisnis diharapkan menjadi lebih adil dan tidak bergantung pada perantara yang merugikan.

Forum ini berlangsung pada 5–6 Februari 2026 di Kampus Anggrek, Kemanggisan, dengan fokus topik seperti digital twin untuk transformasi perkotaan, smart mobility, rantai pasok cerdas, hingga data-driven governance. Makalah yang dipresentasikan juga terindeks Scopus, menandakan bobot akademik yang kuat.

Dalam jangka panjang, riset diharapkan tidak berhenti di publikasi ilmiah. “Kita ingin supaya riset menjadi semakin familiar,” ujar Juneman, bahkan mendorong peneliti untuk menulis policy brief agar hasil riset dapat memengaruhi kebijakan publik dan keputusan industri.