Menhub Dudy Sebut Truk Sumbu Tiga Jadi "Biang Kerok" Kemacetan Horor di Gilimanuk

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi meninjau langsung kondisi arus mudik di Posko Terpadu Gilimanuk, Jembrana, Bali, pada Selasa (17/3/2026) atau H-4 Lebaran Idulfitri 1447 H.
Dalam tinjauan tersebut, Menhub menyoroti ketidakpatuhan operator truk besar sebagai penyebab utama kemacetan panjang di jalur nasional.
Meski pemerintah telah menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) mengenai pembatasan operasional angkutan barang periode 13-29 Maret 2026, faktanya masih banyak truk sumbu tiga ke atas yang melintas di jalur utama Denpasar-Gilimanuk.
Truk Besar Jadi "Biang Kerok" Kemacetan
Menhub Dudy mengakui bahwa kepadatan lalu lintas yang sempat mencapai antrean 22 kilometer disebabkan oleh volume kendaraan besar yang tidak sesuai ekspektasi.
“Saya cukup prihatin bahwa kepadatan ini terjadi. Saya mengimbau kepada para pengusaha angkutan logistik, dengan dikeluarkannya SKB pembatasan operasional diharapkan adanya kepatuhan misalnya menyesuaikan atau menggeser kendaraan truk sumbu tiga dari jalur utama selama Angkutan Lebaran,” ujar Dudy saat dikonfirmasi usai rapat koordinasi lintas instansi.
Ia menegaskan bahwa beroperasinya truk-truk besar tersebut menjadi faktor krusial tersendatnya arus kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk.
"Salah satu penyebab kepadatan yang ada di Gilimanuk karena masih beroperasinya kendaraan truk tersebut," tambahnya.
Data Teknis dan Penanganan Arus Mudik 2026
Sejumlah kendaraan antre memasuki kapal di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (16/3/2026). Pelabuhan Ketapang menerapkan skema Tiba, Bongkar, Berangkat (TBB) untuk mempercepat aliran keluar masuk kendaraan menuju kapal sekaligus mempercepat proses penguraian kepadatan yang terjadi saat arus mudik menjelang Hari Raya Idul Fitri di Pelabuhan Gilimanuk, Bali. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/bar
Untuk mengurai kepadatan, sejumlah langkah darurat telah diambil oleh Kementerian Perhubungan, Korlantas Polri, dan ASDP:- Penyediaan Buffer Zone: Area parkir sementara untuk menampung kendaraan sebelum masuk pelabuhan.
- Pola Kapal TBB: Pemberlakuan pola Tiba Bongkar Berangkat (TBB) untuk mempercepat durasi bongkar muat.
- Armada Kapal: Menyiagakan 55 armada kapal, dengan 35 armada dioperasikan aktif saat situasi padat.
- Hasil Penurunan Antrean: Antrean kendaraan yang sebelumnya mencapai 22 kilometer (km) kini berhasil terurai menjadi 8 km.
- Pengalihan Arus: Truk sumbu tiga ke atas mulai dialihkan dan "dikandangkan" di Terminal Kargo Gilimanuk dan kawasan Timbangan Cekik.
Antisipasi Pemudik Terjebak Hari Raya Nyepi
Selain isu truk, rapat koordinasi tersebut juga membahas potensi pemudik yang terjebak saat penutupan penyeberangan untuk Hari Suci Nyepi pada Kamis (19/3/2026). Menhub menjelaskan bahwa prioritas utama adalah kendaraan penumpang (mobil keluarga) dan bus.
Bagi sopir truk yang kendaraannya tertahan selama Nyepi, pemerintah menyediakan fasilitas khusus.
“Nanti kita akan berangkatkan mereka (sopir) ke Banyuwangi, tanpa biaya. Kita akan siapkan akomodasinya di Banyuwangi hingga nanti dikembalikan lagi (untuk pengambilan kendaraan),” jelas Menhub Dudy.
Kapolres Jembrana, AKBP Kadek Citra Dewi Suparwati, menegaskan bahwa mulai H-4 Lebaran, prioritas utama penyeberangan adalah kendaraan penumpang dan sepeda motor.
“Hari ini, kendaraan yang diutamakan untuk melakukan penyeberangan adalah kendaraan penumpang,” kata AKBP Citra.
Ia meminta kerja sama dari para pengemudi truk yang masih berada di jalur nasional, bahkan yang masih di luar wilayah Jembrana, untuk segera masuk ke kantong parkir yang telah disediakan.
"Mohon kerja samanya untuk memarkirkan kendaraan di Terminal Kargo atau kantong parkir lainnya guna mengantisipasi penumpukan menuju Pelabuhan Gilimanuk," tegasnya.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Bali.com dengan judul BIANG KEROK Macet Horor Parah Jalur Gilimanuk-Denpasar, Menhub Sebut Truk Besar Pemicu, Ini Caranya!
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang