Pendakian Gunung Halau-Halau, Atap Kalimantan Selatan, Ditutup Permanen

Pendakian Gunung Halau-Halau, Atap Kalimantan Selatan, Ditutup Permanen

Postingan terkait penutupan pendakian Wisata Gunung Halau-Halau di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) ramai diperbincangkan di media sosial (medsos).

Dalam postingan yang menyertakan flayer tersebut menyebutkan penutupan permanen pendakian Gunung Halau-Halau berdasarkan hasil musyawarah Desa Juhu dan Hinas Kiri, Kecamatan Batang Alai Timur.

Tertulis, tanggal keputusan berlaku sejak 1 Mei 2026 yang sebelumnya digelar musyawarah di Kantor Desa Hinas Kiri.

Musyawarah melibatkan Pembakal atau Kepala Desa Juhu dan Hinas Kiri, tokoh masyarakat, Pokdarwis masyarakat, perwakilan masyarakat, dan Babinsa.

Hal ini, mendapatkan barbagai tanggapan dari pengguna medsos, baik Facebook maupun Instagram. Intinya  mempertanyakan penutupan permanen tersebut dan penyebabnya, maupun kebenaran informasi tersebut.

Kebenaran kabar penutupan Gunung Halau-Halau

Terkait informasi yang beredar tersebut, Kepala Desa Juhu, Abdul Dunduk saat dikonfirmasi Banjarmasinpost.co.id membenarkan beredarnya informasi tersebut.

Rapat kesepakatan penutupan wisata Gunung Besar Halau-Halau ungkapnya dihadiri oleh tokoh dan masyarakat dari dua desa, yaitu Desa Juhu dan Desa Hinas Kiri. 

“Dalam hal ini, Pemerintah Desa (Pemdes) cuman memfasilitasi pertemuan tersebut,” katanya, dilansir dari Banjarmasinpost.

Gunung Halau-Halau yang dikeramatkan

Terkait alasan penutupan, secara umum Kepala Desa Juhu mengungkapkan, Gunung Halau-Halau setinggi 1.901 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu merupakan gunung keramat yang dipercaya mulai nenek moyang.

“Kami mempercayai gunung tersebut gunung keramat sejak nenek moyang sampai sekarang dan selamanya,” ungkapnya.

Sementara, salah seorang penggiat alam yang pernah mendaki Gunung Halau-Halau, Rama mengungkapkan, gunung besar salah satu wisata unggulan di HST dan Kalsel yang dituju oleh para pendaki untuk pendakian alam.

Namun, satu sisi keputusan tersebut menurutnya diambil dari berbagai pertimbangan pihak desa, masyarakat adat, dan Pokdarwis.

“Sampai saat ini, Halau-Halau (gunung besar) merupakan titik/ puncak tertinggi di Kalsel, sehingga sangat berdampak bagi pendaki. Meski begitu, pendaki hendaknya juga menjaga kondisi alam, jangan sampai mengotori (meninggalkan sampah) di gunung,” jelasnya.

Rama secara pribadi berharap, adanya cara lain untuk menjaga kelestarian alam dengan aturan/regulasi tata cara pendakian yang data dilakukan tanpa harus ada penutupan jalur.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang