Sariwangi: Dari Pelopor Teh Celup Indonesia hingga Dijual Unilever ke Grup Djarum, Savoria
- Bagaimana awal mula berdirinya Sariwangi?
- Seberapa besar skala usaha Sariwangi pada masa kejayaannya?
- Mengapa Unilever mengakuisisi merek Sariwangi?
- Apa yang dilakukan pendiri Sariwangi setelah mereknya diakuisisi?
- Apa yang menyebabkan tekanan keuangan dan kepailitan?
- Bagaimana posisi Unilever setelah kepailitan tersebut?
- Bagaimana proses pengalihan Sariwangi ke Grup Djarum?
Sariwangi, merek teh yang telah hadir di Indonesia sejak dekade 1960-an, kembali menjadi perhatian publik setelah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) resmi melepas bisnis teh bermerek tersebut kepada Grup Djarum.
Langkah divestasi ini menandai babak baru dalam perjalanan panjang Sariwangi yang pernah menjadi pelopor teh celup di Tanah Air, mengalami kejayaan, hingga terseret krisis keuangan pada entitas pemilik awalnya.
Memasuki fase baru kepemilikan, sejarah Sariwangi kembali disorot sebagai bagian penting dari dinamika industri teh nasional.
Perjalanan merek ini tidak hanya mencerminkan inovasi produk, tetapi juga dinamika bisnis, ekspansi agresif, hingga tekanan finansial yang berujung kepailitan.
Bagaimana awal mula berdirinya Sariwangi?
Sariwangi berawal dari berdirinya PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA) pada 1962. Pada tahap awal, perusahaan ini bergerak di bidang perdagangan komoditas teh.
Seiring waktu, Sariwangi mengembangkan usahanya ke sektor produksi, termasuk proses pencampuran (blending) dan pengemasan teh.
Perkembangan signifikan terjadi pada 1970-an ketika Sariwangi memperkenalkan teh celup ke pasar Indonesia.
Inovasi ini menawarkan cara penyajian teh yang lebih praktis dibandingkan penggunaan daun teh lepas yang sebelumnya lazim digunakan masyarakat.
Kehadiran teh celup menjadi titik balik penting bagi Sariwangi. Produk ini mengubah kebiasaan konsumsi teh di Indonesia dan mendorong pertumbuhan popularitas merek secara luas di pasar domestik.
Seberapa besar skala usaha Sariwangi pada masa kejayaannya?
Seiring meningkatnya permintaan, skala usaha Sariwangi terus berkembang. Perusahaan tidak hanya memproduksi teh celup, tetapi juga menghadirkan beragam varian teh untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.
Pada periode tertentu, penjualan Sariwangi dilaporkan mencapai sekitar 46.000 ton teh per tahun.
Kapasitas produksi perusahaan juga disebut mencapai sekitar 8 juta kantong teh per tahun. Angka tersebut mencerminkan besarnya skala operasional dan kuatnya posisi Sariwangi di industri teh nasional.
Dengan capaian tersebut, Sariwangi menjelma menjadi salah satu merek teh paling dikenal oleh konsumen Indonesia dan menjadi pemain utama di sektor industri teh.
Mengapa Unilever mengakuisisi merek Sariwangi?
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) akan membagikan dividen interim sebesar Rp 87 per saham kepada pemegang sahamnya. Keputusan diambil berdasarkan hasil rapat direksi pada 4 Desember 2025.
Popularitas dan kekuatan pasar Sariwangi menarik perhatian PT Unilever Indonesia Tbk. Pada 1989, Unilever secara resmi mengakuisisi hak merek Sariwangi.
Sejak saat itu, teh celup Sariwangi diproduksi dan dipasarkan sebagai bagian dari portofolio produk fast-moving consumer goods (FMCG) Unilever.
Produksi dilakukan di fasilitas milik Unilever di Cikarang, Jawa Barat, serta melalui pabrik pihak ketiga.
Sementara itu, PT Sariwangi Agricultural Estate Agency tetap menjalankan kegiatan usaha secara terpisah di bidang perdagangan, produksi, dan pengemasan teh untuk merek lain.
Apa yang dilakukan pendiri Sariwangi setelah mereknya diakuisisi?
Meski merek Sariwangi telah berpindah tangan, pendirinya, Johan Alexander Supit, tetap melanjutkan bisnis di sektor teh melalui PT Sariwangi AEA. Dana hasil penjualan merek digunakan untuk memperkuat usaha di sektor hulu.
Pada 1990, perusahaan membeli lahan pabrik di Citeureup, Jawa Barat. Dua tahun berselang, pabrik tambahan dibangun di Gunung Putri, Bogor.
Ekspansi berlanjut pada 2002 dengan pembelian kebun teh seluas sekitar 4.000 hektare sebagai bagian dari strategi integrasi usaha dari hulu hingga hilir.
Apa yang menyebabkan tekanan keuangan dan kepailitan?
Ekspansi agresif tersebut tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana. Sejak 2015, PT Sariwangi AEA mulai menghadapi tekanan keuangan serius.
Bersama perusahaan afiliasinya, PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung, perusahaan menanggung utang sekitar Rp 1,5 triliun.
Sejumlah bank menjadi kreditur, antara lain PT HSBC Indonesia, PT Bank ICBC Indonesia, PT Bank Rabobank International Indonesia, PT Bank Panin Indonesia Tbk, dan PT Bank Commonwealth.
Investasi perkebunan teh tidak menghasilkan kinerja sesuai proyeksi, sehingga arus kas terganggu dan kewajiban pembayaran sulit dipenuhi.
Upaya restrukturisasi melalui Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) tidak membuahkan hasil.
Pada 17 Oktober 2018, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mengabulkan permohonan pembatalan homologasi, sehingga PT Sariwangi AEA dan Indorub resmi dinyatakan pailit.
Bagaimana posisi Unilever setelah kepailitan tersebut?
Unilever menegaskan bahwa kepailitan PT Sariwangi AEA tidak berkaitan dengan operasional perseroan.
“Kita produksi di pabrik kita yang ada di Cikarang. Namun, sebagian juga kita lewat third factory manufacture," kata Sekretaris Perusahaan Unilever Indonesia, Sancoyo Antarikso.
Head of Corporate Communication Unilever Indonesia, Maria Dewantini Dwianto, juga menyampaikan bahwa Unilever telah mengakhiri kerja sama dengan PT Sariwangi Agricultural Estate Agency sejak awal 2018 dan menggandeng pemasok baru untuk menjaga kualitas dan kontinuitas produksi.
Bagaimana proses pengalihan Sariwangi ke Grup Djarum?
Pada 7 Januari 2026, PT Unilever Indonesia Tbk mengumumkan pelepasan bisnis teh bermerek Sariwangi kepada PT Savoria Kreasi Rasa yang terafiliasi dengan Grup Djarum.
Pengalihan ini dilakukan melalui penandatanganan Perjanjian Pengalihan Bisnis pada 6 Januari 2026.
Nilai transaksi penjualan disepakati sebesar Rp 1,5 triliun di luar pajak, dengan target penyelesaian pada 2 Maret 2026.
Manajemen Unilever menyatakan divestasi ini tidak berdampak material terhadap kegiatan operasional dan kelangsungan usaha perseroan.
Dengan beralihnya kepemilikan Sariwangi ke Grup Djarum, merek teh legendaris ini memasuki fase baru setelah lebih dari enam dekade hadir di Indonesia.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "".
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang