Jalur Pendakian Ijen Disebut Ramah Pemula, Mengapa Masih Ada Pendaki Tersesat?

Kawah Ijen, Gunung Ijen, Jalur Pendakian Ijen Disebut Ramah Pemula, Mengapa Masih Ada Pendaki Tersesat?, Jalur Ijen Kini Lebih Ramah dan Lebar, Titik Rawan: Jalur Menuju Sunrise Point, "Rule of Thumb" dan Larangan Mendaki Sendirian, Kronologi Penemuan Pendaki yang Hilang, Persiapan Wajib Sebelum Mendaki Ijen

Jalur pendakian Gunung Ijen yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi pendakian yang paling ramah bagi pemula.

Jalurnya yang lebar dan tertata rapi membuat banyak wisatawan menganggap remeh tantangan di lapangan.

Namun, peristiwa hilangnya Muhammad Dzikri Maulana (16), seorang pendaki asal Desa Tamansari, Kecamatan Licin, pada Rabu (18/2/2026), menjadi alarm keras bagi para wisatawan.

Meski jalur utama terlihat jelas, faktor alam dan kondisi psikologis pendaki bisa memicu disorientasi yang berbahaya.

Jalur Ijen Kini Lebih Ramah dan Lebar

Suci Diah Handayani, seorang guide profesional yang fasih berbahasa Yunani dan aktif mendaki Ijen sejak 2014, menjelaskan bahwa infrastruktur di Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen sebenarnya sudah jauh lebih baik dibandingkan satu dekade lalu.

"Dibandingkan 10 tahun lalu, jalur pendakian Gunung Ijen yang sekarang sangat ramah untuk pendaki pemula," kata Suci saat dihubungi Kompas.com, Jumat (20/2/2026).

Menurut Suci, lebar jalur yang ada saat ini merupakan andil dari aktivitas para penambang belerang. Karena setiap hari dilalui dan dibersihkan oleh penambang, jalur utama menjadi sangat jelas dan minim percabangan.

"Mungkin awal-awal pembukaan jalur dulu ada jalan setapak kecil yang digunakan oleh penambang, tapi sekarang sudah enggak ada. Hanya satu jalur dan tidak ada jalan bercabang. Jadi sebenarnya kemungkinan tersesat sangat kecil," tambahnya.

Titik Rawan: Jalur Menuju Sunrise Point

Kawah Ijen, Gunung Ijen, Jalur Pendakian Ijen Disebut Ramah Pemula, Mengapa Masih Ada Pendaki Tersesat?, Jalur Ijen Kini Lebih Ramah dan Lebar, Titik Rawan: Jalur Menuju Sunrise Point, "Rule of Thumb" dan Larangan Mendaki Sendirian, Kronologi Penemuan Pendaki yang Hilang, Persiapan Wajib Sebelum Mendaki Ijen

Suci Handayani, guide pendaki gunung Ijen yang fasih bahasa Yunani dan sejumlah bahasa lainnya.

Meski jalur utama menuju kawah tergolong mudah, Suci memberikan catatan khusus untuk area menuju Sunrise Point Ijen. Titik ini berjarak sekitar 1,5 kilometer dari puncak (summit).

Di sinilah risiko pendaki tersesat di Ijen meningkat karena karakteristik vegetasi yang mulai berubah.

"Dari summit ke titik sunrise point awalnya lebar, tapi kemudian jalurnya menyempit. Selain itu, vegetasi juga akan semakin rimbun sehingga jika tidak terbiasa akan disorientasi, terutama saat kabut," papar Suci.

Ia menceritakan pengalamannya saat memandu dalam kondisi kabut pekat dengan jarak pandang kurang dari 5 meter.

"Jika hanya satu atau dua kali ke sunrise point dan kabut, semuanya akan terlihat sama. Vegetasi, batu-batuannya. Sehingga tidak boleh sendiri," tegas perempuan yang kerap menemani turis mancanegara tersebut.

"Rule of Thumb" dan Larangan Mendaki Sendirian

Faktor kelelahan yang dibarengi dengan cuaca buruk (kabut) serta posisi sendirian adalah kombinasi paling fatal yang memicu disorientasi. Suci menekankan pentingnya pendampingan, bahkan untuk hal sekecil buang air.

"Jadi tidak boleh sendirian, termasuk saat buang hajat," katanya.

Suci membagikan aturan tidak tertulis (rules) yang harus dipatuhi pendaki demi keamanan:

  • Buang Air Kecil (BAK): Maksimal 3 langkah dari jalur utama.
  • Buang Air Besar (BAB): Maksimal 10 langkah dari jalur utama.
  • Wajib Didampingi: Saat melakukan BAK/BAB, harus ada rekan yang menemani untuk memantau posisi agar tidak keluar terlalu jauh dari jalur utama.

Kronologi Penemuan Pendaki yang Hilang

Kasus yang menimpa Muhammad Dzikri Maulana membuktikan betapa cepatnya seseorang bisa terpisah dari rombongan. Dzikri mendaki bersama empat temannya pada Rabu dini hari pukul 02.00 WIB.

Kepala TWA Kawah Ijen,, menjelaskan bahwa rombongan tersebut sempat beristirahat di pertigaan jalan menuju kawah dan sunrise point. Namun, saat teman-temannya selesai istirahat, Dzikri sudah tidak ada di lokasi.

Tim SAR gabungan yang melibatkan berbagai unsur akhirnya berhasil menemukan Dzikri pada Kamis (19/2/2026) dalam kondisi lemas.

"Dzikri ditemukan di area tebing dengan radial 6,7 derajat yang berjarak 890 meter dari lokasi kejadian perkara (LKP)," ungkap petugas SAR. Korban ditemukan di balik rimbunnya tanaman cantigi dan pakis gunung, sebuah area yang sulit ditembus.

Persiapan Wajib Sebelum Mendaki Ijen

Untuk meminimalisir risiko kecelakaan atau tersesat, Suci mengingatkan beberapa poin persiapan fisik dan perlengkapan mendaki:

  • Sepatu yang Proper: Medan berpasir dan berbatu membutuhkan traksi yang baik.
  • Jaket Tebal: "Mungkin di bawah enggak begitu dingin, tapi di atas cukup dingin karena angin yang sangat kencang," ujar Suci.
  • Persiapan Fisik: Terutama bagi yang mengejar momen Blue Fire Ijen atau sunrise, karena pendakian dilakukan pada dini hari saat kondisi tubuh biasanya mencapai titik lelah tertinggi.

Dengan mengikuti jalur resmi, tidak memisahkan diri dari rombongan, dan tetap waspada terhadap perubahan cuaca, keindahan wisata Kawah Ijen dapat dinikmati dengan aman tanpa mengabaikan keselamatan nyawa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang