Kelas Menengah RI Punya Cara Baru Atur Duit di Tengah Mahalnya Biaya Hidup
Tekanan ekonomi yang terus dirasakan kelas menengah membuat masyarakat semakin disiplin dalam mengatur pengeluaran. Kenaikan biaya hidup, ketidakpastian pendapatan, hingga meningkatnya harga kebutuhan pokok mendorong banyak orang mencari cara agar kondisi finansial tetap aman dan terkontrol.
Di tengah situasi tersebut, fitur “kantong” pada layanan perbankan digital mulai menjadi solusi populer untuk membantu masyarakat mengelola uang sesuai kebutuhan dan tujuan finansial.
Kelas menengah sendiri memegang peranan penting dalam perekonomian nasional. Data tahun 2024 menunjukkan kelompok ini menyumbang 81,5 persen total konsumsi rumah tangga. Dengan kontribusi konsumsi rumah tangga yang mencapai lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB), kelas menengah menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Namun, tekanan ekonomi membuat jumlah kelas menengah mengalami penurunan. Dari sebelumnya mencapai 57,3 juta orang pada 2019, jumlahnya turun menjadi 47,2 juta orang pada 2024. Kondisi ini membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam mengatur pengeluaran sehari-hari.
Survei Katadata Middle Class Insight (KIMCI) yang dirilis Katadata Insight Center (KIC) menunjukkan masyarakat kelas menengah mulai menerapkan berbagai strategi pengelolaan keuangan. Tiga kebiasaan teratas yang dilakukan responden adalah merencanakan pengeluaran dan pendapatan sebesar 68 persen, membedakan uang untuk tagihan bulanan dan kebutuhan sehari-hari sebesar 51,8 persen, serta mencatat pengeluaran sebesar 44,9 persen.
Dalam praktiknya, salah satu pendekatan yang semakin banyak digunakan adalah fitur “kantong” pada layanan keuangan digital. Fitur ini memungkinkan pengguna membagi uang ke dalam beberapa pos tertentu, seperti tagihan bulanan, transportasi, dana makan, tabungan, hingga dana darurat.
Fitur tersebut kini diadopsi oleh sejumlah perbankan digital dan konvensional, termasuk Bank Jago, BCA, dan Mandiri. Survei terpisah KIC menemukan sebanyak 86 persen masyarakat sudah mengetahui fitur kantong, dengan mayoritas responden mengaku pertama kali mengenalnya melalui Bank Jago.
Tak hanya membantu secara teknis, fitur tersebut juga dinilai memberi dampak positif terhadap kondisi finansial pengguna. Sebanyak 9 dari 10 pengguna mengaku fitur tersebut membantu menciptakan keuangan yang lebih sehat karena mempermudah pengendalian pengeluaran dan perencanaan tabungan.
Selain itu, sebanyak 96,1 persen pengguna mengatakan penggunaan fitur kantong membuat mereka merasa lebih tenang karena perencanaan keuangan menjadi lebih jelas. Sementara itu, 95,5 persen responden mengaku pengaturan keuangan menjadi lebih mudah dibandingkan dilakukan secara manual.
Menariknya, kebiasaan membagi uang berdasarkan tujuan ternyata sudah lama diterapkan masyarakat Indonesia. Sebanyak 47,5 persen responden mengaku pola tersebut berasal dari didikan orang tua yang biasa membagi uang rumah tangga ke dalam amplop atau wadah berbeda untuk kebutuhan tertentu.
Kini, kebiasaan tersebut berkembang dalam bentuk digital melalui layanan perbankan modern. Teknologi membuat proses pengelolaan keuangan menjadi lebih praktis, mudah dipantau, dan terintegrasi dengan aktivitas transaksi sehari-hari.
Hal itu juga disampaikan Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UMKM INDEF Fadhila Maulida. “Sebenarnya bank digital ini lebih ke enabler dari yang amplop-amplop itu menjadi digital,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Jumat, 22 Mei 2026.
Sementara itu, Direktur Program dan Kebijakan Center of Policy Studies Prasasti Piter Abdullah menilai fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola pengelolaan keuangan masyarakat. “Sekarang tanpa ke bank bisa buka rekening, buka rekening bisa 1 rekening kantongnya banyak. Berbagai ekosistem yang bergabung dalam keuangan ada sekarang,” imbuh Piter.
Menurut survei KIC, sebanyak 94,6 persen pengguna juga merasa fitur kantong membantu mencapai tujuan finansial karena dapat menghindari pengeluaran berlebihan. Bahkan, jumlah masyarakat yang menyimpan uang tanpa alokasi jelas turun dari 33,8 persen menjadi 12,8 persen atau turun sekitar 21 persen setelah menggunakan fitur tersebut.
Piter menambahkan, fitur kantong tidak hanya relevan untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga berpotensi membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam mengatur arus kas usaha. “Menurut saya, kantong-kantong yang ada di bank digital itu lebih dipromosikan ke pengusaha, khususnya UMKM. Melakukan edukasi ke UMKM ini saya rasa bagus banget karena di bank digital itu ada tersedia fasilitas fitur kantong-kantong itu. Sehingga dengan kantong-kantong itu kita jadi tahu kan kondisi keuangan secara real itu seperti apa,” pungkas Piter.
Di sisi lain, Kepala Bidang Riset dan Pengembangan Produk Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengingatkan pentingnya disiplin dalam mengatur prioritas keuangan, terutama bagi kelas menengah yang rentan tertekan oleh gaya hidup konsumtif.
“Kalau saya melihatnya seperti ini, kepada masyarakat kelas menengah terutama disiplin. Ketika mendapatkan penghasilan, alokasikan mana yang untuk kebutuhan esensial, harus bisa membedakan mana yang esensial mana yang gaya hidup. Sekarang ini banyak orang yang agak keceplosan dengan gaya hidupnya akibatnya terjerat dengan hutang. Cukupkanlah dengan apa yang kita dapat, itu dikelola,” terang Trioksa.
Sebagai informasi, riset bertajuk “Studi Perilaku Alokasi Keuangan di Fitur Bank Digital” dilakukan Katadata Insight Center melalui survei daring terhadap hampir 2.000 responden di sepuluh kota besar Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Palembang, Makassar, Denpasar, dan Balikpapan.