Siap-siap McD Akan Berubah, Pelanggan di Indonesia Jangan Pindah
Restoran cepat saji asal Amerika Serikat (AS), McDonalds alias McD, akan berubah di 2026.
Perubahan yang dimaksud adalah mereka ikut merangkul kecerdasan buatan (AI) dalam berbagai tingkatan dalam upaya meningkatkan efisiensi dalam melayani pelanggan.
Mulai meningkatkan efisiensi, akurasi pesanan, pengalaman drive-thru (layanan tanpa turun/lantatur), dan produktivitas karyawan.
“Kami memiliki sejumlah tim yang sedang mempelajari bagaimana kami dapat menggunakan AI untuk memberikan pengalaman yang lebih baik lagi bagi pelanggan dan anggota kru kami,” kata Kepala Eksekutif McDonalds, Chris Kempczinski, seperti dikutip dari situs Technology Magazine, Selasa, 13 Januari 2026.
Meski begitu, McD dilaporkan sudah telah bekerja sama dengan Google Cloud sejak 2023 untuk mengintegrasikan perangkat keras dan aplikasi AI mereka di seluruh restoran di dunia.
Sementara itu, CIO McDonalds, Brian Rice, sedikit membuka diri tentang bagaimana perusahaannya akan memakai AI untuk membantu memecahkan beberapa masalah dalam lingkungan makanan cepat saji yang terus berubah.
"Terus terang, restoran kami bisa sangat menegangkan. Kami memiliki pelanggan di konter, kami juga memiliki pelanggan di layanan drive-through, kurir yang datang untuk mengantarkan pesanan di pinggir jalan. Itu jelas beban yang berat bagi kru kami. Jadi, solusi teknologi akan mengurangi tekanan tersebut," jelas dia, dilansir dari Wall Street Journal.
McD melakukan beberapa perubahan untuk menggunakan AI dalam melayani pelanggan, dengan menerapkan teknologi AI suara di layanan drive-through dan kiosnya.
Selain itu, McDonalds juga mengadopsi computer vision, yang akan menggunakan kamera di dalam toko untuk memverifikasi keakuratan pesanan sebelum sampai ke pelanggan.
Namun, AI tidak hanya akan digunakan untuk melayani pelanggan secara langsung; AI juga akan digunakan di balik layar, melengkapi peralatan dapur penting, seperti penggorengan dan mesin McFlurry, dengan sensor yang akan memberi tahu staf tentang potensi kerusakan peralatan sebelum terjadi.
“Jika kita dapat secara proaktif mengatasi masalah-masalah tersebut sebelum terjadi, itu akan berarti operasional yang lebih lancar di masa mendatang," ungkap Rice.