Adu Kuat Narasi 'Sepuluh Hari' AS Vs Iran

Serangan Israel dibantu AS ke Iran
Serangan Israel dibantu AS ke Iran

(Artikel opini ini ditulis oleh Tajus Syarofi, Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina Jakarta)

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sejak Kamis 19 Februari 2026, dunia kembali menghela napas panjang. Diplomasi Amerika Serikat (AS) vs Iran di ujung tanduk setelah Presiden AS Donald Trump melemparkan ultimatum  sepuluh hingga lima belas hari bagi Iran untuk menyepakati perjanjian nuklir baru. Namun, di balik deru mesin kapal induk USS Gerald R. Ford yang kini kian mendekat ke Teluk, sejatinya sedang berlangsung perang yang tak kalah sengit, yaitu “perang narasi”

Gaya komunikasi Washington di bawah kepemimpinan Trump sangat khas –ia memadukan ancaman militer ekstrem dengan tawaran kesepakatan yang menguntungkan. Narasi ini dibangun bahwa AS adalah “penjaga stabilitas global”.

Dengan menetapkan tenggat waktu yang singkat, Whasington ingin dunia melihat bahwa jika perang meletus setelah sepuluh hari, maka itu sepenuhnya kesalahan Teheran yang “keras kepala”. Pesannya jelas, mereka sudah membuka pintu perdamaian, tapi Iran menutupnya. Ini merupakan taktik mencuci tangan AS di hadapan komunitas global sebelum serangan militer benar-benar dilakukan.

Di sisi lain, Teheran tidak tinggal diam. Melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Iran memainkan narasi “Perlawanan Terhormat”. Baginya, ultimatum tersebut bukan merupakan sebuah diplomasi, melainkan teror dan “intimidasi ilegal” terhadap kedaulatan Negara.

Iran berusaha meyakinkan publik domestik dan sekutu di kawasan –poros perlawanan, bahwa menyerah pada ultimatum sama saja dengan menyerahkan kedaulatan bangsa. Narasi Teheran berfokus pada imperialisme dan ketidakadilan –mereka dituduh mengembangkan nuklir membahayakan, padahal beberapa sekutu AS sudah memilikinya. Dengan framing ketidakadilan inilah Iran mencoba memenangkan simpati dari Negara-negara Global south, Rusia dan China.

Apa yang menarik dari pertunjukkan ini?

Alexander Wendt (1958) sang pencetus teori konstruktivisme dalam karya monumentalnya Anarchy is Whatstates Make of it: The Social Contruction Of Power Politic (1992), menekankan bahwa struktur politik dunia tidak hanya ditentukan oleh jumlah senjata, tapi oleh kekuatan identitas dan kepentingan yang dikonstruksi melalui interaksi. Dalam pandangan Wendt, AS melihat nuklir Iran sebagai ancaman bukan karena jumlah hulu ledaknya, tapi karena “identitas” Iran yang dikonstruksi sebagai musuh. Dalam waktu yang bersamaan, AS tidak merasa terancam oleh nuklir Inggris dan Israel karena identitas mereka dikonstruksi sebagai sekutu terdekat.

Artinya, dalam kacamata realisme, sejatinya kita sedang menyaksikan menifestasi dari diplomasi koersif (coercive diplomacy) yang dilakukan melalui perang narasi canggih. AS sedang mengonstruksi dirinya sebagai “penjaga ketertiban dunia”, sebaliknya Iran membangun identitas dirinya sebagai “simbol perlawanan” terhadap imperialiasme Barat. Inilah realitasnya, Negara adalah aktor rasional yang mengejar kekuasaan dan keamanan. Narasi sepuluh hari yang didengungkan oleh AS adalah upaya Negara menciptakan “daya gentar” terhadap Iran –jika tidak patuh, maka biaya yang didapatkan sangat mahal.

