Cicit Syaikhona Kholil Bangkalan: Gimana NU Mau Jadi Perekat Bangsa, Kalau Internal Pecah!
Sejumlah kiai sepuh dari Surabaya dan Madura bersama para santri menggelar pertemuan di Kantor PCNU, Jalan Bubutan, Surabaya, Selasa, 25 November 2025.
Dalam momentum pertemuan tersebut, para kiai sepuh menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama tetap solid dan tidak akan terpecah, di tengah isu dinamika pemecatan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
"Kami berharap kepada semua pihak untuk berpikir jernih, dan semuanya pada satu semangat menjaga marwah dari jamiyyah Nahdlatul Ulama sebagai perekat bangsa," kata KH Imam Bukhori Kholil, Cicit Pahlawan Nasional Syaikhona Kholil.
Menurutnya, NU selama ini selalu diharapkan menjadi perekat kebangsaan dalam bingkai NKRI, perekat persatuan dan kesatuan umat, bangsa dan negara, sehingga eksistensi NU dan warganya harus solid.
"Ya kalau NU ingin tampil sebagai perekat bangsa ya NU ini harus solid, bagaimana mau jadi perekat bangsa kalau di dalam tubuh NU itu ada perpecahan," ujarnya
Meski demikian, Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Kholil Bangkalan itu menilai polemik pemecatan Ketua Umum PBNU Gus Yahya sebagai dinamika internal, yang akan berakhir jika diselesaikan dengan bijaksana.
"Ini dinamika saja bukan perpecahan dan insya Allah semua pihak bijaksana mengambil sikap," ungkapnya
Senada dengan itu, KH Ahmad Dzulhilmi Ghozali, Rais Syuriah PCNU Kota Surabaya, menegaskan bahwa seluruh struktur dan kader NU tetap berada dalam satu komando dan mengikuti keputusan pusat. Ia memastikan dinamika ini tidak akan memecah NU.
"Kami di daerah tetap satu komando. Apa pun keputusan pusat, kami ikuti. NU tidak akan pecah," tegasnya
Polemik Pemecatan Ketum PBNU
Sebelumnya, polemik pemecatan Ketua Umum PBNU berawal dari risalah rapat yang dilaksanakan pada 20 November 2025. PBNU mengadakan Rapat Harian Syuriyah PBNU di salah satu hotel di Jakarta Selatan.
Dalam rapat yang dihadiri 37 orang dari 53 pengurus harian Syuriyah PBNU tersebut membahas mengenai perkumpulan Nahdlatul Ulama.
Rapat tersebut juga menghasilkan beberapa risalah yang ditandatangani Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Salah satu isi surat memuat permintaan agar Gus Yahya turun dari jabatannya sebagai Ketua Umum PBNU.