Sempat Viral, Ini Asal-usul Patung Macan Putih Kediri yang Kini Jadi Destinasi Wisata

Penampakan patung macan putih di Kabupaten Kediri
Penampakan patung macan putih di Kabupaten Kediri

 Sebelumnya, patung macan putih di Desa Balongjeruk, Kabupaten Kediri, sempat viral di media sosial karena bentuknya dianggap tidak proporsional, bahkan dinilai jauh dari gambaran seekor macan. Namun, di balik bentuk yang menuai pro dan kontra, patung macan putih tersebut ternyata memiliki asal-usul, makna budaya, dan tujuan sosial yang jauh lebih dalam. Tak hanya itu, patung ini justru berkembang menjadi destinasi wisata dadakan yang menghidupkan desa.

Pada momen libur Natal dan Tahun Baru, ratusan wisatawan berdatangan ke Balongjeruk. Mereka berhenti untuk berfoto a was hingga sekadar penasaran ingin melihat langsung patung yang ramai diperbincangkan di internet. Desa yang sebelumnya sunyi mendadak ramai oleh kendaraan dan pejalan kaki.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bagi warga setempat, patung ini sejak awal memang tidak dimaksudkan sebagai karya seni yang sempurna secara anatomi. Tujuan utamanya adalah menghadirkan hiburan sederhana yang bisa dinikmati masyarakat tanpa biaya mahal.

“Kita berusaha memberikan hiburan kepada warga masyarakat berupa wisata murah meriah dan penuh kesederhanaan dan kegembiraan khususnya Balongjeruk dan umumnya warga masyarakat,”jelas Rouf Khoironi, Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat (Kaur Kesra) Desa Balongjeruk.

Macan putih dipilih bukan tanpa alasan. Dalam budaya dan cerita tutur masyarakat Kediri, macan putih dikenal sebagai simbol penjaga wilayah, lambang kekuatan, dan representasi wibawa. Sosok ini dipercaya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Patung tersebut dikerjakan oleh Suwari, seniman patung asal Kediri yang telah berkarya sejak era 1980-an. Ia dikenal menghasilkan berbagai patung, mulai dari tokoh pewayangan, hewan, hingga figur raksasa di wilayah Kediri dan sekitarnya.

Menariknya, proses pengerjaan patung macan putih ini juga disertai pengalaman personal yang membekas bagi Suwari.

“Cerita macan putih itu memang sudah lama saya dengar. Waktu dapat pesanan, saya juga sempat mimpi,” cerita Suwari.

Dalam mimpinya, Suwari memerankan ludruk dengan lakon siluman macan putih. Ia menganggap mimpi tersebut sebagai penguat batin sebelum memulai pengerjaan patung yang sarat simbol bagi warga Balongjeruk.

Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, menambahkan bahwa pembangunan patung tersebut telah melalui musyawarah dengan tokoh masyarakat dan pemuda desa. Macan putih dipilih sebagai ikon karena dinilai sejalan dengan sejarah dan legenda lokal.

Menariknya, pembangunan patung ini tidak menggunakan dana desa, melainkan dana pribadi kepala desa dengan biaya sekitar Rp3.500.000. Dari dana tersebut, berdirilah patung sepanjang 1,5 meter dengan tinggi mencapai 2,5 meter yang kini dikenal luas.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Ini luar biasa. Awalnya sempat dihujat, tapi sekarang malah membawa manfaat dan mengangkat nama desa,” ujar Safi’i.

Manfaat paling nyata terlihat pada pergerakan ekonomi warga. Sepanjang akses menuju patung, warga mulai membuka lapak sederhana. Mereka menjual minuman, jajanan, hingga suvenir bertema macan putih.