Pertunjukkan narasi ini sangat menarik perhatian dan meningkatkan kewaspadaan internasional. Jika “diplomasi tekanan” AS melalui ultimatum ini gagal, maka akan terjadi konflik terbuka yang lebih besar –merujuk pada saling serang antara AS-Israel dan Iran tahun 2025, yang berdampak pada struktur geopolitik dan ekonomi global.

Perang narasi ini tidak lagi perdebatan di meja Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) atau televisi, melainkan  terpolarisasi melalui media sosial. Video-video latihan militer Garda Revolusi Iran IRGC di selat Hormus disandingkan dengan rekaman B-2 Bomber AS yang disebarkan secara massif menambah panasnya suhu konflik. Tujuannya adalah masing masing saling menjatuhkan mental sebelum peluru pertama ditembakkan. AS berharap rakyat Iran Panik secara ekonomi dan menekan pemerintah, sementara Iran berharap komunitas global mengecam AS sebagai Negara adidaya yang memicu perang duni III.

Siapa Pemenangnya?

Menurut Wendt, siapa pemenang dalam adu kuat narasi tersebut tidak dijawab dengan siapa yang mempunyai kekuatan militer dan hulu ledak tinggi. Pemenang dalam peperangan ini adalah mereka yang secara sempurna membangun konstruksi realitas sosial dan identitas yang diakui oleh komunitas internasional.

Secara defensif, jika Iran mampu mempertahankan identitasnya di bawah tekanan tanpa menjadi “paria” –dikucilkan total, ialah pemenangnya. Artinya, komunitas global secara masif akan melakukan konsolidasi dukungan terhadap Iran, dan melakukan tekanan pada AS untuk menyelesaikan peperangan dengan cara apapun –Iran memenangkan persepsi sebagai Negara yang tidak bisa didikte. 

Namun secara hegemonik, jika Negara-negara –Uni Eropa atau Negara Arab, ikut menekan Iran dalam jendela waktu sepuluh hari tersebut, maka AS memenangkan narasinya sebagai “polisi dunia” –dunia menerima “aturan main” yang dibuat oleh Negara adidaya tersebut. Keberhasilannya memaksa seluruh komunitas internasional dalam membicarakan isu ini dalam waktu yang ia tentukan.

Kendati demikian, Wendt memiliki konsep “Hobbesian Culture” –budaya musuh. Di mana kedua pihak saling menganggap lawan sebagai ancaman eksistensial. Dalam adu narasi sepuluh hari tersebut, keduanya bisa kalah. Pertama, jika tenggat waktu berlalu tanpa solusi diplomatik yang berarti dan hanya memperparah kebencian, maka keduanya sama-sama kalah karean mereka terjebak dalam struktur anarki yang merusak tatanan global –di mana keamanan satu pihak selalu berarti ancaman bagi pihak lain “security dilemma”.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kedua, Wendt menekankan bahwa dalam perang narasi, kemungkinan besar pemenang sejatinya adalah “konflik” itu sendiri. Karena narasi agresif kedua belah pihak justru semakin mengokohkan identitas mereka sebagai “musuh abadi”, yang membuat perdamaian jangka panjang menjadi semakin mustahil untuk dikonstruksi.

Ketiga, jika perang militer benar-benar terjadi, Alexander Wendt tidak akan melihatnya hanya  sebagai tabrakan dua kekuatan fisik –jet tempur vs rudal, melainkan sebagai kegagalan total dalam proses rekonstruksi perdamaian dunia. Artinya perang militer adalah bukti bahwa anarki adalah apa yang dibuat oleh Negara “anarchy is what states make of it”. Dalam kasus ini, AS telah menjatuhkan pilihannya untuk menciptakan ”anarki” yang berdarah, sementara Iran secara otomatis akan membalas dengan cara yang sama. Dan pada akhirnya, pemenangnya adalah “rudal” yang ditembakkan sebagai kata-kata terakhir dari sebuah diplomasi yang gagal.

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.