PBSI Konfirmasi Penerapan Sistem Time Clock di Indonesia Masters, Apa Itu?

Bulu Tangkis, PBSI, Indonesia, Indonesia Masters, PBSI Konfirmasi Penerapan Sistem Time Clock di Indonesia Masters, Apa Itu?

PBSI memastikan bahwa sistem Time Clock akan diterapkan pada ajang Indonesia Masters 2026 sebagai bagian dari upaya pembaruan regulasi pertandingan bulu tangkis.

Kebijakan ini merupakan bagian dari inovasi yang diusulkan Federasi Bulu Tangkis Dunia atau BWF untuk membuat laga berjalan lebih efektif dan atraktif.

Konfirmasi dari PBSI menegaskan bahwa Indonesia Masters 2026 menjadi salah satu turnamen yang masuk dalam fase uji coba sistem Time Clock.

Aturan ini dirancang untuk mengurangi jeda berlebihan antar-reli yang kerap dimanfaatkan pemain untuk mengulur waktu.

Apa Itu Sistem Time Clock?

Time Clock adalah sistem penghitung waktu mundur yang mengatur durasi jeda antar-reli dalam pertandingan bulu tangkis.

Dalam regulasi ini, pemain memiliki waktu maksimal 25 detik sejak wasit memperbarui skor hingga servis berikutnya dilakukan.

BWF mencatat bahwa rata-rata jeda antar-reli selama ini berada di kisaran 22 detik berdasarkan ratusan data pertandingan dari turnamen mayor dan BWF World Tour.

Dengan adanya batas waktu yang konsisten, ritme pertandingan diharapkan lebih terjaga dan minim gangguan taktis berupa penundaan.

Tujuan Penerapan Time Clock Menurut PBSI

PBSI menilai sistem Time Clock dapat meningkatkan konsistensi penegakan peraturan serta mengurangi unsur subjektivitas dalam pengambilan keputusan wasit.

Hal tersebut disampaikan secara resmi melalui pernyataan organisasi.

"Aturan ini sudah mulai diuji coba dalam turnamen BWF World Tour tertentu, termasuk Daihatsu Indonesia Masters 2025 yang akan berlangsung," tulis PBSI.

"Melalui sistem Time Clock, pemain—khususnya server—memiliki waktu maksimal 25 detik untuk bersiap melakukan servis berikutnya setelah sebuah reli berakhir."

Bulu Tangkis, PBSI, Indonesia, Indonesia Masters, PBSI Konfirmasi Penerapan Sistem Time Clock di Indonesia Masters, Apa Itu?

PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia) memberikan apresiasi kepada Daihatsu sebagai sponsor utama penyelenggaraan turnamen bulu tangkis bertaraf internasional Daihatsu Indonesia Masters 2025 yang digelar pada 26 Januari 2025 di Istora Senayan Jakarta.

"Penerapan sistem ini memberikan ukuran waktu yang objektif sehingga mengurangi unsur subjektivitas dalam penilaian wasit terhadap penundaan permainan."

Aktivitas yang Diperbolehkan Selama 25 Detik

Dalam rentang waktu 25 detik tersebut, pemain tetap diizinkan melakukan sejumlah aktivitas di pinggir lapangan.

Beberapa di antaranya adalah mengelap keringat, minum, mengikat tali sepatu, hingga menggunakan semprotan dingin yang diaplikasikan sendiri tanpa memerlukan izin dari wasit.

Meski demikian, penerima servis tetap dibatasi oleh tempo permainan.

"Namun demikian, penerima servis tetap wajib mengikuti tempo server dan tidak diperkenankan memperlambat jalannya permainan."

Aturan Tambahan dalam Penerapan Time Clock

PBSI juga menjelaskan bahwa permintaan pergantian shuttlecock harus dilakukan segera setelah reli berakhir dan tetap berada dalam batas waktu yang telah ditentukan.

"Dalam pertandingan yang menggunakan Time Clock, permintaan pergantian shuttlecock harus diajukan segera setelah reli berakhir dan diselesaikan dalam batas waktu 25 detik."

Jika terjadi kondisi tertentu seperti kebutuhan pengepelan lapangan yang memakan waktu lebih lama, wasit memiliki kewenangan untuk menghentikan sistem penghitung waktu tersebut.

"Apabila diperlukan pengepelan lapangan dalam durasi yang lebih lama, wasit mempunyai wewenang untuk menghentikan Time Clock."

"Sementara itu, untuk pengepelan singkat, Time Clock tetap akan berjalan," demikian bunyi pemaparan dari PBSI.

Masih Tahap Uji Coba

Dalam masa uji coba, termasuk pada Indonesia Masters 2026, pelanggaran terhadap sistem Time Clock belum langsung dikenai sanksi berat.

Pemain hanya akan mendapatkan peringatan apabila melanggar aturan permainan berkelanjutan.

Adapun sanksi berupa kartu kuning hingga kartu merah tetap diberlakukan untuk pelanggaran mengulur-ulur waktu yang dilakukan secara berulang.

Hasil penerapan sistem ini akan dievaluasi dalam Rapat Tahunan BWF pada Mei mendatang.

Jika dinilai efektif, regulasi Time Clock akan diberlakukan secara penuh sepanjang tahun 2026.

Sebagai penutup, PBSI menegaskan bahwa untuk pertandingan yang belum menerapkan sistem ini, mekanisme penilaian penundaan tetap mengacu pada aturan lama.

"Untuk pertandingan yang belum menggunakan Time Clock, penilaian penundaan tetap dilakukan seperti sebelumnya, dengan penekanan bahwa penerima servis harus mengikuti tempo server."

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang