Mengapa Korban Child Grooming Tidak Sadar jika Sedang Dimanipulasi?
Child grooming adalah perilaku menyimpang di mana orang dewasa mendekati dan menjalin hubungan dengan anak-anak atau remaja.
Istilah child grooming belakangan ini mencuat setelah aktris Aurelie Moeremans mengungkap secara terbuka mengungkap mengenai pengalaman tersebut melalui buku memoar yang berjudul Broken Strings.
Child grooming memang menjadi salah satu ancaman serius bagi anak dan remaja karena pelaku bisa memanipulasi untuk melakukan kontak seksual dan memenuhi keinginannya.
Apalagi, dalam kebanyakan kasus child grooming, anak-anak yang menjadi korban tidak menyadarinya.
Praktik child grooming kerap luput dari perhatian karena sering kali disamarkan sebagai bentuk perhatian atau hubungan romantis.
Padahal, hal tersebut bisa membahayakan bagi anak yang menjadi korban dan berisiko menimbulkan trauma mendalam hingga dewasa.
Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Farraas Afiefah Muhdiar, meyebutkan bahwa salah satu tantangan besar dalam kasus child grooming adalah banyaknya korban yang tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi.
"Dari pengalaman saya memang ada beberapa klien yang jadi korbannya memang biasanya tidak merasa itu ada yang salah," kata Farraas, dikutip dari Kompas.com (19/11/2024).
Lantas, mengapa korban child grooming sering kali tidak sadar jika mereka sedang dimanipulasi?
Penyebab korban child grooming tidak sadar jika sedang dimanipulasi
Apa itu child grooming? Mengapa anak-anak bisa tertarik pada orang dewasa?
Farraas menjelaskan beberapa alasan mengapa korban child grooming sering kali tidak sadar bahwa mereka sedang dimanipulasi.
Pelaku child grooming sering kali menciptakan ilusi perhatian, cinta, dan penerimaan yang membuat korban merasa dihargai dan dicintai.
"Merasa enggak ada yang salah, kenapa? Karena dia ngerasa dia dicintai, dia ngerasa dia diterima," ungkap Farraas.
Itu membuat korban cenderung melihat segala kebaikan pelaku sebagai bukti cinta, tanpa menyadari manipulasi yang terjadi.
Pelaku juga kerap menggunakan manipulasi emosional dengan memberikan pujian, perhatian, atau hadiah, baik berupa materi maupun ungkapan verbal.
"Jadi banyak yang memang tidak menyadari kalau dia itu sedang jadi korban, karena secara emosional dia dimanipulasi," lanjutnya.
Ditambah, pelaku memanfaatkan anggapan bahwa orang yang baik dan perhatian tidak mungkin memiliki niat buruk.
Penyebab lainnya, ungkap Farras, korban juga sering kali merasa nyaman dengan perhatian yang diberikan.
Ilusi perhatian tersebut membuat korban bisa taat meskipun pelaku meminta hal-hal yang menyalahi nilai moral atau nilai-nilai keluarga.
Misalnya, meminta foto-foto berbau seksual bahkan hingga melakukan hubungan seksual. Namun, karena mereka merasa nyaman dengan perlakuan dan apa yang diberikan oleh pelaku.
Sayangnya, para korban cenderung memilih untuk merahasiakan hal-hal negatif dalam hubungannya dengan pelaku child grooming.
"Mungkin dia tahu itu enggak boleh, jadi dia tahu dia tidak boleh menceritakan itu ke orang tua. Dia simpan sendiri, tapi ya dia tidak merasa tidak nyaman," tutur Farraas.
Bahkan jika mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang salah, mereka cenderung menolak kenyataan tersebut karena sudah terikat secara emosional dengan pelaku.
"Kecuali kalau nanti misalnya sudah sadar, sudah disadarkan, atau usianya sudah lebih matang barulah dia sadar," tutup Farraas.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul:
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang