Sejarah Panjang Tambang Emas di Indonesia, dari Abad ke-4 hingga Harta Karun Onto

Indonesia memiliki rekam jejak yang sangat panjang dalam dunia pertambangan emas. Jauh sebelum teknologi modern masuk, kekayaan bumi Nusantara telah tercatat dalam naskah kuno Tiongkok dan Sanskerta sejak lebih dari 1.000 tahun lalu sebagai wilayah yang kaya akan logam mulia.
Dalam buku "Emas Indonesia" karya Irwandy Arif, sejarah ini bermula sejak abad ke-4 melalui penambangan aluvial oleh warga Tiongkok di Kalimantan, hingga berkembang menjadi industri skala besar yang kini menyokong ekonomi nasional.
Berikut adalah profil dan sejarah tambang-tambang emas legendaris di Indonesia yang dirangkum oleh Kompas.com:
1. Tambang Cikotok, Banten: Pelopor Antam
Terletak di Kabupaten Lebak, Banten, Cikotok adalah tambang emas pertama yang dikelola oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Cadangannya ditemukan oleh Belanda pada 1924 dengan kadar emas mencapai 8,479 gram/ton.
Setelah sempat dikuasai Jepang untuk keperluan perang, tambang ini resmi menjadi bagian dari Antam pada 5 Juli 1968. Operasi penambangan berakhir pada 2008 dan kini bertransformasi menjadi kawasan geowisata.
"Menara Derek di Cikotok awalnya merupakan mine shaft derrick berupa lubang bukaan vertikal sedalam lebih dari 110 meter yang dibangun pada tahun 1940," tulis Irwandy Arif dalam bukunya.
2. Tambang Pongkor, Jawa Barat: Tambang Bawah Tanah Raksasa
Masih dikelola oleh Antam, Tambang Pongkor berlokasi di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Eksplorasi dimulai pada 1981 dan pabrik pertamanya mulai berproduksi pada 1994 dengan kapasitas 2,5 ton emas per tahun.
Menariknya, Tambang Pongkor memiliki tiga urat emas utama: Ciguha, Kubang Cicau, dan Ciurug.
Meskipun cadangannya diprediksi mulai menipis, wilayah ini tengah disiapkan menjadi Museum Tambang Bawah Tanah sebagai bagian dari Geopark Pongkor.
3. Tambang Batu Hijau, NTB: Dari Newmont ke Amman Mineral
Berlokasi di Sumbawa Barat, Tambang Batu Hijau ditemukan melalui program pengambilan sampel sedimen pada 1987. Awalnya, cadangan emas yang ditemukan sebesar 334 juta ton dengan kadar 0,7 g/t.
Tambang ini sempat dikelola oleh PT Newmont Nusa Tenggara sebelum akhirnya didivestasi pada 2016. Kini, kepemilikan saham mayoritas (82,2 persen) berada di tangan perusahaan nasional, PT Amman Mineral Internasional.
4. Grasberg, Papua: Tambang Emas Terbesar di Dunia
Tambang terbuka Grasberg milik Freeport, di Tembagapura, Timika, Papua Tengah, Selasa (10/12/2024).
Kompleks Grasberg di Mimika, Papua, adalah "raja" tambang emas. Penemuan cadangan di wilayah ini diawali oleh ekspedisi Jean-Jacques Dozy pada 1936 yang menemukan Ertsberg (Gunung Bijih).Berdasarkan data laporan tahunan Freeport McMoRan 2019, total cadangan emas di kompleks Grasberg mencapai 959 ton. Pada 2018, Pemerintah Indonesia melakukan langkah bersejarah dengan membeli 51,236 persen saham Freeport senilai Rp 56,1 triliun melalui Inalum.
5. Tambang Martabe, Sumatra Utara
Tambang Martabe mulai beroperasi sejak 1997 di bawah kontrak karya yang mencakup wilayah Tapanuli Selatan hingga Mandailing Natal. Penemuan emas di sini sangat signifikan, di mana deposit Purnama menjadi salah satu andalannya. Saat ini, kepemilikan Martabe dikuasai oleh PT Danusa Tambang Nusantara sejak 2018.
6. Tambang Tujuh Bukit, Banyuwangi
Dikenal juga dengan nama Tumpang Pitu, tambang ini dikelola oleh PT Bumi Suksesindo (BSI). Meski sempat menuai isu lingkungan karena lokasinya yang berdekatan dengan hutan lindung, pemerintah menetapkannya sebagai Objek Vital Nasional (Obvitnas) pada 2016.
Data menunjukkan Tumpang Pitu memiliki estimasi 99 juta ton bijih dengan kandungan rata-rata 0,8 gram emas/ton.
Masa Depan: Penemuan Endapan Onto
Indonesia diprediksi tidak akan kehabisan cadangan emas dalam waktu dekat.
Pada Agustus 2013, PT Sumbawa Timur Mining menemukan endapan emas raksasa di Onto, Kabupaten Dompu, NTB. Berdasarkan data Desember 2019, total sumber daya mineral di tambang Onto mencapai 1,7 miliar ton dengan kadar emas 0,49 g/t.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang