Muhasabah Nahdliyyin atas Nahdlatul Ulama
(Artikel opini ini ditulis oleh Dr. Kiai Faiq Ihsan Anshori LC., MA., Aumni Pondok Pesantren Lirboyo, Al-Azhar University, dan Pengasuh Pesantren al-Fattah Kuningan)
Jujur. Dua bulan terakhir perasaan saya telah mengalami sirkus, jungkir balik, dan akrobatik. Betapa tidak? Di internal pergaulan tubuh NU terjadi keretakan yang tak terelakkan, akibat dari konflik para elit PBNU. Dari konflik elit struktural merembet dan menjalar ke kaum alit struktural. Siapa pengikut siapa berseberangan dengan pengikut siapa. Itu saya rasakan dan memicu ketegangan akibat kubu-kubuan antar pengikut pro Syuriah vs Tanfidziyah. Suasananya sudah mirip masa pemilu atau lebih panas dari pergolakan politik khususnya di kalangan NU. Ini akan jadi memori sejarah pergolakan NU.
Perasaan yang Terguncang
Semula saya bergembira mendengar kabar dan membaca berita kalau PBNU telah terjadi Akad Islah di Lirboyo; menyepakati muktamar dipercepat dan mengembalikan kembali semua jabatan yang sebelumnya telah dipecat, yaitu Ketua Umum PBNU dikembalikan lagi kepada Gus Yahya dan Sekjen dikembalikan lagi kepada Gus Ipul. Selesai.
Sebelumnya saya bergembira mendengar kabar kalau ada acara Musyawarah Kubro NU di Lirboyo. Tetapi kegembiraan itu kembali memudar setelah saya lihat ada yang ironi dilihat dari pengurus NU yang hadir. Dari 38 PWNU dari 38 Provinsi, saya melihat hanya 2 ketua PWNU yang hadir, yaitu ketua PWNU Jawa Tengah dan ketua PWNU Jawa Barat yang notabene alumni Lirboyo. Sedangkan ketua tanfidziyah PWNU Jawa Timur sendiri tidak hadir dan lebih memilih mengisi acara di Ciganjur Jakarta Selatan. Rois suriyah PWNU pun terlihat hanya beberapa saja. Komposisi peserta yang hadir terlihat sebagian besar dari teman-teman HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) yang menjadi pengurus NU dari ranting, MWC, PCNU, PWNU, dan PBNU tapi bukan pucuk pimpinannya. Mungkin bisa disebut Musyawarah Kubro Warga NU. Tetapi jauh panggang dari api jika disebut Musyawarah Kubro Pengurus NU sebagai mandataris Muktamar, konferwil, konfercab, dll. Sebab sebagian besar dari pucuk pimpinan dari semua tingkatan tidak hadir.