Permintaan Perhiasan Meningkat di Asia: Indonesia, Malaysia Paling Doyan Beli Emas

Ilustrasi Emas Perhiasan
Ilustrasi Emas Perhiasan

Pasar Asia menjelma menjadi salah satu motor utama pertumbuhan industri perhiasan global. Selain didorong oleh kelas menengah yang terus berkembang, tren konsumsi juga bergerak ke arah produk dengan kualitas tinggi, desain inovatif, dan nilai investasi jangka panjang.

Permintaan perhiasan di kawasan Asia terus menunjukkan tren peningkatan, seiring menguatnya minat konsumen terhadap emas sebagai simbol nilai, budaya, sekaligus instrumen penyimpan kekayaan. Di antara negara-negara Asia, Indonesia dan Malaysia dilaporkan menjadi konsumen yang paling memiliki minat tertinggi terhadap produk perhiasan berbahan emas.

“Indonesia, Malaysia, Timur Tengah sangat suka emas,” kata Associate Director, Business Development, Exhibitions and Digital Business Hong Kong Trade Development Council (HKTDC), Samuel Cheng, saat ditemui di Jakarta.

Associate Director HKTDC Samuel Cheng

Associate Director HKTDC Samuel Cheng

Samuel Cheng menyampaikan, emas perhiasan tidak hanya dipandang sebagai aksesori fesyen, tetapi juga memiliki nilai emosional dan budaya yang mengakar kuat di masyarakat. Faktor tersebut membuat permintaan perhiasan emas relatif stabil, bahkan cenderung meningkat, di tengah dinamika ekonomi global.

Anggapan emas sebagai aset lindung nilai semakin mendorong minat produk perhiasan berbahan emas memiliki daya tarik ganda, yakni sebagai estetika dan nilai ekonomi. Pemikiran ini tak lepas dari pengaruh kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian. 

Samuel juga menyoroti, peningkatan permintaan ini tercermin dari semakin besarnya minat pelaku usaha Indonesia untuk terlibat dalam pameran perhiasan internasional. Tidak hanya sebagai pembeli, produsen dan desainer asal Indonesia juga mulai aktif memanfaatkan ajang global untuk memperluas jaringan dan memperkenalkan produk ke pasar internasional.

Kondisi ini turut mendorong geliat industri perhiasan regional, termasuk meningkatnya aktivitas sourcing dan perdagangan lintas negara. Hong Kong, sebagai salah satu pusat perdagangan perhiasan dunia, memanfaatkan momentum tersebut dengan menghadirkan berbagai pameran dagang internasional yang mempertemukan produsen, desainer, dan pembeli dari berbagai negara, termasuk Indonesia dan Malaysia.

Lebih lanjut, Samuel Cheng mengungkapkan bahwa preferensi terhadap emas masih sangat kuat di sejumlah kawasan, terutama Asia Tenggara dan Timur Tengah. Terlihat dari tinggunya antusiame pada pameran perhiasan unggulan yang mengusung tema Fusion of Dazzling Beauty yang diselenggaran tahun 2025 di Hong Kong. 

Pameran yang diusung oleh HKTDC terdiri dari Hong Kong International Jewellery Show yang berfokus pada perhiasan jadi sementara HKTDC Hong Kong International Diamond, Gem & Pearl Show yang menampilkan batu mulia lepas dan bahan baku perhiasan. Kedua pameran ini masing-masing akan diselenggarakan di Hong Kong Convention and Exhibition Centre dan AsiaWorld-Expo juga akan digelar kembali tahun 2026.

Pada penyelenggaraan tahun 2025, kedua pameran ini berhasil menarik sekitar 82.000 pembeli dari 141 negara dan wilayah, serta diikuti oleh sekitar 4.000 exhibitor dari lebih dari 40 negara dan wilayah, dengan sukses menerapkan format two shows, two venues. Kedua pameran perhiasan internasional ini akan menghadirkan platform bagi exhibitor dan pembeli untuk terhubung dengan mitra bisnis potensial. 

Hong Kong International Jewellery Show akan menghadirkan sejumlah zona tematik, antara lain Hall of Extraordinary, Hall of Fame, dan Designer Galleria. Hall of Extraordinary akan menampilkan koleksi perhiasan kelas atas yang dihiasi berlian, batu mulia, giok, dan mutiara dari exhibitor ternama seperti Dehres, On Tung, Lili Jewelry, Karen Suen, Heinz Mayer, dan Autore Pearls.

Melengkapi kemewahan tersebut, Hall of Fame akan menampilkan jajaran merek internasional terkemuka, antara lain Giorgio Visconti dari Italia, Zhou Liu Fu dari Tiongkok Daratan, Cheté dari Hong Kong, Goldstar dari India, VAD LLC dari Amerika Serikat, serta Zen Diamond dari Turki.

Sementara itu, Designer Galleria akan menyuguhkan koleksi-koleksi inovatif dan trendi dari para desainer yang berada di garis depan perkembangan mode, termasuk desainer dari Tiongkok Daratan, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Thailand, dan negara lainnya.

Tidak hanya sebagai konsumen, Indonesia juga berperan sebagai produsen emas yang dicingai masyarakat global. Sejumlah exhibitor asal Indonesia juga akan berpartisipasi dalam Hong Kong International Jewellery Show di antaranya Lotus Lingga Pratama PT, PT Hartono Wira Tanik, PT Bagong Sejahtera Abadi, Untung Bersama Sejahtera, Uc Silver Bali, serta berbagai perusahaan lainnya.

"Kami antusias melihat semakin banyak perusahaan pembeli dari Indonesia berpartisipasi, dan kami mengundang para profesional sourcing global untuk menemukan peluang bisnis baru di Hong Kong," lanjut Samuel.

Samuel menegaskan, pameran-pameran ini menjadi platform sourcing yang ideal bagi pembeli Indonesia untuk menemukan produk baru, menjalin koneksi dengan pemasok global, serta membuka peluang bisnis baru. Selain menjadi etalase perhiasan emas dan batu mulia, Samuel membocorkan sejumlah pameran dagang internasional berskala besar akan diselenggarakan di Hong Kong pada Maret hingga April 2026.

Pada awal Maret, HKTDC akan menyelenggarakan Hong Kong International Diamond, Gem & Pearl Show pada 2–6 Maret 2026. Lalu disusul Hong Kong International Jewellery Show pada 4–8 Maret 2026 yang menampilkan beragam perhiasan jadi dan inovasi desain.

Rangkaian pameran berlanjut pada 27–30 April 2026, yakni Hong Kong Gifts & Premium Fair, Fashion InStyle, dan Home InStyle yang menghadirkan produk gaya hidup, fesyen, hingga interior terkini. Pada periode yang sama, HKTDC juga menggelar Hong Kong International Printing & Packaging Fair serta DeLuxe PrintPack Hong Kong pada 27–30 April 2026 yang menjadi ajang penting bagi pelaku industri percetakan dan kemasan global.