Dari Nikel ke Battery Cell, Ekosistem Teknologi EV Indonesia Mulai Terbentuk

Ilustrasi baterai mobil listrik
Ilustrasi baterai mobil listrik

 Indonesia mulai memasuki fase baru dalam pengembangan teknologi kendaraan listrik. Jika selama bertahun-tahun dikenal sebagai pemasok bahan mentah mineral, kini arah kebijakan nasional perlahan bergeser ke penguatan industri berteknologi tinggi, khususnya melalui pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik yang terintegrasi.

Langkah tersebut tercermin dari hadirnya fasilitas produksi baterai di Karawang, Jawa Barat, yang dinilai menjadi fondasi penting bagi industrialisasi berbasis teknologi. Pabrik baterai ini tidak hanya menjadi simbol hilirisasi, tetapi juga penanda bahwa Indonesia mulai mengambil peran lebih strategis dalam rantai pasok global kendaraan listrik.

Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development Universitas Indonesia (RESSED UI), Ali Ahmudi, menilai kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah, terutama nikel, telah menjadi titik awal penguatan industri dalam negeri. Menurutnya, kebijakan tersebut memaksa transformasi dari sekadar penjualan bahan baku menuju penguasaan proses produksi bernilai tambah tinggi.

“Pemerintah sudah berhasil menerapkan larangan ekspor mineral mentah, khususnya nikel. Ini menjadi awal yang sangat penting untuk memperkuat industri nasional,” ujar Ali Ahmudi dalam keterangannya Sabtu 17 Januari 2025.

Ia menjelaskan, hilirisasi nikel yang kini diarahkan ke produksi battery cell membuka peluang peningkatan nilai ekonomi berlipat. Dibandingkan hanya menjual bijih mentah, proses pabrikasi baterai menghadirkan manfaat ekonomi yang jauh lebih luas.

“Efeknya sangat besar. Ada peningkatan pendapatan negara melalui PPN, terciptanya lapangan kerja dari proses pabrikasi, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hilirisasi ini harus ada kelanjutannya agar dampak penggandanya nyata bagi ekonomi nasional,” kata Ali.

Lebih dari sekadar industri, pengembangan battery cell menempatkan Indonesia pada jalur penguasaan teknologi inti kendaraan listrik. Baterai merupakan komponen paling krusial dalam EV, dengan kontribusi sekitar 35–40 persen dari total biaya produksi kendaraan. Artinya, penguasaan teknologi baterai akan sangat menentukan daya saing produk EV nasional di masa depan.

Ali menegaskan bahwa industrialisasi berbasis teknologi memang menuntut ketegasan regulasi. Ia mengingatkan Indonesia tidak boleh berhenti di posisi sebagai perakit produk akhir tanpa penguasaan teknologi utama.

“Indonesia tidak boleh terus-menerus tergantung pada produk luar. Kalau pun ada teknologi dari luar, mereka harus membangun pabrik di Indonesia agar terjadi transfer teknologi. Memang ada ekses jangka pendek, tapi dalam jangka panjang ini sebuah keharusan,” ujarnya.

Optimisme terhadap dampak teknologi baterai lokal juga tercermin dari potensi koreksi harga kendaraan listrik. Dengan komponen utama diproduksi di dalam negeri, harga EV dinilai berpeluang turun dan menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat luas.

“Dalam kondisi normal, pembangunan pabrik baterai di Indonesia akan menekan harga jual EV secara umum. Kalau komponen utamanya bisa ditekan, harga unitnya pasti ikut turun,” tambah Ali.

Di sisi lain, negara melalui MIND ID terus mengawal pembentukan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi. Melalui PT Industri Baterai Indonesia (IBI), MIND ID bekerja sama dengan konsorsium Contemporary Amperex Technology Co., Limited, Brunp, dan Lygend (CBL) membentuk perusahaan patungan PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB).

CATIB saat ini tengah membangun fasilitas produksi battery cell, module, dan pack dengan kapasitas awal 6,9 GWh pada fase pertama, yang akan diperluas hingga total 15 GWh pada fase berikutnya. Proyek ini diproyeksikan menjadi tulang punggung rantai pasok baterai EV nasional.

Dengan bergesernya fokus dari nikel mentah ke battery cell, Indonesia tidak hanya memperkuat posisi ekonomi, tetapi juga menapaki jalan menuju kemandirian teknologi. Ekosistem baterai yang mulai terbentuk menjadi penanda bahwa transformasi menuju industri EV berbasis inovasi bukan lagi wacana, melainkan proses yang sedang berjalan.