Peringatan Dini BMKG 20-23 Januari 2026, Waspada Gelombang Tinggi hingga 4 Meter di Perairan Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi yang melanda sejumlah wilayah perairan Indonesia.
Peringatan ini berlaku mulai Selasa (20/1/2026) pukul 07.00 WIB hingga Jumat (23/1/2026) pukul 07.00 WIB.
Kondisi ini dipicu oleh fenomena cuaca signifikan, yakni kemunculan Siklon Tropis NOKAEN di Laut Filipina dan Bibit Siklon Tropis 97S di Laut Timor.
Pemicu Gelombang: Siklon Nokaen dan Bibit Siklon 97S
Berdasarkan analisis sinoptik BMKG, Siklon Tropis NOKAEN terpantau berada di koordinat 16.3 LU dan 126.5 BT, tepatnya di Laut Filipina, sebelah timur laut Manila.
Sementara itu, Bibit Siklon Tropis 97S terdeteksi di koordinat 13.3 LS dan 127.8 BT di wilayah Laut Timor.
"Munculnya Siklon Tropis NOKAEN dan Bibit Siklon 97S memicu peningkatan kecepatan angin dan tinggi gelombang di perairan Indonesia," tulis BMKG dalam keterangan resminya, Senin (19/1/2026).
Pola angin di wilayah utara Indonesia umumnya bergerak dari Barat Laut hingga Timur Laut dengan kecepatan mencapai 6 - 25 knot. Sedangkan di wilayah selatan, angin bergerak dari Barat hingga Barat Laut dengan kecepatan lebih tinggi, yakni 6 - 30 knot.
Kecepatan angin tertinggi tercatat berada di Samudra Hindia barat Bengkulu hingga Lampung, Samudra Hindia selatan Banten hingga NTT, Laut Jawa bagian timur, Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram, serta Laut Arafuru.
Daftar Wilayah Berpotensi Gelombang Tinggi
Salah satu perahu nelayan diamankan dari hantaman ombak besar di Desa Sotabar, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan, Rabu (14/1/2026)
BMKG membagi peringatan dini ini ke dalam dua kategori tinggi gelombang berdasarkan dampaknya terhadap keselamatan pelayaran.1. Gelombang Sedang (1.25 - 2.5 Meter)
Wilayah yang berpeluang mengalami gelombang kategori ini meliputi:
- Selat Malaka bagian utara dan Selat Karimata bagian utara.
- Laut Jawa (bagian barat dan timur) serta Laut Sumbawa.
- Selat Makassar (bagian selatan dan utara) serta Laut Sulawesi bagian tengah.
- Teluk Bone, Laut Seram, Laut Maluku, dan Samudra Pasifik utara Papua.
2. Gelombang Tinggi (2.5 - 4.0 Meter)
Kewaspadaan ekstra diperlukan di wilayah dengan risiko gelombang tinggi hingga 4 meter, antara lain:
- Samudra Hindia barat Aceh, Kepulauan Mentawai, hingga Lampung.
- Samudra Hindia selatan Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, hingga Bali dan NTT.
- Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya.
- Laut Arafuru bagian barat, tengah, dan timur.
Saran Keselamatan Pelayaran
Mengingat kondisi cuaca ekstrem ini, BMKG memberikan panduan keselamatan bagi para pelaku jasa kelautan dan nelayan. Risiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran sangat bergantung pada jenis moda transportasi yang digunakan:
- Perahu Nelayan: Sangat berisiko jika kecepatan angin melebihi 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1.25 m.
- Kapal Tongkang: Berisiko jika angin mencapai 16 knot dan gelombang di atas 1.5 m.
- Kapal Ferry (Lintas Penyeberangan): Waspada jika angin mencapai 21 knot dengan tinggi gelombang di atas 2.5 m.
Masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi diimbau untuk tetap waspada dan selalu memantau perkembangan cuaca terbaru melalui kanal resmi BMKG.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang