Manifestasi Kesucian Jiwa di Bulan Ramadan
(Artikel opini ini ditulis oleh Al Faqih Alwi, M. Kesos, Peneliti Sosial INDIE, Magister Kesejahteraan Sosial UI)
Mengutip Simfoni Cinta Serj Tankian Dalam Lagu Rumi. Serj Tankian yang besar sebagai vokalis band System of a Down, sering kali dikenal dengan syair-syair bernada protes yang tajam. Namun, dalam lagu "Rumi", ia bertransformasi menjadi seorang ayah yang kontemplatif, mewariskan kebijakan spiritual kepada anaknya yang dinamai "Rumi". Selain didedikasikan kepada anaknya, lagu Rumi juga diakui didedikasikanjuga kepada Jalaludin Ar Rumi sebagai penyair besar. Serj menulis lirik sarat makna sufistik mengajak kita menyelami hakikat cinta dan pengetahuan—sebuah perjalanan spiritual yang menemukan resonansi mendalam dengan esensi bulan Ramadan sebagai bulan penyucian jiwa.
Puasa sebagai Pengabdian dan Refleksi Diri
Serj menulis lirik lagu Rumi dengan beberapa kalimat yang komtemplatif, seperti "The wisdom of the word, the source of all of creation, Ecstasy of devotion in the sound of every action". Lirik ini seperti menggambarkan bahwa setiap tindakan manusia seharusnya merupakan bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta. Dalam konteks Islam, hal ini selaras dengan dalil tentang puasa Ramadan sebagai ibadah yang sangat privat antara hamba dan Khalik. Allah SWT berfirman dalam Hadis Qudsi: "Setiap amalan kebaikan anak Adam dilipatgandakan... kecuali puasa, karena puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya" (HR. Muslim). Ramadan menuntut "pengabdian" di mana setiap tarikan napas dan penahanan diri dari nafsu menjadi melodi ketaatan yang menyucikan jiwa.
"Close both your eyes and hear the distant flight of doves" dalam lagu Rumi, menjadi metafora untuk kita melepaskan diri dari distraksi material duniawi guna mencapai ketenangan batin. Dalam tradisi Ramadan, ini dapat direpresentasikan melalui berbagai praktik ibadah seperti I'tikaf, dan menjauhkan diri dari perkataan atau perbuatan sia-sia. Kesucian jiwa bisa diraih ketika kita mampu "menutup mata" dari gemerlap kemaksiatan, lebih bisa mendengarkan suara kebenaran di dalam hati. Sebagaimana tujuan utama puasa yang termaktub dalam QS. Al-Baqarah: 183, yaitu agar kita menjadi orang yang bertakwa. Momentum Ramadan bisa menjadi waktu tepat untuk kita instropeksi dengan jiwa dan pikiran yang tenang.
Transformasi Kebaikan di Bulan Ramadan
Dalam refrain lagu Rumi, Serj agaknya juga menulis lirik provokatif yaitu, "Stay away from God and crime" yang berpotensi disalahartikan. Namun, dalam konteks ajaran Jalaludin Ar Rumi, lirik ini bisa dimaknai sebagai peringatan untuk menjauhi konsep "tuhan" yang dikonstruksi oleh ego manusia atau kemunafikan, yang sering kali justru melegitimasi kejahatan. Rumi bukanlah sufi yang mengabaikan aspek formal agama, namun justru memahami betul bahwa formalitas dan substansi sebagai dua unsur yang saling melengkapi, ibarat sisi formal sebagai cangkang, sedangkan substansi merupakan bijinya. Namun, seringkali manusia terjebak pada aspek formal saja yang cenderung riya'.
Serj melanjutkan "Embody justicе for this Tormenting, tormented world" yang kental dalam liriknya. Apabila kita refleksikan, Ramadan adalah momentum di mana kesalehan ritual harus bertransformasi menjadi kesalehan sosial. Kejujuran dalam ibadah untuk kesucian jiwa yang dicapai selama Ramadan, harus termanifestasikan dalam tindakan nyata membela keadilan di dunia. Dalam hal ini, zakat fitrah menjadi perwujudannya. Zakat fitrah tidak hanya untuk menyucikan jiwa dari kekurangan ramadan, namun juga memiliki berbagai hikmah seperti memperkuat solidaritas sosial, melatih keikhlasan dan kepedulian nyata.
Nasihat Tankian, "Be the change you wanna see," adalah puncak dari proses penyucian jiwa. Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar selama 30 hari, melainkan sebuah proses inkubasi untuk melahirkan manusia baru yang penuh cinta dan pengetahuan. Jiwa yang suci adalah jiwa yang konsisten antara kata dan perbuatan, sebagaimana doa Tankian agar jalan hidup putranya selaras dengan "lagunya" (Your path matches your song). Secara sosiologis dan spiritual, lagu "Rumi" dan ibadah Ramadan memiliki muara yang sama: sebuah ajakan untuk pulang ke fitrah kemanusiaan yang jernih, penuh empati, dan merdeka dari belenggu keduniawian, serta bertransformasi menjaid manusia yang lebih baik ke depannya.
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.