Ini Generasi yang Paling Melek AI di Kantor, Ternyata Bukan Gen Z! 

Ilustrasi sedang bekerja.
Ilustrasi sedang bekerja.

 Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di tempat kerja mengalami lonjakan signifikan pada 2026. Jika sebelumnya AI identik dengan eksperimen teknologi atau sekadar alat bantu membuat konten, kini penggunaannya telah menjadi bagian dari alur kerja harian di berbagai industri. 

Perusahaan pun mulai bertanya bukan lagi perlu atau tidak, melainkan siapa yang paling siap dan paling aktif memanfaatkan AI.

Menariknya, anggapan bahwa generasi termuda otomatis menjadi pengguna AI paling dominan, ternyata tidak sepenuhnya benar. Data terbaru justru menunjukkan bahwa generasi milenial saat ini menjadi kelompok paling aktif dan strategis dalam penggunaan AI di lingkungan kerja.

Laporan Forbes mengungkapkan bahwa fase adopsi AI di perusahaan telah melewati tahap rasa ingin tahu. AI kini digunakan untuk mempercepat pengambilan keputusan, meningkatkan produktivitas, hingga menyederhanakan proses kerja lintas fungsi. 

Tantangan utama bagi perusahaan bukan lagi soal teknologi, melainkan bagaimana memastikan AI benar-benar digunakan secara konsisten dan berdampak.

McKinsey, dalam laporan terbarunya, menyebut fase ini sebagai AI super-agency, sebuah kondisi ketika AI tidak hanya hadir sebagai alat, tetapi terintegrasi dalam setiap lapisan pekerjaan. Namun, laporan itu juga mencatat bahwa banyak pimpinan senior belum sepenuhnya menyadari seberapa cepat AI telah digunakan di tingkat operasional.

Ilustrasi milenial diskusi soal investasi.

Berdasarkan data McKinsey, generasi milenial saat ini menjadi pengguna AI paling aktif di dunia kerja. "Sekitar 62 persen milenial melaporkan memiliki tingkat keahlian AI yang tinggi. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Gen Z yang berada di kisaran 50 persen, serta baby boomer di atas usia 65 tahun yang hanya sekitar 22 persen," tulis laporan tersebut, sebagaimana dikutip dari Forbes, Senin, 19 Januari 2026.

Dominasi milenial ini tidak terlepas dari posisi mereka di organisasi. Sebagian besar manajer dan pemimpin tim saat ini berada di rentang usia 35–44 tahun, usia yang identik dengan generasi milenial. Mereka menggunakan AI bukan hanya untuk tugas individual, tetapi juga untuk mengelola tim, menganalisis data, hingga mengoptimalkan alur kerja.

McKinsey mencatat bahwa kelompok ini paling mungkin menggunakan AI secara rutin dalam pekerjaan, menjadi rujukan tim saat muncul pertanyaan tentang AI, serta mendorong penggunaan alat AI di level tim dan departemen. 

Keunggulan milenial bukan hanya pada frekuensi penggunaan AI, melainkan cara mereka mengintegrasikannya ke dalam pekerjaan. Mereka berada di posisi yang memungkinkan penerjemahan strategi menjadi eksekusi.

Generasi ini juga dinilai mampu melihat langsung dampak penggunaan AI terhadap produktivitas tim, kualitas output, dan efisiensi waktu. Kedekatan dengan operasional membuat mereka lebih cepat mengidentifikasi peluang sekaligus risiko, termasuk mencegah penggunaan AI yang tidak terkontrol atau shadow AI.

Asana, dalam laporan State of AI at Work, menyebut kelompok pengguna aktif ini sebagai AI scaler atau AI super-user. Mereka adalah profesional yang menggunakan berbagai alat AI secara strategis, merancang alur kerja berbasis AI tanpa menambah beban kerja, menormalisasi penggunaan AI dalam tim, dan mendorong eksperimen dengan batasan yang jelas. 

Menariknya, McKinsey menemukan adanya kesenjangan persepsi di tingkat pimpinan. Banyak eksekutif mengira hanya sekitar 4 persen karyawan menggunakan AI untuk setidaknya sepertiga dari pekerjaannya. Padahal, angka aktual berdasarkan laporan mandiri karyawan mencapai sekitar 12 persen. Artinya, adopsi AI sudah lebih luas dari yang dibayangkan, namun belum sepenuhnya terarah.