Ngerinya Sepakbola Indonesia: Habis Hilmi Terbitlah Tendangan Brutal Dwi Pilihanto
Kekerasan kembali mencoreng wajah sepak bola Indonesia. Belum reda kasus tendangan brutal Muhammad Hilmi Gimnastiar di Liga 4 Jawa Timur, publik kembali dikejutkan dengan aksi berbahaya lain yang terjadi di Liga 4 Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kali ini, pelakunya adalah Dwi Pilihanto, pemain yang mendapat sanksi larangan beraktivitas di sepak bola seumur hidup dari Panitia Disiplin (Pandis) PSSI Asosiasi Provinsi (Asprov) DIY.
Vonis berat tersebut dijatuhkan setelah Pandis PSSI DIY menggelar rapat pada Rabu 7 Januari 2025 menyusul insiden tendangan tinggi yang mengarah ke wajah pemain UAD FC dalam pertandingan Liga 4 DIY di Lapangan Sitimulyo, Selasa (6/1).
Insiden horor itu terjadi pada menit ke-73. Dwi dinilai mengangkat kaki terlalu tinggi hingga mengenai muka lawan. Pemain UAD FC langsung terjatuh dan sempat tergeletak sebelum akhirnya bangkit sambil memegangi wajahnya.
Meski di lapangan wasit hanya mengganjar kartu kuning, rekaman insiden tersebut dengan cepat viral di media sosial dan menuai kecaman luas. Banyak pihak menilai tindakan Dwi sangat membahayakan keselamatan pemain.
Pandis PSSI DIY kemudian menyatakan Dwi terbukti melanggar Pasal 48 jo. Pasal 49 jo. Pasal 10 jo. Pasal 19 Kode Disiplin PSSI 2025. Selain larangan beraktivitas seumur hidup, ia juga dijatuhi denda Rp1 juta. Meski demikian, keputusan tersebut masih dapat diajukan banding.
Tak hanya pemain, Asprov PSSI DIY juga memberikan sanksi kepada perangkat pertandingan. Namun, wasit yang memimpin laga tersebut hanya dikenai evaluasi dan pembinaan.
Kasus Dwi Pilihanto menambah panjang daftar kekerasan di kompetisi level bawah Indonesia. Sebelumnya, Muh. Hilmi Gimnastiar, pemain Putra Jaya Pasuruan, juga dijatuhi hukuman seumur hidup oleh Komite Disiplin PSSI Jawa Timur setelah menendang dada pemain Perseta 1970 Tulungagung dalam laga Liga 4 Kapal Api Piala Gubernur Jawa Timur 2025–2026.
Komdis PSSI Jatim menilai tindakan Hilmi sebagai violent conduct yang berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang bagi korban, sehingga sanksi berat dianggap perlu demi efek jera.
Dua kasus beruntun ini menjadi alarm keras bagi sepak bola nasional. Kekerasan yang terus berulang di kompetisi akar rumput menunjukkan lemahnya pengendalian emosi pemain serta perlunya pengawasan dan penegakan disiplin yang lebih tegas.