Ini Biang Kerok “Gaji Numpang Lewat” di 2025

Ilustrasi mengelola keuangan.
Ilustrasi mengelola keuangan.

Dua ribu dua lima menjadi tahun pelajaran penting bagi banyak karyawan atau pekerja dengan penghasilan UMR (Upah Minimum Regional).

Fenomena “gaji numpang lewat”, di mana penghasilan baru diterima, tapi langsung habis dalam hitungan hari, kembali marak diperbincangkan.

Pengalaman tersebut rasa-rasanya juga dialami oleh banyak orang. Sebab, di tengah meningkatnya biaya hidup dan tren konsumsi gaya hidup digital, banyak pekerja merasa terjebak dalam siklus keuangan tanpa bisa menyisakan sebagiannya untuk simpanan atau tabungan.

Terlebih, setelah lonjakan harga kebutuhan pokok dan meningkatnya pengeluaran non-esensial selama setahun terakhir. Namun, kabar baiknya, sejumlah perencana keuangan menilai tren ini sebenarnya bisa diatasi.

Cara termudah adalah, para pekerja disarankan mulai membangun disiplin finansial dan memahami ritme pengeluaran sehari-hari.

Cara individu mengatur uang saat ini cenderung spontan dan rentan sekali tergiur dengan promo, tren hiburan, atau kebutuhan sosial yang cenderung untuk terapi kesehatan mental seperti berlibur atau ‘healing’.

Lalu, olahraga berbiaya mahal seperti tenis, padel, golf, dan menggunakan personal trainer di gym, hingga terlalu sering menghabiskan anggaran untuk menikmati kuliner di café-café kekinian daripada merencanakan keuangan dengan matang sejak awal.

Seorang ahli perencana keuangan, Rista Zwestika, menjelaskan ada banyak strategi sederhana yang bisa diterapkan untuk memutus pola “gaji hilang dalam sekejap”, seperti mengaktifkan tabungan berjangka dengan saldo yang tersedot otomatis, membatasi pengeluaran impulsif, serta menempatkan prioritas ke kebutuhan jangka panjang.

“Upgrade value-nya, perbesar link-nya. Peluang itu datang kalau kita siap,” kata Rista. Para ahli juga menyoroti bahwa 2025 menjadi titik balik karena perubahan gaya hidup masyarakat berlangsung bersamaan dengan menjamurnya event-event hiburan, termasuk konser besar dan festival musik yang menghadirkan banyak artis internasional.

Ia juga menjelaskan bahwa perbaikan kondisi keuangan personal tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi membutuhkan penyesuaian strategi yang sesuai dengan latar belakang tiap individu. Langkah pertama yang perlu menjadi perhatian adalah pengelolaan pendapatan.

“Apa sih yang kita benerin? Contoh, kalau kita punya pendapatan, apakah pakai rumus 50-30-20 atau 50-20-10-10? Itu bisa disesuaikan dengan kondisi klien,” ujar Rista.

Perempuan yang juga merupakan founder dan ceo Finante.id itu juga menyebutkan bahwa faktanya, 80 persen masyarakat Indonesia tidak memiliki dana darurat. Padahal, dana darurat menjadi hal terpenting dalam berkehidupan.

Dana darurat adalah jaring pengaman untuk menjaga stabilitas keuangan pribadi maupun rumah tangga, yang bertujuan untuk memberikan perlindungan finansial dari kejadian tak terduga seperti kehilangan pekerjaan, biaya medis mendadak, atau kerusakan properti agar tabungan utama dan investasi jangka panjang tidak terganggu.

“Sejumlah persoalan dasar, seperti tidak memiliki dana darurat juga masih dialami mayoritas masyarakat Indonesia. Ini yang perlu kita benerin dulu. Dari pendapatan yang ada, kita atur pengeluarannya sehingga klien bisa nabung atau investasi dengan tujuan membuat dana darurat,” tutur Rista.

Soal anggapan bahwa gaji UMR memiliki tabungan adalah hal yang mustahil, Rista menepis hal tersebut. Menurutnya, hal itu berkaitan dengan kebiasaan, bukan seberapa besar pendapatan. Ia mencontohkan beberapa kliennya yang memiliki gaji setara UMR namun tetap mampu menyisihkan uang.

“Strateginya simple. Begitu punya pendapatan, sisihkan dulu 10 persen di awal, kalau pun cuma bisa lima persen pun tidak apa-apa, yang penting menyisihkan, bukan menunggu sisa,” kata Certified Financial Planner yang aktif memberikan edukasi dan konsultasi keuangan.

Rista menambahkan bahwa setelah alokasi tabungan dan investasi dicadangkan di awal, barulah seseorang bisa masuk ke kebutuhan inti, seperti tempat tinggal, makan, transportasi, komunikasi, hingga alokasi untuk orangtua.

Setelah kebutuhan terpenuhi, barulah seseorang dapat memikirkan keinginan, seperti berbelanja, rekreasi, atau rencana liburan. Jika setelah seluruh penghitungan ternyata masih ada kekurangan, langkah selanjutnya adalah mencari peluang dengan meningkatkan kualitas diri untuk memperbaiki kondisi finansial.

Peningkatan kualitas diri kata Duta Literasi Keuangan Syariah tersebut, dapat membuka peluang memperoleh pendapatan tambahan di luar pekerjaan utama. Di era digital, peluang tersebut dikenal sebagai side hustle, yakni pekerjaan sampingan yang bisa dilakukan fleksibel sesuai keahlian dan waktu yang tersedia.

Menurutnya, banyak side hustle yang dapat dimulai tanpa modal besar, seperti jasa desain, keahlian membuat tulisan, fotografi, tutor online, reseller produk, atau keahlian lain yang berbasis hobi.

Dengan kombinasi manajemen keuangan yang baik, perlindungan finansial, dan peluang side hustle, Rista menilai masyarakat dapat membangun ketahanan ekonomi yang lebih kuat di tengah tren gaya hidup yang semakin menuntut. “Yang penting fokus ke solusi, bukan pada keterbatasan. Banyak jalan untuk memperbaiki kondisi keuangan kalau kita mau upgrade diri,” tutup Rista (Ant)