Nasib Venezuela Usai Nicolas Maduro Ditangkap: Gelar Pemilu, Capres “Boneka” AS

Venezuela, cadangan minyak, Nasib Venezuela Usai Nicolas Maduro Ditangkap: Gelar Pemilu, Capres “Boneka” AS

Pakar Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Lukman Fahmi, memprediksi nasib Venezuela setelah Presiden Nicolas Maduro ditangkap.

Penangkapan Maduro dilakukan oleh pasukan elite Delta Force saat Amerika Serikat melancarkan serangan skala besar di ibu kota Venezuela, Caracas pada Sabtu (3/1/2026).

Menurut Lukman, untuk sementara kendali Venezuela akan berada di tangan AS dengan dukungan pihak-pihak yang sejalan dengan kepentingan Washington.

Lukman juga memperkirakan bahwa akan digelar pemilu presiden dengan kandidat yang telah diseleksi oleh AS. 

Pemilu ini bertujuan untuk menghadirkan presiden baru bagi Venezuela pascapenangkapan Maduro.

“Alhasil dengan adanya kondisi ini, memberikan akses lampu hijau kepada AS untuk bisa mengelola cadangan minyak di Venezuela tersebut,” ujar Lukman kepada Kompas.com, Senin (5/1/2026).

PBB Wajib Gelar Sidang Istimewa

Lukman menambahkan, jika dilihat dari perspektif PBB, seharusnya organisasi ini dapat menerapkan piagamnya terkait larangan penggunaan kekuatan bersenjata terhadap negara berdaulat. 

Dengan demikian, tindakan yang dilakukan AS terhadap Venezuela dapat diklaim sebagai pelanggaran. 

PBB pun seharusnya menginisiasi sidang istimewa atau darurat untuk membahas permasalahan pelanggaran kedaulatan ini supaya tidak menjadi preseden buruk di kemudian hari.

“Pelanggaran ini juga seharusnya bisa dianggap PBB sebagai tindakan pelanggaran serius dalam bentuk kejahatan agresi yang bisa dibawa ke mahkamah internasional,” jelas Lukman.

Alasan AS Tangkap Nicolas Maduro

Sementara itu, terkait serangan AS ke Caracas saat Maduro ditangkap, Lukman menilai bahwa Presiden AS Donald Trump tetap memiliki hak memberikan mandat declare of war meski dewan legislatif belum memberikan lampu hijau. 

Bahkan, jika legislatif menolak, sesuai Article 1, Trump masih bisa memveto keputusan tersebut dan tetap melaksanakan deklarasi perang.

Menurut Lukman, keputusan Trump untuk declare of war tidak dilakukan secara mendadak.

Langkah ini didasarkan pada sejumlah pertimbangan, termasuk isu narco-terrorism dan migrasi ilegal yang masuk ke wilayah AS. 

Venezuela dianggap sebagai ancaman di “halaman belakang” AS karena kedua isu tersebut sudah dikategorikan sebagai risiko keamanan nasional, bahkan sejak era Obama.

Menurut Lukman, kedua isu itu sebenarnya menjadi alasan tambahan alias “bumbu penyedap”. 

Isu krusial yang sesungguhnya adalah cadangan minyak AS yang mulai menipis.

Sementara itu, Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. 

“Bahkan di tahun 2019, Hugo Chavez pemimpin Venezuela terdahulu sempat mengklaim bahwa cadangan minyak negaranya masih bisa bertahan hingga 100 tahun ke depan,” ujar Lukman.

“AS juga menilai Venezuela berencana akan menganeksasi Essequibo (Guayana Esequiba). Wilayah ini juga memiliki cadangan minyak besar yang diklaim Venezuela sebagai bagian wilayah nasional Venezuela, meskipun wilayah ini berbahasa inggris,” pungkasnya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang