Kepala Angkatan Darat Denmark Menyatakan Siap Mempertahankan Greenland

Kepala Angkatan Darat Denmark, Peter Boysen, menegaskan kesiapan negaranya mempertahankan Greenland di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap wilayah Arktik tersebut.
Denmark mulai mengirimkan pesawat, kapal, dan personel militer ke Greenland sebagai sinyal keseriusan kepada NATO dan Washington soal keamanan kawasan.
Dilansir dari (7/1/2026), kabar Trump akan mengeklaim Greenland sudah berkembang sejak lama.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sempat memberi tahu para anggota parlemen bahwa Presiden AS Donald Trump lebih memilih untuk membeli Greenland daripada menginvasinya.
Greenland sendiri memiliki luas sekitar 836.000 mil persegi, lebih dari lima kali ukuran California, dengan sebagian besar wilayah tertutup es.
Trump berulang kali menyatakan keinginannya untuk mengambil alih pulau itu, dengan alasan Denmark dinilai lalai menjaga wilayah Arktik yang berada di bawah kedaulatannya.
Tak cukup hanya teknologi, harus ada pasukan
Dilansir dari The Atlantic, Rabu (14/1/2026), dalam wawancara di Kastellet, benteng abad ke-17 di Kopenhagen, Boysen menjelaskan bahwa penguatan pertahanan Greenland tidak bisa hanya mengandalkan teknologi seperti satelit, drone, dan sistem siber untuk membangun domain awareness.
Menurut Boysen, teknologi saja tidak cukup.
“Untuk menjaga kedaulatan, Anda membutuhkan kehadiran pasukan di lapangan. Kami tentu perlu memiliki satuan-satuan yang mampu dikerahkan ke Greenland pada saat krisis untuk menunjukkan kehadiran," ujarnya.
Pernyataan itu disampaikan di tengah perkembangan diplomatik yang menegangkan.
Sebelumnya diketahui, Menteri Luar Negeri Denmark dan Greenland bertemu dengan Wakil Presiden AS J.D. Vance serta Menteri Luar Negeri Marco Rubio di Gedung Putih. Meski dialog disebut konstruktif, Denmark mengakui tidak berhasil mengubah posisi Amerika Serikat.
“Kami tidak bisa mengubah AS. Sangat jelas kalau Trump ada keinginan mengambil alih Greenland," ujar Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Løkke Rasmussen.
Trump sendiri kembali menegaskan sikapnya kepada media.
“Kami membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional.”
Sikap Denmark dan Amerika
Beberapa jam sebelum pernyataan itu, Kementerian Pertahanan Denmark mengumumkan peningkatan kehadiran militer di Greenland.
Otoritas pertahanan Denmark menyebut langkah ini sebagai bagian dari tugas rutin dan persiapan aktivitas mendatang, sekaligus menepati janji pemerintah untuk meningkatkan anggaran keamanan Arktik.
Selain Denmark, Swedia juga mengirimkan tentaranya ke Greenland, sementara personel militer Jerman dijadwalkan menyusul.
Sejumlah anggota parlemen Denmark menduga waktu pengerahan ini bukan kebetulan, melainkan respons langsung terhadap tekanan politik dari Amerika Serikat.
Seorang anggota Komite Pertahanan Parlemen Denmark mengatakan pemerintah tidak ingin memperkeruh hubungan dengan Washington, tetapi juga tidak bisa bersikap pasif.
"Jika kami ingin memiliki daya tangkal yang kredibel, kami harus mengirim sesuatu.”
Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen menegaskan, bahwa penambahan pasukan ini merupakan bagian dari upaya kolektif NATO, bukan ancaman terhadap Amerika Serikat.
Boysen juga menyampaikan nada serupa, dengan menekankan bahwa Denmark berharap sekutu-sekutu NATO, termasuk AS, justru bergabung dalam upaya pengamanan Greenland.
Secara historis, Denmark tidak memiliki kehadiran militer permanen besar di Greenland.
Namun, Komando Arktik Gabungan Denmark bermarkas di Nuuk, ibu kota Greenland, serta memiliki personel di Station Nord, pangkalan militer paling utara di dunia, dan sejumlah pos lainnya.
Pada 2025, Denmark pernah mengerahkan sekitar 600 tentara ke wilayah Arktik.
Dengan aturan wajib militer baru dan prioritas NATO di kawasan kutub, Boysen menyebut kemampuan Denmark untuk beroperasi di Greenland akan terus meningkat.
Denmark juga memimpin latihan militer di Greenland yang melibatkan Perancis, Jerman, Swedia, dan Norwegia.
“Jadi sekali lagi, saya pikir beberapa sekutu utama kami ingin bergabung dengan kami, termasuk Amerika Serikat, di Greenland.”
Namun, Trump justru mengambil arah berbeda. Ia mengejek upaya pertahanan yang sudah ada dan menegaskan bahwa Amerika Serikat harus memiliki Greenland.
Padahal, AS sudah memiliki akses militer luas di wilayah tersebut berdasarkan perjanjian era Perang Dingin, serta mengoperasikan pangkalan Pasukan Antariksa AS di pesisir barat laut Greenland.
Anggota parlemen Denmark, Rasmus Jarlov, menilai pemerintahan Trump belum pernah menjelaskan tujuan konkret di Greenland selain ingin memilikinya.
Trump sendiri menunjukkan sedikit ruang kompromi. Meski menyatakan lebih memilih membeli Greenland, ia tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer.
Sikap itu memicu kekhawatiran serius. Serangan militer AS ke Greenland berpotensi memicu krisis NATO, mengingat Pasal 5 menyatakan serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh aliansi.
Selain itu, dekret kerajaan Denmark tahun 1952 mewajibkan tentaranya melawan jika wilayah negara diserang.
Boysen menegaskan dekret itu adalah bagian tak terpisahkan dari tugas militer, dan ia akan mematuhinya.
Namun, saat ditanya apakah Denmark benar-benar akan melawan pasukan Amerika, Boysen memilih berhati-hati.
"Itu politik tingkat tinggi. Dan saya cuma prajurit," pungkasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang