Dedi Mulyadi Bongkar Sewa Mobil Listrik BUMD ke Pemprov Jabar, Setahun Tekor Rp 11 Miliar

Danantara, Dedi Mulyadi Bongkar Sewa Mobil Listrik BUMD ke Pemprov Jabar, Setahun Tekor Rp 11 Miliar

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi membongkar praktik pengelolaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang dinilai janggal.

Ia mengatakan, ada BUMD yang menyewakan mobil listrik ke Pemprov Jabar dengan tarif Rp 350 juta per tahun. 

Skema penyewaan tersebut membuat Pemprov Jabar harus mengeluarkan dana sebesar Rp 11 miliar setiap tahun.

Dedi mengaku sudah mengambil langkah tegas dengan mencoret sewa mobil listrik dari BUMD.

"Saya coret sekarang, karena BUMD-nya sampai sekarang enggak ada duit, karena uang pendapatan yang Rp 11 miliar itu dibikin lagi anak perusahaan baru. Untuk mengkamuflase agar uangnya lari," kata Dedi dikutip dari TribunJabar, Kamis (22/1/2026).

Banyak BUMD Tak Menghasilkan 

Persoalan sewa mobil listrik disinggung Dedi saat menjelaskan gagasannya mendorong pembenahan total BUMD Jawa Barat dengan mengadopsi konsep Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara). 

Ia menilai, banyak BUMD selama ini hanya ada secara administratif, tetapi tidak menghasilkan kinerja maupun kontribusi nyata bagi daerah.

Oleh sebab itu, Dedi berencana mengonsolidasikan seluruh BUMD Jawa Barat ke dalam satu holding, kecuali Bank Jabar Banten (BJB) dengan meniru pola pengelolaan Danantara di tingkat nasional. 

Langkah ini disebut sebagai upaya menghentikan praktik BUMD “hantu” sekaligus mengamankan aset strategis daerah agar benar-benar memberi manfaat bagi kas daerah.

Padahal, tidak sedikit BUMD di Jabar yang mempunyai aset dengan nilai fantastis.

"Ada yang mendapat modal cukup besar dari Pemprov Jabar, tapi di kasnya kosong semua. Tetapi asetnya relatif tinggi Rp 4 triliun dan itu sebuah nilai strategis," ungkap Dedi.

Lebih lanjut, Dedi mendorong pengelolaan BUMD yang lebih profesional, transparan, dan bebas dari intervensi politik. 

Ia menegaskan, sejak menjabat sebagai Gubernur Jabar, dirinya tidak pernah menempatkan orang-orang dari tim sukses dalam jajaran direksi maupun komisaris BUMD.

"Karena finansial itu harus netral dari intervensi politik dan dari penempatan tim sukses dalam pengelolaan. Dan itu saya lakukan di Jawa Barat. Saya enggak mau itu," ucapnya.

Konsep Danantara Ala Jabar

Dedi menjelaskan konsep penggabungan BUMD di Jabar menjadi satu holding seperti Danantara.

Ia mengatakan, seluruh BUMD, selain Bank Jabar Banten (BJB) akan digabung menjadi satu.

"Jadi nanti hanya ada dua, BJB dan satu BUMD holding. Tidak berantakan seperti sekarang," ujarnya dikutip dari Antara, Kamis (22/1/2026).

"Minggu depan sudah ada MoU," tambahnya.

Dedi Mulyadi juga melontarkan kritik tajam terhadap kualitas kepemimpinan di sejumlah perusahaan daerah. 

Ia menyinggung fenomena pimpinan BUMD yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi, namun dinilai gagal memahami dan mengelola risiko keuangan secara tepat.

Dedi kemudian menyinggung potensi kerugian hampir Rp 6 triliun yang pernah mengancam BJB.

"Saya lebih baik dipimpin oleh orang bodoh tapi mengerti daripada orang pintar tapi tolol," ujarnya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang